Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
“Ketika ada kekacauan di negeri ini, kemungkaran, kedzaliman atau ketidakadilan jangan membalasnya dengan kekerasan maupun aksi-aksi destruktif. Kita semua tentu tidak setuju dengan kemungkaran,” ujar Hery dalam Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah pada awal Januari lalu.
Pengajian yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Solo Raya yang diselenggarakan sebelumnya. Pengajian dimaksudkan untuk menguatkan kesadaran masyarakat dan aktivis keagamaan akan pentingnya merawat perdamaian dengan menyerap ‘ibroh (pembelajaran) dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme.
Baca juga Meluruskan Praktik Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Hery menegaskan siapa pun bila menemukan kemungkaran harus merujuk ke hadis yang diriwayatkan Muslim. ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.”
“Untuk mempraktikan amar ma’ruf-nahi mungkar itu ada ilmunya dan tidak bisa sembarangan. Para ulama berpendapat bahwa tidak semua orang mampu melakukan amar ma’ruf-nahi mungkar,” tegasnya.
Hery menambahkan tujuan amar ma’ruf-nahi mungkar adalah untuk mendatangkan kemaslahatan. Menurutnya, jika tidak mendatangkan maslahat maka jangan dilakukan. [AS]
