HomeBeritaMenguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai– Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (Unila) beberapa waktu lalu.

Dalam ruang dialog tersebut, kaum mahasiswa melontarkan ragam gagasan dan pemikiran kritis terkait paham ekstrem yang mengarah pada kekerasan seperti terorisme. Pertanyaan-pertanyaan tajam mengalir, mulai dari cara membentengi diri dari doktrin tersembunyi, peran masyarakat dalam memulihkan korban, hingga perdebatan klasik apakah perdamaian abadi bisa dicapai tanpa pertumpahan darah.

Dudi dan Fauziyah dari Jurusan Hubungan Internasional (HI) Unila menyoroti betapa halusnya doktrin terorisme masuk ke ranah kampus tanpa bisa diidentifikasi secara langsung. Mereka mempertanyakan bagaimana mahasiswa bisa membangun benteng pertahanan diri agar tidak terseret menjadi pelaku teror.

Baca juga: Nalar Kritis Benteng Ekstremisme

Menanggapi hal tersebut, Dr. Dedy Hermawan, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila, menekankan bahwa di era demokrasi, setiap warga negara bebas membaca pemikiran apa pun, mulai dari yang kekirian semacam marxisme hingga pemikiran paling kanan seperti paham yang diajarkan kelompok teroris. Namun, ia menekankan, kebebasan itu harus dibarengi dengan tradisi check and recheck.

“Jangan langsung menelan mentah-mentah suatu pernyataan,” tegas Dedy. Menurutnya, mahasiswa harus membedah paradigma dan logika dasar dari setiap informasi yang masuk. Ruang diskusi dan dialog terbuka, baik antar-mahasiswa maupun dengan dosen, menjadi kunci utama agar pemikiran tidak menjadi eksklusif dan tersesat.

Senada dengan Dedy, Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, menyebut bahwa “jimat” utama mahasiswa adalah nalar kritis. Hasibullah memaparkan adanya kemiripan pola antara gerakan mahasiswa dan kelompok radikal, di mana keduanya sama-sama digerakkan oleh idealisme, solidaritas terhadap kaum tertindas, dan penggunaan istilah-istilah positif.

Baca juga: Pendidikan dan Pentingnya Berpikir Kritis

Ia memisalkan, kelompok teroris menyematkan identitas mujahid bagi tiap anggota mereka. Kata itu sendiri bermakna pejuang. Persis dengan itu, kaum mahasiswa memiliki semangat perjuangan yang tinggi bila dihadapkan pada ketidakadilan. Untuk itu ia menekankan mahasiswa penting menguatkan nalar kritis agar tidak mudah terpengaruh kelompok tak bertanggung jawab.

“Namun, jawaban yang harus dipegang teguh oleh mahasiswa adalah batas konstitusi dan batas kekerasan. Silakan mengikuti kelompok apa pun, tetapi jika gerakan tersebut sudah mengarah pada aksi kekerasan, Anda harus berhenti saat itu juga,” ujar Hasibullah.

Baca juga: “Kita Harus Lebih Kritis dan Tidak Mudah Terpengaruh”

Mahasiswa jurusan HI lainnya, Gresia Amanda, melontarkan sebuah adagium klasik dalam ilmu hubungan internasional: “Si vis pacem, para bellum”—jika mendambakan perdamaian, maka harus siap untuk perang. Ia mencontohkan sejarah Reformasi Indonesia hingga perjuangan gerilya kelompok Hamas di Palestina yang membutuhkan pertumpahan darah sebelum akhirnya dunia tersadar dan membuka ruang dialog. “Apakah perdamaian tanpa kekerasan itu mungkin terjadi?” ia bertanya.

Hasibullah Satrawi menjawab optimis bahwa perdamaian tanpa kekerasan sangat mungkin diwujudkan.

Ia mencontohkan bahwa ciri manusia modern adalah kemampuan mengurangi kekerasan demi mencapai tujuan. Transisi kekuasaan di Indonesia saat ini, yang dilakukan melalui Pemilu berkala, adalah bukti nyata bagaimana pergantian pemimpin bisa berjalan tanpa tetesan darah. Hal ini jauh lebih baik dibandingkan sejarah kelam beberapa negara Timur Tengah seperti Suriah dan Irak. Mahasiswa, menurutnya, memiliki tugas besar untuk menjaga warisan gerakan reformasi ini agar tetap berjalan damai.

Isu pemulihan korban terorisme juga menjadi sorotan tajam. Irda Wahyu, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unila mempertanyakan mengapa pada peristiwa Bom Bali silam, pihak asing justru terkesan lebih cepat membantu korban dibandingkan pemerintah sendiri. Sementara Gilang Ramadan dari jurusan Ilmu Pemerintahan dan Muhammad Kelvin perwakilan jurusan Akuntansi Unila menanyakan peran masyarakat sipil dalam menciptakan suasana aman, serta cara menyikapi munculnya paham ekstrem di lingkungan sekitar.

Baca juga: Menghidupkan Nalar Kritis

Dr. Dedy Hermawan menjelaskan bahwa dalam kajian konflik, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh: sebelum, saat kejadian, dan pemulihan pasca-kejadian. Penanganan ini tidak bisa instan dan hanya mengandalkan jalur hukum, melainkan harus menyentuh akar masalah seperti kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Pemerintah bersama masyarakat sipil, katanya, wajib bahu-membahu dalam proses panjang ini.

Menjawab pertanyaan Irda terkait Bom Bali, Hasibullah meluruskan konteks sejarah. Pada saat itu, aksi teror memang secara spesifik dialamatkan kepada pihak asing, sehingga warga dan pemerintah Australia merasa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk segera membantu. Di sisi lain, regulasi negara kita saat itu memang belum siap.

Hasibullah memetakan dua fase penanganan korban terorisme di Indonesia: fase kegelapan (sebelum 2013) di mana hak korban terabaikan, dan fase pencerahan (setelah 2013). Berkat advokasi yang konsisten, kini negara telah hadir melalui UU No. 5 Tahun 2018 dan peran Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk mengakomodasi kompensasi dan hak-hak korban.

Lebih jauh, AIDA tidak hanya mendampingi korban, tetapi juga merangkul mantan pelaku. Hasibullah menceritakan bahwa banyak pelaku teror mengalami disconnect atau keterputusan logika. Misalnya, melampiaskan kemarahan atas konflik di Palestina dengan cara meledakkan bom di Indonesia. Dengan memberikan pemahaman yang benar dan ruang dialog, mantan pelaku dapat disadarkan kembali untuk bersama-sama merajut perdamaian di tengah masyarakat. [MLM]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...