HomeBeritaMenghidupkan Nalar Kritis

Menghidupkan Nalar Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Ayat-ayat peperangan dalam Al-Qur’an tidak bisa dipahami secara tekstual, melainkan harus dengan mengetahui konteksnya. Tanpa pembacaan yang komprehensif, teks-teks keagamaan terkait peperangan bisa melahirkan ekstremisme kekerasan.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Abdul Mu’thi, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang diselenggarakan AIDA secara daring pada Rabu (17/03/2021). Kegiatan diikuti puluhan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Purwokerto dan sekitarnya.

Baca juga Memahami Terorisme dari Konteks

Dalam pemahaman kelompok ekstrem, orang lain yang dianggap berbeda agamanya boleh diambil hartanya dan darahnya halal ditumpahkan. Pemahaman tersebut diklaim merujuk pada ayat Al-Qurán dan hadis. Padahal teks-teks tersebut muncul terkait dengan kondisi peperangan yang sedang dijalani umat muslim kala itu.

Seorang peserta lantas menanyakan tentang cara membentengi diri dari ekstremisme. Menurut Mu’thi, ketika ada orang yang menyampaikan pendapat tentang urusan agama, maka kita harus membandingkannya dengan  Al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu bisa juga bertanya kepada orang yang berilmu.

Baca juga Imam Prasodjo: Adaptasi Kunci Kemajuan

“Jangan mengambil keputusan sendiri. Fas’alu ahla al-dzikri, tanyakan kepada orang yang lebih mengetahui. Tanya kepada orang-orang yang alim, sehingga tidak menimbulkan kekeliruan,” ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus AIDA, Hasibullah Satrawi, menjelaskan bahwa tujuan besar kelompok ekstremis bersifat politis, yaitu mendirikan negara atau khilafah yang menegakkan syariat Islam secara formal dan total. “Mereka menganggap bahwa NKRI sebagai negara tidak ideal, maka ingin bergerak ke negara yang ideal,” ucapnya.

Baca juga Terorisme Menyengsarakan Korban dan Pelakunya

Dalam hematnya, cita-cita tersebut tidak salah. Namun menjadi persoalan ketika untuk mencapainya dilakukan dengan cara-cara kekerasan, misalnya aksi bom bunuh diri yang diklaim sebagai amaliyat istisyhadiyah (mencari kesyahidan). Aksi-aksi tersebut justru menimbulkan korban-korban tak bersalah. Sementara pelakunya justru meyakininya sebagai jihad.

Oleh karenanya, Hasibullah mengajak mahasiswa untuk mengembangkan nalar kritis sehingga bisa menimbang dampak dari pemahaman tertentu. “Mana yang paling banyak maslahat dan mafsadatnya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya. [FS]

Baca juga Peran Perguruan Tinggi Menangkal Ekstremisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....