HomeBeritaMeretas Jalan Damai di...

Meretas Jalan Damai di Lapas

Peserta dan Tim Perdamaian Berfoto Bersama Usai Kedekatan di Surabaya
Peserta dan Tim Perdamaian Berfoto Bersama Usai Kedekatan di Surabaya. Dok. AIDA

Matanya tampak memerah. Air mata bergulir membasahi pipinya yang tersaput bedak tipis. Suaranya serak namun masih terdengar cukup jelas. Perempuan berjilbab itu mengaku sedih namun salut atas ketegaran jiwa para korban terorisme.

Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman korban. Mereka dapat ikhlas menerima keadaan berat. Saya sendiri pernah mengalami musibah berat ketika bertugas di Lapas (lembaga pemasyarakatan-red), namun ternyata itu belum apa-apa,” ujarnya sambil beberapa kali menyeka air matanya dengan tisu.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh salah satu peserta Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Bagi Petugas Pemasyarakatan Wilayah Jawa Timur di Surabaya, awal Februari lalu. Kegiatan ini hasil kerja sama Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Tiga orang korban terorisme yang hadir membagikan kisahnya dalam kegiatan ini adalah Ni Luh Erniati (penyintas Bom Bali 2002), Nanda Olivia Daniel (penyintas Bom Kuningan 2004), dan Agus Suaersih (penyintas Bom JW Marriott 2003). Dalam penuturannya, Erni, demikian sapaan akrab Erniati, sempat sangat sedih, terpukul, dan marah karena harus menjadi single parent bagi dua buah hatinya saat dia berusia 30 tahun. Suaminya, Gede Badrawan, menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi Bom Bali 2002. “Setengah jiwa saya hilang, yang membuat hidup saya terasa mengambang. Setiap malam saya menangis,” ujar Erni.

Untuk memulihkan kondisi psikisnya, Erni rutin mengikuti program konseling dengan psikiater. Selain itu, ia merintis usaha konveksi bersama sejumlah rekannya sesama janda korban Bom Bali berkat bantuan modal dari seorang dermawan. Erni berupaya untuk berlapang dada menerima kenyataan tersebut. “Saya akan sakit selamanya kalau saya marah. Kalau saya meminta mereka (pelaku teror-red) dihukum berat pun, suami saya juga tak akan kembali. Lebih baik saya memaafkan dan menerima satu sama lain sehingga beban dalam hati hilang,” katanya.
Sementara itu, Nanda dan Agus Suaersih mengisahkan perjuangan mereka menjalani proses penyembuhan fisik dan psikis akibat aksi teror bom di Jakarta. Keduanya menjalani serangkaian operasi untuk memulihkan kondisi fisik.

Peserta dari Lapas Lamongan mengucapkan terima kasih kepada AIDA karena telah membuka tabir hidup korban-korban terorisme. Ia juga meminta maaf kepada para korban karena sebagian saudaranya sesama warga Lamongan terlibat dalam aksi-aksi teror. “Perbuatan saudara-saudara saya telah mengakibatkan Anda semua menderita, menjadikan anak-anak menjadi yatim, saya mohon maaf,” ucapnya.

Seorang peserta lainnya, petugas Lapas Malang, berpandangan bahwa para korban terorisme perlu dihadirkan secara rutin ke dalam Lapas untuk dipertemukan dengan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Kisah korban dapat menjadi alternatif pembinaan WBP

terorisme. “Supaya mereka melihat langsung hasil ‘karyanya’ yang melukai dan membuat menderita saudaranya sendiri, sehingga berpikir ulang jika nanti akan terlibat lagi dengan aksi-aksi kekerasan,” ujarnya.

Tugas Berat Lapas

Pelatihan ini melibatkan 17 orang petugas perwakilan dari 14 Lapas yang menampung WBP terorisme di wilayah Jawa Timur. Direktur Bina Narapidana dan Latihan Kerja Produksi (Binapi Latkerpro) Ditjen Pas Kemenkumham, Ilham Djaya, mengecek langsung masing-masing delegasi Lapas yang hadir.

Dalam sambutannya, Ilham mengungkapkan bahwa kegiatan AIDA menuai apresiasi dari sejumlah lembaga negara. Dalam beberapa forum koordinasi lintas instansi, Ilham kerap menyampaikan pendekatan AIDA yang mempertemukan korban terorisme dengan WBP terorisme.

Secara pribadi, Ilham mengaku salut atas kebesaran hati para korban terorisme karena berkenan membagikan kedukaan dan perjuangan kebangkitannya kepada para petugas Lapas. “Saya harap teman-teman petugas Lapas dapat mengambil pelajaran dari kisah korban,” kata dia.

Menurut Ilham, kecenderungan jumlah WBP terorisme terus meningkat. Saat ini ada ratusan tahanan terorisme yang siap disebarkan ke Lapas-Lapas di Indonesia. “Kita harus mengantisipasinya. Karenanya kegiatan penguatan seperti ini sangat penting,” ucapnya.

Ahli terorisme dari Universitas Indonesia, Solahudin, berpandangan saat ini banyak WBP terorisme yang baru masuk ke Lapas adalah para pendukung kelompok teror Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), dan mereka bersikap tidak kooperatif kepada petugas. Sebelum masuk Lapas, saat berada di Rutan, mereka tidak mendapatkan program deradikalisasi. Tentu ini menjadi tugas berat bagi petugas Lapas. Melihat kondisi Lapas yang seluruhnya overpopulasi dengan jumlah petugas yang tidak sebanding, sebenarnya hampir mustahil mencegah radikalisasi dalam Lapas.

Akan tetapi, jika dicermati, demikian Solahudin menerangkan, setidaknya ada tiga hal yang berperan besar dalam proses radikalisasi di Lapas, yaitu ideologi, logistik, dan proteksi. Karenanya, dibutuhkan tiga strategi kontraradikalisasi yaitu dengan memutus penyebaran ideologi, aliran logistik, dan proteksi dari luar Lapas. [MSY]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...