HomeBeritaMendorong Dakwah Damai di...

Mendorong Dakwah Damai di Serambi Mekah

Suasana Pelatihan Penguatan Pespektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Banda Aceh, Selasa. (13/02/2018)
Dok. AIDA

 

Lantunan Alquran menggema di ruangan Hotel Grand Nanggroe pagi itu. Puluhan hadirin tampak khusyuk menyimak. Sesaat berikutnya shalawat Nabi diperdengarkan. Pembacaan ayat suci dan shalawat tersebut mengawali Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme di Kalangan Tokoh Agama di Banda Aceh pertengahan Februari lalu.

Dalam kegiatan yang diinisiasi AIDA, bekerja sama dengan Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT), tak kurang 30 dai dari berbagai penjuru Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam mengikuti acara dengan antusias. Mereka adalah perwakilan dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta ormas-ormas Islam lainnya yang berbasis di bumi Serambi Mekah.

Sebagian peserta mengaku tertarik mengikuti kegiatan karena ingin mengetahui dampak aksi terorisme pada diri korban. Sebagian yang lain menyatakan bahwa kegiatan tersebut menyuguhkan pengalaman langka bagi para peserta, yaitu berinteraksi dengan korban dan mantan pelaku terorisme secara langsung.

Tiga korban dan seorang mantan pelaku terorisme dihadirkan dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu. Endang Isnanik (korban Bom Bali 2002), Mahanani Prihrahayu (korban Bom JW Marriott 2003), Hairil Islami (korban Bom Thamrin 2016), dan Iswanto (mantan anggota kelompok teroris) berbagi kisah kepada para peserta.

Pada sesi Silaturahmi dengan Korban Terorisme, Mahanani dan Hairil menceritakan pengalaman mereka saat terdampak aksi teror. Hairil mengisahkan saat serangan bom di Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat terjadi, dia sedang hendak beranjak ke kampusnya usai menggarap tugas kuliah di sebuah kedai kopi. Belum sempat pergi tiba-tiba ledakan besar terjadi mengenai Hairil dan para pengunjung kedai.

“Saya ngerasa itu kaya 5 meter dari belakang saya. Ini masih berasa anginnya kalau saya menceritakan, selalu berasa anginnya dari bom itu,” ujarnya mengenang peristiwa. Serangan teror itu menyisakan luka di tangan dan punggungnya.

Sementara itu, Mahanani menceritakan berbagai kesulitan hidup yang dia alami setelah suaminya, Slamet Heriyanto, meninggal dunia menjadi korban serangan bom mobil di Hotel JW Marriott Jakarta pada 5 Agustus 2003. Saat kejadian almarhum Slamet sedang bekerja sebagai petugas keamanan di hotel tersebut. Mahanani terpaksa menjadi orang tua tunggal bagi kedua putranya sepeninggal suami.

Seorang peserta melontarkan pertanyaan kepada Hairil dan Mahanani tentang perasaan mereka bila bertemu dengan orang yang pernah terlibat aksi terorisme. Hairil mengaku telah mengikhlaskan segala kejadian yang menimpanya dan tidak menyimpan dendam kepada mantan pelaku. Sementara itu, Mahanani tampak langsung menitikkan air mata dan tak kuasa menahan isak tangis bila mengingat kekejaman pelaku teror yang telah menghilangkan nyawa suaminya.

Dalam kesempatan terpisah, Endang dan Iswanto berbagi kisah kepada para mubalig peserta pelatihan tentang proses rekonsiliasi yang terbentuk di antara mereka. Keduanya bertemu pertama kali dalam sebuah kegiatan AIDA di Malang, Jawa Timur. Setelah berproses cukup lama, Iswanto meminta maaf kepada korban karena dahulu pernah tergabung dengan jaringan teroris. Endang sendiri yang telah kehilangan suami tercinta, alm. Aris Munandar, akibat Bom Bali 2002 mengaku secara perlahan telah dapat menerima masa lalu itu sebagai ketetapan Tuhan, serta memaafkan mantan pelaku.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra CBE, menyampaikan keynote speech dalam kegiatan. Dia mengapresiasi kerja AIDA yang mengupayakan terjalinnya islah atau rekonsiliasi antara korban dan mantan pelaku terorisme. Rekonsiliasi penting menurutnya untuk menyadarkan masyarakat, khususnya yang berpemikiran ekstrem serta mendukung kekerasan, bahwa aksi-aksi terorisme tidak saja bertentangan dengan hukum positif yang berlaku di suatu negara tetapi juga bertentangan dengan pemahaman Islam yang sebenarnya.

Islam yang benar, menurutnya, sesuai namanya –islam, bermakna damai- mengajarkan dan menganjurkan pemeluknya untuk membumikan perdamaian. Bahkan, Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. “Bukan hanya umat manusia tapi juga binatang dan tumbuhan, bukan juga hanya manusia muslim tetapi juga terhadap nonmuslim,” kata dia.

Para peserta juga mendapatkan materi pengayaan Memahami Jaringan dan Ideologi Kelompok Teroris yang disampaikan oleh pengamat terorisme, Sofyan Tsauri. Dia mengatakan para dai di Aceh perlu memahami doktrin-doktrin yang disebarkan kelompok teroris mengingat wilayah tersebut pernah direncanakan menjadi qaidah aminah atau basis gerakan sebelum akhirnya digagalkan aparat keamanan.

Salah satu doktrin yang paling berbahaya dari kelompok teroris, terutama yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syam, menurut Sofyan adalah takfiri, yaitu menganggap kafir sebagian besar umat Islam di Indonesia karena menerima demokrasi sebagai sistem bernegara.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengharapkan para peserta dapat menyebarkan dakwah yang menumbuhkan perdamaian setelah mengikuti kegiatan. Penuturan kisah korban dan mantan pelaku, kata dia, mengandung banyak pelajaran berharga yang perlu digemakan kepada masyarakat luas. [MLM]

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” Edisi XVI, April 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...