HomeBerita“Karena Saya Masih Ingin...

“Karena Saya Masih Ingin Melihat Mereka”

Ramdani, korban Bom Kuningan 2004, dan Ni Putu Ayu Sila, korban Bom Bali 2002, berbagi kisah dalam kegiatan Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media, di Jakarta (24/1/2018).
Ramdani, korban Bom Kuningan 2004, dan Ni Putu Ayu Sila, korban Bom Bali 2002, berbagi kisah dalam kegiatan Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media, di Jakarta (24/1/2018).

 

Bagi Ramdani, menceritakan peristiwa yang menimpanya 13 tahun lalu adalah bentuk perjuangan tersendiri. Pasalnya, dia perlu mengumpulkan segenap ketegaran untuk menahan kesedihan akibat kejadian di Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan waktu itu. Dia masih ingat betul bagaimana rasanya terguncang ledakan bom yang menyisakan luka di kepala.

Ramdani ialah satu di antara puluhan orang yang selamat dari serangan teror bom di depan Kedutaan Besar Australia atau sering disebut Bom Kuningan 9 September 2004. Saat kejadian dia sedang bertugas membersihkan kaca gedung tempatnya bekerja yang terpaut hanya sekitar 20 meter dari Kedutaan Besar Australia. Tiba-tiba ledakan sangat keras terjadi. Tubuhnya terpental, kepalanya terbentur pintu besi.

Pria paruh baya itu dilarikan ke rumah sakit dan didiagnosa mengalami gegar otak ringan. Meskipun telah menjalani perawatan, dia mengaku sampai saat ini terkadang rasa sakit di kepalanya masih terasa. “Oleh dokter saya nggak boleh mikir sesuatu yang berat, dan kalau beraktivitas di luar ruangan, cuacanya panas, itu kadang kepala saya sakit,” ujarnya.

Ramdani menceritakan kisahnya itu dalam acara Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media di Jakarta pada akhir Januari lalu.Kegiatan tersebut diselenggarakan AIDA untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya mengarusutamakan sudut pandang korban dalam pemberitaan isu terorisme. Sebanyak 21 jurnalis dari 20 media massa mengikuti kegiatan secara aktif.

Ni Putu Ayu Sila Prihana Dewi, korban Bom Bali 12 Oktober 2002, juga menceritakan pengalamannya. Ledakan keras disertai semburan api amat besar melanda ketika dia sedang bekerja sebagai petugas kasir di Sari Club di Jl. Legian, Kuta. Keramaian di tempat kerjanya seketika berubah menjadi kengerian luar biasa.Dengan sisa tenaga yang dimiliki dia melarikan diri bersama temannya.“Waktu jalan saya nggak sadar tangan saya terluka sampai kelihatan tulang, darahnya udah menetes,” kata dia.

Seorang peserta Short Course menanyakan kepada Ayu Sila dan Ramdani tentang apa yang membuat mereka bertahan bahkan bangkit dari penderitaan akibat aksi teror. Keduanya kompak menjawab se-nada bahwa dorongan semangat dari keluarga dan orang-orang terkasih membuat mereka tak menyerah dari musibah.“Karena saya masih ingin melihat mereka (orang-orang terkasih-red),” ucap Ayu Sila lirih.

Dalam kegiatan tersebut AIDA juga menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri atas penyintas dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi.Mereka adalah Tita Apriyantini (penyintas Bom JW Marriott 2003) dan Ali Fauzi (mantan anggota kelompok teroris).Secara bergantian Tita dan Ali berbagi pengalaman hidup kepada para jurnalis peserta Short Course.

Ali menceritakan bagaimana perubahan pola pikirnya dari dunia kekerasan menuju jalan perdamaian terjadi setelah pertemuannya dengan korban terorisme.Saat pertama kali bertemu korban dia mengaku larut dalam kesedihan, tak mampu membayangkan betapa sakitnya penderitaan akibat ledakan bom.

Dia mengaku pengetahuan dan keahliannya merakit bom yang dulu dibanggakan seketika lebur ketika melihat dampak ledakan yang dialami korban.“Mereka adalah pahlawan-pahlawan saya,” kata Ali.

Selain dari korban dan mantan pelaku, para peserta Short Course mendapatkan pengayaan materi dari sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, anggota Dewan Pers, Nezar Patria, pakar jurnalistik dari Universitas Multimedia Nusantara, Hanif Suranto, dan peneliti terorisme Universitas Indonesia, Solahudin.  Dalam pemaparannya, Nezar menekankan kepadapara jurnalis agar menghindaripemberitaan yang berpotensimempromosikan, memberikan legitimasi atau glorifikasi terhadap tindakan terorisme. Hanif mengingatkan para wartawan untuk selalu menyadari fungsi jurnalisme, yaitu tidak sekadar memberitakan fakta tetapi lebih dari itu setiap insan media wajib memahami untuk tujuan apa fakta dilaporkan.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengharapkan dari kegiatan tersebut pemberitaan di media massa yang berperspektif korban dalam isu terorisme meningkat. Dia mengamati liputan berita tentang isu terorisme selama ini lebih banyak menyorot sisi peristiwa, pelaku dan jaringannya.Sudut pandang korban acap kali luput dari perhatian media. Padahal, berdasarkan pengalaman AIDA, korban memiliki potensi besar untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya terorisme.

Selain itu, dia menambahkan, pemberitaan berperspektif korban dapat mendorong pemenuhan hak-hak korban oleh negara. “Dari Bom Bali tahun 2002 sampai aksi bom terakhir seperti di Thamrin atau di Kampung Melayu, bisa dikonfirmasi belum ada satu pun korban yang mendapatkan hak kompensasi,” kata dia. [MLM]

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XVI April 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....