HomeInspirasiAspirasi DamaiMelanjutkan Misi Rasulullah

Melanjutkan Misi Rasulullah

Muhammad Saiful Haq. [dok. pribadi]
Muhammad Saiful Haq. [dok. pribadi]

Oleh: Muhammad Saiful Haq, mahasiswa Pascasarjana UIN Jakarta

“Mereka tahu nggak yang korban itu siapa? Bukannya saudaranya sendiri? Bahkan yang seiman. Jadi nggak masuk alasan dia jihad karena agama. Kalau dia mengaku Islam kan harusnya kita saudara. Kenapa seiman itu harus membunuh, emang di agama diajarkan?”

Demikian Sari Puspita, seorang korban Bom JW Marriott 2003, menyampaikan curahan hatinya dalam sebuah kegiatan untuk mengampanyekan perdamaian yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Yogyakarta pada November 2017.

Kata-katanya mengingatkan kita akan sabda Nabi Muhammad SAW., “Sesungguhnya aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak” (HR. Ahmad, Malik dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad). Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah serta agama yang beliau sebarkan adalah mengajarkan pemeluknya untuk berperilaku baik.

Sabda Rasulullah ini dipertegas dalam Al-Quran.“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya: 107).

Ayat tersebut secara tegas menerangkan bahwa misi Rasulullah adalah menghadirkan rahmat, kasih sayang, bagi seluruh alam beserta penghuninya. Sebagai umat Islam sudah selayaknya kita melanjutkan misi kenabian beliau. Melanjutkan misi perjuangan dakwah Rasulullah SAW. sesuai konteks ayat tersebut menurut hemat penulis adalah menebarkan cinta kasih serta menjaga persaudaraan (ukhuwah).

Penulis melihat, keputusan Sari serta beberapa korban terorisme yang berjuang mengampanyekan perdamaian bersama AIDA tergolong upaya untuk meneruskan misi Rasulullah. Alih-alih membalas dendam kepada pelaku, para korban memilih jalan damai untuk menghentikan aksi-aksi terorisme, yaitu dengan cara menyadarkan masyarakat akan bahaya paham kekerasan. Padahal, dapat dipastikan bahwa para korban mengalami trauma yang luar biasa setelah terdampak aksi terorisme.

Dalam kajian psikologis, di antara cara yang ampuh untuk mengatasi post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah berbagi dengan orang lain serta mengerjakan kegiatan yang membangun. Keputusan Sari dan para korban terorisme untuk membagi kisah dan pengalaman mereka kepada publik secara luas menurut hemat penulis sangat tepat. Dengan langkah itu mereka tidak hanya meringankan tekanan psikologis yang dialami, tetapi juga berkontribusi dalam menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga perdamaian, sekaligus juga mewaspadai adanya ancaman kejahatan terorisme.

Melampiaskan trauma psikologis akibat aksi kekerasan dengan cara melakukan kekerasan yang sama kepada pelaku atau orang lain tidak akan menghilangkan trauma itu sendiri, justru bisa menimbulkan masalah lain, salah satunya membuat yang bersangkutan menjadi permisif terhadap kekerasan. Membalas kekerasan dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.

Kekerasan hanya akan memperbesar masalah. Membagikan pengalaman dan mendialogkannya dengan orang lain adalah jalan yang dipilih Sari dan para korban untuk membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya ekstremisme dan terorisme yang sangat destruktif.

Islam menjunjung tinggi perilaku mengasihi. Tidak hanya terhadap manusia, kepada setiap makhluk bernyawa serta lingkungan pun Islam mengajarkan untuk berkasih sayang. Bahkan, dalam situasi perang sekali pun, Rasulullah SAW. melarang umatnya untuk menyakiti wanita, orang tua, dan anak-anak, serta melarang untuk merusak tanaman dan bangunan tempat ibadah (lihat hadis riwayat Al-Bayhaqi dalam Al-Sunan Al-Kubra hadis nomor 17591).

Hal lain, setiap kesempatan hendak melakukan berbagai aktivitas, Rasulullah menyarankan kita mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Bila kita resapi dengan saksama makna lafaz basmalah tersebut sangatlah dalam, bahwa Tuhan yang kita sembah, Allah SWT., ialah Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kita sebagai hamba-Nya hendaknya senantiasa mengusahakan agar sifat kasih dan sifat sayang Allah dapat terpancar dalam tindakan dan perilaku kita, yaitu mengasihi dan menyayangi orang lain.

Perilaku mengutamakan kasih sayang membuat kita dapat melestarikan persaudaraan (ukhuwah). Tidak hanya terbatas persaudaraan dengan umat muslim (ukhuwah Islamiyah) tetapi juga ukhuwah basyariyah, persaudaraan kita sesama umat manusia, sesama makhluk Allah SWT.

Merefleksikan kembali perjuangan para korban terorisme dalam menyuarakan perdamaian, menurut hemat penulis langkah tersebut merupakan upaya melanjutkan misi Rasulullah, yaitu mengabarkan kepada khalayak bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, cinta dan kasih sayang untuk semesta alam, bahwa Islam tidak pernah mengajarkan terorisme, justru Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...

Menebar Benih Perdamaian di Jepara

Aliansi Indonesia Damai- Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustaz Hery Huzaery menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Muhammadiyah Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah pada Sabtu (17/01/2026). Sebanyak 56 asatidz/asatidzah...