HomeInspirasiAspirasi DamaiBerdamai Dengan Hati Adalah...

Berdamai Dengan Hati Adalah Kunci

Oleh: Aulia Ning Ma’rifati, alumnus Universitan Islam Negeri Syarif (UIN) Hidayatullah, Jakarta

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Manusia diciptakan oleh Allah Swt. dengan segala kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Ia dibekali akal dan hati nurani sehingga memiliki kemampuan mencipta, berkarya, dan merasa, dan dengan segala kemampuan tersebut bisa mengelola berbagai sumber daya yang ada di bumi. Meski wujud akal dan nurani tak kasat mata, namun anugerah tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kelangsungan hidup manusia.

Dengan segala kelebihannya tersebut, tetap saja tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Dalam sebuah riwayat hadis disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

Artinya: Dari Ibnu ‘Abbas Ra. dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku kekeliruan, kealpaan dan apa-apa yang dipaksakan terhadap mereka” (HR. Ibnu Majah No. 2045).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa kodrat setiap manusia adalah tak luput dari silap dan lupa.

Manusia sebagai makhluk sosial tak bisa lepas dari interaksi atau hubungan timbal balik dengan manusia lain. Maka, dalam lingkup sosial itu setiap individu dituntut dapat menjalin kehidupan yang harmoni bersama individu-individu lainnya dalam komunitas atau masyarakat.

Aulia Ning Ma’rifati. Photo: Dok. Pribadi
Aulia Ning Ma’rifati. Photo: Dok. Pribadi

Dari sudut pandang keagamaan, manusia juga dituntut untuk bisa menjaga keseimbangan antara peribadatan vertikal kepada Tuhan (hablun minnallah), dan keharmonisan hubungan secara horizontal kepada sesama manusia (hablun minannas). Kedua hubungan tersebut berkorelasi positif. Menyeimbangkan hablun minallah dan hablun minannas, bermakna bahwa semakin mengenal Tuhan seorang manusia, maka semakin baik interaksinya dengan manusia lain.

Akan tetapi, tidak semua manusia mampu memahami trilogi interaksi manusia-Tuhan-manusia ini secara bijak. Sebagian manusia tak sadar ketika ia hidup berdampingan dengan manusia lainnya, kerap berselisih hingga mengakibatkan konflik dan perang. Bahkan, tak jarang perselisihan antarmanusia itu dilatari karena soal keyakinan kepada Tuhan.

Adu amarah antarmanusia hingga meletupkan konflik dan perang disebabkan salah satunya karena ketidakstabilan hati. Faktor kestabilan hati inilah yang perlu diperhatikan setiap manusia agar keharmonisan hidup bisa lestari.

Dalam hemat penulis, soal menjaga hati, kita dapat belajar dari ketangguhan Ni Luh Erniati, penyintas Bom Bali 2002. Meski bukan korban langsung, wanita yang akrab disapa Erni ini telah kehilangan sosok suami juga ayah bagi kedua anaknya, akibat ledakan bom di kawasan Legian, Kabupaten Badung, Bali pada malam 12 Oktober 2002. Awalnya mungkin Erni marah dan kesal kepada pelaku Bom Bali karena perbuatan keji mereka menghilangkan nyawa tulang punggung keluarganya, serta banyak korban lainnya. Tapi, seiring waktu ia sadar bahwa segala sesuatu yang telah terjadi merupakan garis takdir Tuhan.

Beberapa tahun berlalu Erni menjadi semakin kuat dan mampu berdamai dengan masa lalu. Pada 2015, ia mengikuti kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Tangerang Selatan, Banten. Dalam kegiatan tersebut ia dipertemukan dengan mantan pelaku terorisme yang telah bertobat. Pihak mantan pelaku telah mengakui kekeliruan masa lalunya serta meminta maaf kepada Erni. Sebagai korban, Erni pun telah tulus memaafkan.

Meminta maaf dan saling memaafkan atau sederhananya rekonsiliasi antara korban dan mantan pelaku, muncul dari inisiatif mereka sendiri, bukan atas dorongan apalagi paksaan pihak lain. Permohonan maaf mantan pelaku terorisme adalah murni kesadaran diri dan pengakuan atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Pemaafan dari korban adalah suatu kesadaran penuh yang tidak karena terpaksa atau di bawah tekanan, melainkan sebuah ketulusan hati demi terwujudnya suatu perdamaian.

Erni berpikir bahwa jika ia membalas perbuatan pelaku, itu tidak akan membuat suaminya kembali. Kerasnya hati tidak akan mengubah takdir Tuhan yang sudah terjadi. Justru dengan memaafkan dan menanamkan kedamaian dalam hati, kata Erni, hidupnya menjadi lebih ringan dan membuatnya lebih optimis menghadapi masa depan.

Menurut hemat penulis, mengambil inspirasi dari kisah Erni, kunci utama agar keharmonisan hubungan antarmanusia terwujud adalah berdamai dengan hati. Memaafkan kesalahan orang lain bagi Erni adalah jalan terbaik bagi diri dan anak-anaknya untuk melanjutkan hidup. Erni meyakini bahwa kekerasan tidak harus dibalas dengan kekerasan. Hati yang ikhlas secara perlahan bisa menghilangkan kebencian, meringankan beban, dan membuat pikiran menjadi lebih terbuka.

Hati menempati posisi sentral dalam kehidupan manusia, karena menjadi hakim dalam menentukan berbagai aktivitas. Hati yang sehat dan penuh kedamaian akan mendorong pada aktivitas-aktivitas positif dan bermanfaat. Dari hati yang berpenyakit, akan timbul sikap dan perilaku yang menyimpang dari norma-norma kebaikan dan bersifat merusak tatanan hubungan, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.

Dalam agama, manusia diajarkan untuk mampu mengelola hati, memupuk sifat-sifat positif dan konstruktif di dalamnya, dan meredam potensi-potensi negatif yang bisa merusak. Dari kesuksesan mengatur manajemen hati, manusia akan mampu menjaga kedamaian dan keharmonisan hidup, serta menangkal potensi konflik antarmanusia. Dalam sebuah riwayat hadis, Rasulullah Saw. bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR.  Muslim No. 1599).

 

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...