HomeSuara KorbanSyukur, Kiat Penyintas Berdamai...

Syukur, Kiat Penyintas Berdamai dengan Keadaan

“Di sebelah saya ada beberapa anggota Brimob gosong. Di ruangan itu alhamdulillah cuma saya yang masih bisa bernafas. Alhamdulillah hanya perut saya yang robek sehingga usus saya keluar. Saya bersyukur masih bisa selamat. Ini adalah jalan yang memang dipilihkan Allah untuk saya dan saya yakin itu yang terbaik.”


Syamsi Fahrul, penyintas aksi teror bom di depan Kedutaan Besar Australia 2004

Begitulah penggalan kisah dari Syamsi Fahrul, seorang penyintas aksi teror bom di depan Kedutaan Besar Australia 2004 silam dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bandung sepekan lalu. Syamsi menceritakan kisahnya dengan gaya yang santai, tanpa beban, bahkan dia bisa mengemas ceritanya dengan selingan humor. Ia mampu membawakan kisah dari sebuah tragedi seolah dalam balutan black comedy, renyah dan mengundang tawa para pendengar meskipun sesungguhnya pengalamannya pahit. Kekayaan batin yang dimiliki Syamsi mencerminkan ketangguhannya dalam menyikapi cobaan dalam hidup.

Sebelum peristiwa terjadi, pemuda asal Jakarta ini tak pernah membayangkan akan menjadi korban bom. Ledakan bom terjadi sekitar pukul 10.00 pagi ketika Syamsi sedang bertugas sebagai petugas keamanan di kantor Departemen Pengusaha Kecil Menengah (sekarang Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia). Kantor Syamsi terletak tepat di depan Kedutaan Besar Australia di Jl. HR Rasuna Said Jakarta Selatan. Saat itu dia sedang berjaga di pintu keluar, melakukan pengaturan lalu lintas karena beberapa menit sebelum ledakan mobil menteri keluar dari kantor pemerintah tersebut.

Saat bom meledak, seketika Syamsi tiarap. Serpihan bom menyasar ke tubuhnya hingga perutnya sobek. Dalam kondisi terjatuh dia mencoba merangkak mencari pertolongan sambil menutupi ususnya yang keluar. Ia mengaku beruntung karena salah seorang teman memberikan pertolongan, memapahnya berjalan menuju Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (MMC).

Akibat ledakan itu, Syamsi mengalami luka parah di bagian perut. Di dalam perutnya terdapat material besi dari mobil boks yang meledak. Ususnya terpaksa harus dipotong sepanjang 10 cm. Selama sebulan penuh Syamsi mendapatkan perawatan khusus. Ia harus memakan makanan yang serba lembut karena masalah pada usunya. “Nasi dijus jadi bubur, sayur dijus juga, wah, nggak enak dah pokoknya,” ujarnya.

Penderitaannya tidak berhenti sampai di situ. Tiga bulan setelahnya, Syamsi masih harus melakukan operasi lagi karena luka di perutnya mengalami infeksi. Oleh dokter ususnya kembali dipotong sepanjang 10 cm. Raut muka Syamsi tidak sedikit pun menampakkan kesedihan dan trauma ketika menceritakan hal tersebut. “Ya, awalnya dipotong 10 cm, tiga bulan selanjutnya dipotong lagi 10 cm. Ya, alhamdulillah ada hikmahnya sih sebenarnya, sekarang saya kalau makan jadi cepat kenyang, irit bahan bakar gitu, alhamdulillah jadi hemat,” ujarnya.

Syamsi selalu menyelipkan rasa syukur dengan mengucap alhamdulillah di setiap kisah yang coba ia bagikan meskipun kisah hidupnya sesungguhnya mampu menyayat hati orang-orang yang mendengarnya. Tidak terhitung berapa banyak kata alhamdulillah yang selalu ia selipkan dalam ceritanya. Hal tersebut menunjukkan sosok Syamsi yang selalu bersyukur dengan apa pun yang dia alami. Syamsi adalah satu dari sekian orang yang dianugerahi kelapangan hati yang luar biasa.

Terkait biaya pengobatan, Syamsi mengaku sangat bersyukur karena mendapat bantuan dari Pemerinta Provinsi DKI Jakarta dan pihak Kedutaan Australia. Ia pun sempat ditawari untuk medapatkan perawatan di Singapura akan tetapi pihak keluarga tidak menyetujuinya. “Saya sempat mau dibawa ke Singapura waktu itu, tapi ibu saya menolak. Katanya, kalau saya mati di Singapura, tahlilan-nya susah,” katanya berkelakar.

Setelah menjalani proses pemulihan, tahun 2005 Syamsi mulai kembali masuk kerja. Ia mengatakan ada banyak hikmah dari kejadian yang dialaminya. Meskipun terkena musibah ia merasakan bahwa nikmat yang diberikan kepadanya justru berlipat-lipat. Selain dukungan moral dari atasan dan koleganya, ia juga tetap mendapatkan gaji utuh selama berhalangan bekerja untuk menjalani perawatan. Posisinya juga menjadi lebih baik, tidak lagi ditempatkan di lapangan tetapi dipindahkan masuk ke dalam gedung. Tahun 2007 ia menuruti saran rekan-rekannya untuk melanjutkan kuliah. Selanjutnya di tahun 2009, dia mendapatkan kesempatan lolos seleksi menjadi aparatus sipil negara di Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia.

Meskipun mengaku sempat marah terhadap pelaku aksi pengeboman, seiring berjalannya waktu, Syamsi lebih memilih untuk menerima keadaan dan memaafkan. Ia tidak menyimpan amarah atau pun dendam. “Dulu saya memang marah dan emosi, apalagi waktu itu saya masih muda. Tapi saat ini saya menyadari bahwa mungkin pelaku sebagaimana manusia yang lain, bisa saja salah memilih jalan, salah pengertian terhadap suatu paham,” katanya.

Atas segala kejadian yang menimpanya, Syamsi merasa dirinya justru menjadi manusia yang lebih banyak bersyukur. “Garis jalan hidup manusia telah ditentukan porsinya masing-masing. Kalau kita marah, yang rugi adalah diri kita sendiri. Kita jadi nggak enak menjalani hidup dan nggak ikhlas. Itu kan sudah takdir yang telah ditetapkan. Jangan sampai kita mencela takdir Allah. Kalau Tuhan memberi cobaan saya begitu, ya itulah memang yang dipilihkan kepada saya. Hikmahnya memang saya jadi lebih banyak bersyukur karena di antara korban-korban di UGD hanya saya yang masih hidup hingga sekarang. Saya yakin dengan cobaan ini hidup saya akan lebih baik.”

Ayah dua anak ini juga berharap tidak ada lagi orang-orang yang mengalami masa kelam seperti yang dihadapinya atau korban-korban bom lainnya. Ia menginginkan Indonesia menjadi rumah yang damai untuk semua masyarakatnya. Dalam kegiatan AIDA di Bandung, Syamsi berpesan kepada para mahasiswa yang hadir agar lebih berhati-hati dalam mencari teman dalam pergaulan serta tidak terjerumus terhadap paham-paham esktremisme. [LADW]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery...

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...