HomeBeritaMenjaga Kedamaian Kampus Melalui...

Menjaga Kedamaian Kampus Melalui Film “Tangguh”

“Saya tidak bisa membayangkan rasa kehilangan yang begitu dalam yang mereka rasakan. Saya dibuat terheran-heran, bagaimana korban bom mampu memaafkan pelaku.”

Aliansi Indonesia Damai- Begitulah ungkapan salah satu peserta Diskusi & Bedah Film “Tangguh” yang diselenggarakan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bekerja sama dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Auditorium Fakultas Ilmu Pendidikan Kampus UPI Jl. Setiabudhi Kota Bandung, Kamis (2/5/2019). Film “Tangguh” adalah karya dokumenter AIDA yang menceritakan perjuangan hidup korban setelah terdampak serangan bom, serta pengalaman mantan pelaku bergabung dengan kelompok teroris sebelum akhirnya meninggalkan dunia kekerasan.

Kegiatan yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional tersebut dihadiri oleh 46 mahasiswa UPI dari berbagai jurusan. Saat film diputar peserta tampak emosional dan larut dalam kisah korban. Salah satu kisah dalam film itu adalah tentang seorang anak yang menjalani kehidupan sehari-hari tanpa kasih sayang seorang ibu. Sejak masih berusia lima tahun, ibundanya meninggal dunia setelah dua tahun menderita luka akibat serangan teror Bom Kuningan 9 September 2004 silam.

“Hati saya ikut tersayat ketika mendengar apa yang disampaikan korban. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita sayangi. Dari korban saya mendapatkan pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih ikhlas,” ungkap salah satu peserta dari jurusan Pendidikan Teknologi Agroindustri UPI sesaat setelah menonton film itu.

Film tersebut  juga mengisahkan penderitaan Sudirman A Talib yang menderita cacat mata seumur hidup akibat ledakan Bom Kuningan. Di balik penderitaan itu, Sudirman ternyata tidak menyimpan dendam terhadap pelaku. Ia memilih memaafkan, karena menurutnya dengan memaafkan hidupnya akan terasa lebih ringan.

Film itu juga merekam pengakuan Ali Fauzi, seorang mantan anggota kelompok Jemaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan jaringan teroris Alqaeda. Ali mengisahkan sepak terjangnya sejak awal bergelut dengan gerakan terorisme hingga akhirnya menyadari kekeliruan perjuangan kelompoknya, dan kini aktif menyuarakan perdamaian. “Tangguh” juga mengabadikan bagaimana ia meminta maaf kepada para korban, serta penyesalannya bahwa masa lalunya adalah kesalahan besar yang tidak saja merugikan dirinya sendiri, tetapi juga berdampak buruk terhadap banyak pihak.

Salah seorang peserta mengaku mendapatkan pembelajaran berharga dari pengalaman hidup korban dan mantan pelaku. Ia menilai bahwa orang yang pernah melakukan perbuatan buruk di masa lalu, boleh jadi akan sadar dari kekeliruan perbuatannya berkat ketulusan hati para korbannya yang bersedia memaafkan. “Dari kisah pelaku saya belajar bahwa pemaafan yang dilakukan oleh korban membawa dampak bagi mereka untuk benar-benar bertobat dan keluar dari ekstremisme,” ungkap seorang mahasiswa UPI jurusan Pendidikan Ekonomi.

Foto bersama setelah sesi Diskusi dan Bedah Film Tangguh di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung,  Kamis (2/5/2019)
Foto bersama setelah sesi Diskusi dan Bedah Film Tangguh di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Kamis (2/5/2019)

Pesan penting yang ingin disampaikan dalam Film “Tangguh” adalah proses rekonsiliasi  antara korban dan mantan pelaku terorisme demi terwujudnya perdamaian. Melalui kegiatan ini diharapkan generasi terpelajar bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga perdamaian, terutama di lingkungan kampus. [LADW]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...