HomeBeritaKorban Teror di Christchurch...

Korban Teror di Christchurch Sebut Haji Bantu Pulihkan Luka

Aliansi Indonesia Damai – Sebanyak 200 orang yang terdampak aksi teror penembakan di Christchurch diundang Raja Arab Saudi untuk pergi ke Mekah guna melakukan ibadah haji tahun ini. Seorang korban bernama Temel Atacocugu -yang selamat setelah tertembak 9 peluru dalam serangan di Masjid Al Noor Christchurch- menyambut positif undangan Raja Salman bin Abdulaziz. Ia meyakini bahwa beribadah haji bisa membantu penyembuhan lukanya.

Temel mengatakan, ia akan berangkat haji ditemani seorang kemenakannya. Berziarah ke Tanah Suci ia yakini bisa membantu pemulihan fisiknya yang meskipun berjalan lambat namun stabil. “Pergi berhaji akan membantu saya secara spiritual dan mental,” katanya seperti dikutip Stuff.co.nz.

Sebelumnya, pekan lalu pemerintah Arab Saudi memberikan pernyataan akan membiayai perjalanan haji para korban atau keluarga korban serangan teror di Christchurch, Selandia Baru. Dilansir dari kantor berita Saudi Press Agency, Menteri Agama, Sheikh Abdullatif bin Abdulaziz Al-Asheikh, mengatakan bahwa menjamu keluarga-keluarga tersebut adalah bagian dari upaya negaranya untuk menghadapi dan mengalahkan terorisme dalam segala bentuknya.

Undangan haji ini sangat disyukuri Temel. Ia belum pernah ke Mekah sebelumnya, dan sudah lama bercita-cita menjalankan ibadah haji. Biaya sekitar 15 ribu dolar yang diperlukan untuk berhaji dari Selandia Baru, bagi banyak warga bukanlah jumlah yang sedikit.

Temel ialah satu dari puluhan orang yang menjadi korban penembakan brutal di dua masjid di kota Christchurch pada Jumat (15/3) lalu. Sebanyak 50 orang tewas, sementara 49 lainnya terluka akibat aksi teror yang dilakukan seorang ekstremis sayap kanan.

Mantan tentara dari Turki ini tak menyangka perantauannya ke Selandia Baru untuk membuka bisnis kebab bersama temannya harus menghadapi teror yang mengerikan. Sembilan peluru bersarang di tubuhnya akibat tembakan membabi buta pelaku.

Berbicara kepada stuff.co.nz, Temel dengan berat hati menceritakan kronologi peristiwa yang menimpanya. Pada hari kejadian, dia berangkat ke Masjid Al Noor, Christchurch untuk ibadah salat Jumat.

Saat Temel sedang berdiri di dalam masjid pelaku datang dengan menenteng senjata, lalu langsung melepaskan tembakan membabi buta ke arah jemaah. Imigran asal Turki melihat secara langsung pelaku mengarahkan senjatanya ke kepalanya.

Temel Atacocugu

Tembakan pertama meleset, hampir mengenai dahi Tamel. Tembakan kedua mengenai mulut dan pelurunya bersarang di rahangnya. “Saya beruntung pelurunya mengenai mulut. Bisa saja peluru itu mengenai dahi saya,” ungkapnya.

Sesaat kemudian, Temel berlari menjauh namun pelaku tak membiarkannya lolos. Tiga tembakan mengenai kaki Tamel. Seketika dia terjatuh. 

Tak menyerah, Temel berusaha bersembunyi di bawah tubuh korban yang sudah tergeletak. Ternyata, pelaku mendekatinya dan melesakkan 3 peluru ke lengan kirinya.

Temel memejamkan matanya pura-pura meninggal. Dia berharap pelaku terkelabui dan pergi meninggalkan masjid.  

Saat memejamkan mata itu Temel mendengar jelas suara lirih tangisan korban lain di sekelilingnya. Namun, satu persatu mulai tak terdengar suaranya. Dalam hati ia berpikir, mereka sudah meninggal. 

Dalam situasi tak berdaya itu perasaan takut berkecamuk di dalam hati Temel. Di satu sisi, dia ingin  menolong orang-orang, namun di sisi lain ia sadar bahwa itu tak mungkin lantaran situasinya masih mencekam. 

Beruntung, setelah Temel memejamkan mata beberapa menit, penembakan berhenti. Ke mana perginya pelaku, ia tidak tahu. Yang terjadi kemudian banyak aparat kepolisian datang dan membawa korban ke rumah sakit, termasuk dirinya.

Setelah kejadian nahas itu Temel dirawat dirumah sakit selama sebulan. Pada 16 April 2019 dia diperbolehkan pulang.

Akibat tembakan yang diterimanya, lengan kiri Temel tidak bisa digerakkan dengan sempurna karena otot sarafnya rusak. Dia mengalami trauma berat yang mengharuskannya menjalani konseling ke psikolog sampai sekarang.

Temel merasa beruntung nyawanya masih selamat. ”Saya yakin Allah telah menyelamatkan hidup saya,” tuturnya.Meski terluka dan trauma, Temel tidak dendam terhadap pelaku, bahkan sudah memaafkan. Dia menyadari manusia tidak ada yang sempurna. “Saya memafkan kesalahannya, saya percaya setiap manusia pasti pernah berbuat salah,” katanya. [TH]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....