HomeBeritaAS Perpanjang Kompensasi Korban...

AS Perpanjang Kompensasi Korban 9/11

Aliansi Indonesia Damai – Suatu kebijakan tentang kompensasi korban 9/11 oleh Senat dan Pemerintah Amerika Serikat (AS) patut dijadikan contoh oleh pemerintah Indonesia. Pasalnya, para penerima kompensasi tidak saja mencakup mereka yang menjadi korban langsung (meninggal dan luka-luka), melainkan juga mereka yang disebut sebagai  first responders, yaitu orang-orang yang terlibat penyelamatan para korban, yang mengalami komplikasi kesehatan sebagai akibat tidak langsung dari serangan 9/11.

Pekan lalu (23/7), Senat Amerika Serikat (AS) telah menyetujui rancangan undang-undang (RUU) tentang perpanjangan kompensasi untuk korban Tragedi 9/11. Dalam pemungutan suara pekan lalu, 97 suara setuju (berbanding 2 suara menolak dari anggota senat) meloloskan regulasi yang melindungi para pihak yang terdampak serangan teror 11 September 2001 di New York, Pentagon, dan Shanksville, Pennsylvania. 

Dari regulasi baru tersebut, anggaran kompensasi bagi korban 9/11 mengalami penambahan USD 10,2 miliar untuk sepuluh tahun ke depan, kemudian akan terus diperpanjang hingga tahun 2092 agar bisa menjamin kehidupan 190.000 penyintas di seluruh Amerika. Proposal pengajuan yang sudah disepakati oleh Senat tersebut telah ditandatangani Presiden Donald Trump pada Senin (29/7).

Kebijakan AS tentang Kompensasi

Sebelumnya AS membuat kebijakan tentang kompensasi untuk penyintas segera setelah serangan teroris 9/11 terjadi. Pada tahun 2001, AS membentuk Victim Compensation Fund (VCF) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam menangani pemberian kompensasi kepada korban atau ahli warisnya.

VCF telah memberikan kompensasi untuk 5.560 korban dari tahun 2001 hingga 2004 . Sebanyak 2.880 penerima dari 2.963 klaim kematian mendapatkan kompensasi dengan nilai rata-rata sebesar USD 2.08.128 hingga USD 7,1 juta. Sedangkan 2.680 korban terluka dari 4.445 klaim mendapatkan kompensasi sebesar USD 500 hingga USD 8,6 juta.

Melihat perkembangan dan munculnya korban baru yang terdampak tidak langsung dari aksi terorisme 9/11 tersebut, RUU kompensasi untuk para korban dan first responders kembali diajukan  pada tahun 2006. Usulan tersebut muncul setelah terkuak fakta bahwa banyak dari mereka yang mengalami sakit parah pascakejadian teror. 

Hal ini pertama kali diketahui dan disampaikan ke publik setelah otoritas AS yang melakukan autopsi terhadap jasad James Zadroga, polisi yang bertugas dalam evakuasi serangan 9/11. Zadroga meninggal setelah menderita gangguan pernapasan kronis. Hasil autopsi menunjukkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh paparan partikel kimia berbahaya ketika ia melakukan evakuasi di sekitar runtuhan gedung WTC. Fakta tersebut juga diperkuat dengan pernyataan Kementerian Lingkungan AS yang menyatakan bahwa kualitas udara di Manhattan menjadi lebih rendah setelah serangan terjadi, sedangkan banyak pekerja tidak menggunakan respirator ketika melakukan evakuasi di tumpukan puing-puing bangunan. Namun, RUU ini gagal untuk disahkan.

RUU kembali diajukan pada tahun 2010 dan berhasil ditandatangani oleh Presiden Barack Obama pada Januari 2011. RUU tersebut kemudian dikenal dengan nama James Zadroga 9/11 Health and Compensation Act. Penandatanganan tersebut sekaligus mengaktifkan kembali VCF untuk menangani kasus penyintas yang mengalami gangguan kesehatan setelah kejadian 9/11 dengan rencana pendanaan hingga Desember 2020. Namun, adanya lonjakan klaim akhir-akhir ini menyebabkan alokasi dana sebesar USD 7,4 miliar semakin cepat habis sehingga ditakutkan tidak akan mampu menutupi kebutuhan korban di tahun-tahun selanjutnya.

Hingga awal tahun 2019, pemerintah AS melalui VCF telah memberikan kompensasi sebanyak USD 5 miliar bagi 21.000 korban. Namun, masih ada 190.000 korban lain yang harus dipenuhi. Akibatnya, pembayaran kompensasi terhadap korban dan keluarga terdampak akan mengalami pengurangan hingga 70%, jika mereka melakukan klaim setelah 2 Februari 2019.

Jon Stewart, berbicara atas nama para korban serangan teror 9/11
dalam konferensi pers di Capitol, Washington

Perjuangan Penyintas AS

Akibat dana yang terus berkurang dan adanya pemotongan kompensasi, banyak penyintas datang ke Kongres untuk memohon perpanjangan pendanaan. Pada Juni 2019, Jon Stewart, orang yang selalu memperjuangkan hak penyintas 9/11 duduk bersama first responder bernama Luis Alvarez dalam dengar pendapat tingkat tinggi untuk perpanjangan pendanaan. Dua minggu setelah memberikan pernyataan, Alvarez meninggal akibat kanker yang disinyalir disebabkan oleh zat beracun yang tanpa sadar ia hirup selama 3 bulan di sekitar gedung WTC. Hingga akhir tahun diperkirakan akan ada lebih banyak korban meninggal karena terpapar racun setelah serangan dibandingkan dengan korban langsung akibat serangan itu sendiri.

Dilansir New York Post, nama Luis Alvarez akan digunakan dalam kompensasi kesehatan untuk penyintas 9/11, bersamaan dengan nama Ray Pfeifer dan James Zadroga. Sebagaimana diungkapkan oleh Senator Kristen Gillibrand, “Luis Alvarez, Ray Pfeifer dan James Zadroga adalah pahlawan 9/11 yang mengabdikan hidupnya untuk membantu yang lain, dan sudah selayaknya bahwa undang-undang ini dinamai (atas nama mereka) untuk menghormatinya.”

Ray Pfeifer merupakan petugas pemadam kebakaran yang menghabiskan satu minggu penuh bermalam dalam mobil pemadam kebakaran setelah serangan, dan melakukan penggalian evakuasi di bawah Twin Towers selama 8 bulan. Pfeifer meninggal pada Mei 2017 setelah berjuang melawan kanker selama 8 tahun. Kanker tersebut diyakini merupakan dampak dari kegiatan evakuasi pascaserangan 9/11. Perjuangan mereka tidak sia-sia, UU tentang Kesehatan dan Kompensasi bagi korban dan first responders telah ditandatangani oleh Presiden Trump. [WR]

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di ...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI),...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...