HomeInspirasiSuara Mantan Pelaku“Kasih Sayang Orang Tua...

“Kasih Sayang Orang Tua Mengalahkan Itu Semua”

Sebesar dan sekuat apa pun sebuah doktrin menguasai kita, pasti kasih sayang orang tua bisa mengalahkan itu semua.

Aliansi Indonesia Damai– Pernyataan tersebut dituturkan oleh Choirul Ihwan. Bukan tanpa alasan, bertahun-tahun ia pernah tergabung dengan kelompok teroris, sebelum akhirnya meragukan doktrin-doktrin yang diajarkan kelompoknya sendiri, dan kini meniti jalan perdamaian. Perjuangannya untuk bebas dari dunia kekerasan menuju kehidupan yang damai, ia tempuh berkat dukungan dan kasih sayang keluarga.

Choirul dilahirkan 38 tahun lalu di Madiun, Jawa Timur dari keluarga yang moderat, tidak sedikit pun menganut paham keagamaan yang ekstrem. Orang tuanya merupakan tokoh agama di kampungnya yang secara rutin mengampu majelis pengajian para warga kampung.

Jiwa muda dan semangat keagamaan yang kuat mendorongnya untuk gigih mempelajari agama. Namun sayang, sebab pertemanan yang salah, ia terjerumus ke dalam kelompok ekstremis.

Pertama kali benih ekstremisme muncul dalam pemikiran Choirul ketika ia bertemu salah seorang teman sekolahnya di sebuah SMK di Madiun. Ia sering diajak oleh temannya itu untuk mendiskusikan buku-buku atau topik-topik keislaman. Ia pun acap kali diajak untuk bergabung dalam liqa’, forum kajian rutin khusus di lingkaran temannya. Dari kelompok itu, ia mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan rasa persaudaraan yang kuat, yang tidak ia rasakan saat bersama keluarganya. Bahkan, teman-temannya dalam kelompok tersebut senantiasa membantu ketika ia memiliki masalah, layaknya keluarga dekat.

Baca juga Lika-liku dan Titik Balik Mantan Pelaku Terorisme Menuju Pertobatan

Beberapa tahun kemudian, Choirul merasa tidak nyaman bersama kelompok ini. Pasalnya, kelompok ini masih menerima demokrasi sebagai sistem bernegara yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ia kemudian memilih bergabung dengan sebuah kelompok yang memperjuangkan penegakan khilafah, yang ia anggap sebagai jalan perjuangan Islam yang sesungguhnya. Namun demikian, setelah sekitar setahun bergabung, lagi-lagi ia tidak menemukan kepuasan dengan kelompok pro-khilafah tersebut. Ia cukup kecewa terhadap kelompok ini lantaran kurang memiliki misi yang jelas dan terukur untuk mencapai visi tegaknya khilafah.

Tak lama setelah itu, ia meninggalkan kelompok pengusung khilafah dan bergabung dengan kelompok yang menekankan jihad. Choirul berharap melalui kelompok ini ia bisa menyalurkan perjuangan dakwahnya, dan menggapai cita-cita untuk berjihad di jalan Allah, dalam arti berperang. Meskipun demikian, ternyata setelah cukup lama bergabung dengan kelompok ini, ia tak kunjung ditugaskan untuk berperang. Untuk kesekian kali ia pun tidak puas dengan kelompok barunya.

Setelah berganti-ganti kelompok, cita-citanya untuk berperang menemukan titik terang ketika ia menjalin pertemanan dengan seseorang melalui media sosial pada tahun 2008. Dari pertemanan itu ia diajak untuk bergabung dengan kelompok ekstrem bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM).

Di kelompok inilah Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem. Lantaran demokrasi ia anggap sebagai kesyirikan, setiap yang terlibat dengannya ia pandang berada di luar Islam. Orang di Indonesia ini, dari Presiden sebagai kepala negara sampai warga biasa yang memegang kartu tanda penduduk (KTP), ia anggap berada dalam kekafiran.

Puncaknya, ia mengumpulkan saudara-saudaranya kemudian menjatuhkan vonis kafir kepada mereka. Ia lantas memutuskan untuk meninggalkan rumah demi berjuang bersama kelompoknya, atas nama jihad.

Kiprahnya di dunia kekerasan berlanjut. Choirul melaksanakan perintah kelompoknya untuk mengikuti pelatihan militer di Pegunungan Janto Aceh yang diselenggarakan oleh sejumlah kelompok teroris. Pelatihan tersebut tidak berlangsung sukses karena sudah diketahui aparat keamanan dan akhirnya dibubarkan.

Gagal mengikuti pelatihan militer di Aceh, Choirul kemudian pergi ke Sulawesi Barat untuk bergabung dengan jaringan ekstremis di Mamuju. Ia hidup dengan sembunyi-sembunyi di hutan dan pegunungan. Saat berada di Sulawesi itulah terjadi pergulatan pikiran dalam dirinya. Ia bermimpi didatangi ibunya. Awalnya ia merasa itu hanya kebetulan saja. Namun, tanpa ia duga mimpi yang sama terjadi selama tiga hari berturut-turut.

Baca juga Kasih Ibu Selamatkan Mantan Pelaku

Setelah tiga malam mimpi bertemu ibunda itu datang, Choirul mencoba untuk turun ke kota dengan niatan menghubungi keluarganya di Madiun. Sungguh sayang, nasi telah menjadi bubur, panggilan teleponnya diterima oleh kakaknya yang mengabarkan bahwa sang ibu telah tiada beberapa jam sebelumnya.

Mendengar kabar itu, Choirul menangis dan merasakan kesedihan yang begitu dalam. Ia merasa belum memberikan suatu hal yang terbaik bagi sang bunda. Namun, penyesalannya itu semua terlambat.

Selepas dari petualangannya di Sulawesi, Choirul sempat berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghindari kejaran aparat keamanan. Ia sempat membuka usaha bengkel, dan menerima pesanan pembuatan senjata api.

Sepak terjangnya di dunia ekstremisme terhenti ketika pada tahun 2013 ia ditangkap aparat keamanan di Bekasi, Jawa Barat. Dalam persidangan, ia terbukti melanggar Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Ia divonis hukuman penjara selama 4 tahun.

Di balik jeruji, ia mulai merenungi setahap demi setahap jejak langkah pergerakan dan pemikirannya.Tak luput dari perenungannya adalah pemahaman keagamaannya yang sangat keras, sangat mudah menganggap orang sebagai kafir. Ia bertanya-tanya mengapa sikapnya dalam beragama mirip seperti kelompok Khawarij, segelintir umat muslim yang menuduh para sahabat Nabi telah keluar dari Islam hanya karena urusan politik. Ia mulai berpikir kritis dan mendalami referensi keislaman lain di luar pemahaman kelompoknya.

Hal yang paling menggugah batinnya adalah ketika ia dipertemukan dengan salah seorang korban terorisme. Ia kaget saat mendapat kunjungan dari Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bersama seorang korban aksi teror bom di Hotel JW Marriott Jakarta yang terjadi tahun 2003. Ia takjub saat mengetahui korban telah memaafkan pelaku terorisme seperti dirinya. Nurani tak pernah bohong, ia kemudian sadar bahwa kekerasan terorisme telah melukai bahkan membunuh korban-korban tak bersalah.

“Saya merasa begitu kerdil di hadapan orang yang besar,”

Melalui kisah korban, muncul sebuah pertanyaan dalam benak Choirul, “Bagaimana mungkin orang yang menderita sebegitu besar, dengan mudahnya memaafkan kami?” Ia menilai keluasan hati korban sangat luar biasa dan mampu menggugah kesadaran orang-orang yang pernah berpemahaman keras sepertinya. “Saya merasa begitu kerdil di hadapan orang yang besar,” ujarnya.

Air mata pun mengalir di tengah-tengah lekukan pipinya. Dengan kerendahan hati ia meminta maaf kepada para korban dengan setulus-tulusnya.

Selepas dari hukuman, Choirul mantap untuk tidak kembali ke dunia terorisme, bahkan memutuskan untuk membina kehidupan yang damai. Ia kini terlibat aktif dalam berbagai kegiatan untuk mengampanyekan perdamaian di masyarakat bersama AIDA dan penyintas terorisme. Ia mengaku senang bila pengalamannya bisa berguna untuk mencegah orang terlibat dengan kelompok kekerasan.

Ia mengambil banyak pelajaran dari berbagai hal yang dilaluinya. Menurutnya, ibundanya yang datang melalui mimpi untuk menyadarkan adalah buah dari kecintaan orang tua terhadap buah hatinya. Ia sampai pada kesimpulan bahwa begitu berharganya kasih sayang keluarga dalam kehidupan setiap insan. Bahkan, sekali pun doktrin kekerasan pernah mengakar kuat dalam pribadi Choirul, namun kecintaan orang tua sungguh mampu mengalahkannya. [NOV]

Disarikan dari penuturan Choirul Ihwan dalam sebuah kegiatan AIDA di Depok, 25 Juli 2019.

Baca juga Jalan Panjang Mantan Kombatan Menuju Perdamaian

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....