Home Inspirasi Suara Mantan Pelaku Jalan Panjang Mantan Kombatan Menuju Perdamaian
Suara Mantan Pelaku - 08/08/2019

Jalan Panjang Mantan Kombatan Menuju Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Kisah pertobatan seseorang dari ideologi ekstrem tidak selalu bermula dari kesadaran akan pahamnya yang keliru. Pertobatan pelaku terorisme bisa datang dari kisah korban yang menderita seumur hidup akibat ledakan bom. Kisah korban dengan segala keterbatasannya, termasuk harus kehilangan sebagian anggota tubuh, bahkan nyawa sekalipun, telah menginspirasi sejumlah kombatan dan pelaku terorisme untuk bertobat dan meninggalkan kelompok ekstrem. Iswanto salah satunya.

Mantan kombatan yang pernah terlibat konflik kekerasan bersenjata di Maluku dan Sulawesi Tengah tersebut mengaku menyesal teramat mendalam setelah mengetahui kondisi korban aksi terorisme. Para korban tidak tahu-menahu persoalan yang disasar teroris, namun harus menderita terdampak aksi kekerasan. Tertembus serpihan bom, mengalami luka bakar, kehilangan anggota tubuh hingga menjadi cacat atau minimal tidak dapat beraktivitas normal seperti sedia kala, adalah di antara dampak aksi teror yang harus diderita korban. Meskipun demikian, bagi sebagian korban, kenyataan itu adalah takdir yang tak bisa dihindari, karena itu mereka bangkit dan menerima keadaan.

Melihat ketabahan korban sungguh tamparan bagi Iswanto yang pernah bergabung dengan kelompok teroris. ”Bagaimana jika itu terjadi pada keluarga saya?” ungkap Iswanto menyadari begitu mengerikannya dampak terorisme.

Baca juga Lika-liku dan Titik Balik Mantan Pelaku Terorisme Menuju Pertobatan

Bertemu korban dan mendengarkan kisah mereka membuat Iswanto benar-benar sadar bahwa kekerasan ekstrem sesungguhnya amat keji karena merampas kesempurnaan tubuh dan hidup setiap korbannya. Korban-korban yang pernah ia temui ada yang harus kehilangan kedua kakinya sehingga menggunakan kaki palsu. Sebelum benar-benar bisa menggunakan kaki besi tersebut, ia jatuh bangun berbulan-bulan untuk berlatih keseimbangan. Dari kisah korban, Iswanto semakin yakin bahwa tindakan terorisme adalah perbuatan salah dan melukai kemanusiaan. Korban lainnya harus kehilangan penglihatan, dan sebagian yang lain harus menyandang status janda atau duda karena pasangannya terenggut nyawanya akibat aksi teror.

Saat berbagi kisah hidupnya dalam sebuah kegiatan AIDA di Malang pada Maret lalu, Iswanto menceritakan bahwa semasa muda ia tergolong remaja desa yang giat dalam kajian keagamaan. Ia menimba ilmu agama cukup lama, tepatnya di sebuah pesantren di Kecamatan Solokuro, Lamongan dari 1992 hingga 1996. Di sana Iswanto muda mendapatkan doktrin-doktrin yang mengarah pada kekerasan, seperti pelajaran jihad yang terus-menerus diajarkan sebagai tindakan perang. Dalam pandangan Iswanto ketika itu, jihad adalah perang.

Karena itu, setelah lulus dari pesantren ini, Iswanto berbaiat kepada Jemaah Islamiyah (JI) pada tahun 1997. Organisasi ini dikenal berafiliasi dengan Al-Qaeda, kelompok teroris terbesar di Timur Tengah pada zaman itu. Pada tahun 1999, Iswanto menemukan momentum untuk terlibat dalam jihad karena pada saat itu, terjadi konflik komunal di wilayah Poso, Sulawesi Tengah. Beberapa bulan kemudian ia berpindah ke Ambon, Maluku untuk terlibat dalam konflik serupa.

Iswanto dalam sebuah kegiatan kampanye perdamaian AIDA di sebuah sekolah di Ambon pada 2016.

Setelah beberapa waktu bergelut di wilayah konflik, Iswanto mendapatkan panggilan dari pimpinannya untuk pulang ke Lamongan, dan menikah, tepatnya pada tanggal 16 Agustus 2002, dua bulan sebelum tragedi Bom Bali. Para pimpinannya memberikan sebuah kado pernikahan berupa sekotak amunisi. Iswanto menganggap hadiah itu adalah isyarat agar ia tidak lupa berjihad, yang ia maknai sebagai perang. Semangat jihad pun menggelora kembali di dalam jiwanya. Namun demikian, setelah tragedi Bom Bali meletup, terjadi pergolakan batin dalam dirinya. Ia menyaksikan satu persatu pimpinan dan anggota jaringannya ditangkap aparat keamanan dengan tuduhan pasal terorisme.

Iswanto makin gelisah karena dua tahun setelahnya ia menerima surat dari salah satu pelaku Bom Bali 2002, Ali Imron, untuk tidak melanjutkan tindakan kekerasan. Meskipun demikian, ia bimbang karena di saat yang sama ia juga mendapatkan perintah dari Amrozi, salah seorang terpidana mati Bom Bali 2002, untuk tidak kendor melakukan jihad. Iswanto gundah dan bingung harus memilih perintah yang mana, sebab kedua guru itu begitu dipatuhinya. Namun pada akhirnya, di tengah kegalauan itu, ia memilih melanjutkan perjalanan intelektual dengan bersekolah.

Di usianya yang sudah kepala tiga pada waktu itu, ia mengikuti Kejar Paket C, ujian kesetaraan untuk mendapatkan ijazah setara sekolah menengah atas (SMA). Meskipun terbilang tua, ia tidak malu demi pendidikan. Setelah lulus, Iswanto melanjutkan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Budi Utomo Malang, dengan mengambil jurusan Sastra Indonesia. Ia juga mendapatkan beasiswa S2 di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.

Baca juga Dulu Kombatan, Kini Pendidik

Selaras dengan aktivitasnya melanjutkan pendidikannya yang sempat terbengkalai lantaran terlibat di dunia kekerasan, Iswanto mempelajari kembali ajaran-ajaran agama. Ia sampai pada kesimpulan bahwa jihad memiliki pengertian yang amat luas, tidak hanya perang. Bahkan, ia kemudian memahami bahwa menimba ilmu juga bagian dari jihad.

Seiring berjalannya waktu, Iswanto yang awalnya sangat membenci orang-orang non-muslim, perlahan-lahan mulai membuka diri. Ditambah lagi, pergaulannya yang makin luas, terutama bertemu dengan orang-orang yang beragama lain, membuat pemikirannya lebih terbuka. “Ternyata mereka juga memiliki sifat yang mulia, etika yang baik, dan mereka tidak mengganggu kita,” katanya.

Di masa-masa berikutnya kemudian, Iswanto dipertemukan dengan sejumlah korban terorisme dalam kegiatan AIDA. Ia merasa terenyuh ketika menyaksikan ketangguhan para korban yang ikhlas atas musibah yang dihadapi. Kisah ketangguhan korban membuatnya sadar bahwa jalan yang pernah ia lalui adalah salah dan melenceng dari ajaran agama yang sesungguhnya.

“Dulu saya ke sini untuk berperang, namun sekarang saya ke sini untuk menebar perdamaian,”

Jalan yang ditempuh Iswanto kini tak lagi dunia kekerasan. Bersama para korban dan AIDA, Iswanto memilih untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat. Ia berharap, pengalamannya bisa menjadi inspirasi publik agar lebih peduli terhadap perdamaian. Saat berkesempatan mengikuti kegiatan kampanye damai bersama AIDA di Ambon, ia berujar, “Dulu saya ke sini untuk berperang, namun sekarang saya ke sini untuk menebar perdamaian,” katanya.

Selain menjadi aktivis perdamaian, sehari-hari Iswanto juga menjadi guru dan pembimbing umroh. Bila di masa lalu ia membimbing orang untuk melakukan kekerasan, saat ini ia membimbing umat untuk beribadah dan menebar rahmat. Selain itu, ia juga membuka usaha toko dan perlengkapan rumah tangga. Katanya dengan nada bergurau, “Dulu saya jualan amunisi, sekarang saya jualan sandal, diapers, yang sifatnya lebih lentur namun lebih banyak manfaatnya dan tidak menyakiti orang lain.”

Dalam setiap kesempatan bersama AIDA, secara pribadi ia selalu memohon maaf kepada para korban terorisme karena pernah sejalan dengan kelompok yang mendukung kekerasan. [SWD]

Baca juga Kisah Pertobatan Eks-Kombatan, Iswanto

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *