HomeBeritaPeran Perdamaian Tokoh Agama...

Peran Perdamaian Tokoh Agama Lombok

Aliansi Indonesia Damai- Aksi terorisme menimbulkan dampak yang nyata bagi para korbannya. Sayangnya para pelaku kerap mengklaim aksinya sebagai bentuk perjuangan agama. Padahal sejatinya agama mengajarkan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah. Dari sini para pemuka agama berperan sangat penting dalam melawan narasi kelompok teror.

Demikian disampaikan Riri Khariroh, Direktur Eksekutif AIDA, dalam kegiatan Pengajian Daring Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari kehidupan teroris dan korbannya, yang dilaksanakan AIDA bekerja sama dengan Muslimat Nahdlatul Wathan, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Sabtu (19/12/2020).

Baca juga Jihad untuk Perdamaian

Menurut dia, Islam mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat dan sunnatullah bagi kemaslahatan manusia. Karena itulah dia mengajak para pemuka agama untuk menampilkan wajah Islam yang ramah dan penuh rahmat bagi semesta. ”Wajah Islam yang tidak penuh dengan kekerasan, akan tetapi menampilkan bentuk Islam yang tidak hanya washatiyah (moderat) bagi umat Islam, tetapi juga kepada sesama manusia,” ujarnya.

Lebih jauh Riri mengajak para pemuka agama agar lebih intensif dalam memperkuat dan menciptakan suasana Indonesia yang lebih damai. ”AIDA memandang bahwa acara seperti ini penting dilakukan. Bahwa banyak peran tokoh agama dan pemimpin agama di masyarakat yang menciptakan Indonesia lebih damai, sekalipun berbeda suku maupun agama,” katanya.

Baca juga Muslim Milenial dalam Pembangunan Perdamaian

Dalam kegiatan ini, hadir sejumlah narasumber, antara lain korban Bom Kampung Melayu 2017, Jihan Thalib, korban Bom Bali 2002, R. Supriyo Laksono, dan mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi.

Jihan Thalib dan Supriyo Laksono berbagi kisah perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan pascamusibah yang menimpa mereka. Lebih dari itu mereka juga telah memaafkan para pelaku teror dan berekonsiliasi dengan mantan pelaku terorisme. Sementara Ali Fauzi berkisah tentang sepak terjangnya dalam kelompok ekstremisme kekerasan hingga kemudian memutuskan bertobat dan memilih menjadi pendakwah perdamaian.

Ketua Muslimat Nahdlatul Wathan Sembalun, Sulniati, mengajak para peserta belajar dari kisah pertobatan mantan pelaku dan pemaafan korban terorisme, serta proses panjang rekonsiliasi antara kedua pihak. “Kita di sini punya misi Islam yang menebarkan kasih sayang, memudahkan dan tidak menyulitkan. Visi ini disampaikan oleh divisi di bidang dakwah dan pendidikan dalam kajian rutin keagamaan,” ujarnya dalam sambutan pembukaan. [FS]

Baca juga Menolong yang Zalim dan Terzalimi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...