HomeBeritaMenyelesaikan Krisis Menghindari Ekstremisme

Menyelesaikan Krisis Menghindari Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai – Bekerja sama dengan Bidang Kemahasiswaan Institut Teknologi Telkom (ITT) Purwokerto, AIDA mengadakan Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, pada akhir Mei lalu. Kegiatan diikuti oleh lebih dari 150 orang mahasiswa.

Selain menghadirkan penulis buku, Hasibullah Satrawi, kegiatan ini juga dihadiri ahli jaringan terorisme, Solahudin, dan mantan narapidana terorisme, Mukhtar Khairi. Dalam sesi diskusi, sejumlah mahasiswa mengungkapkan keingintahuan tentang alasan mendasar seseorang masuk dan terlibat dalam jaringan kelompok ekstrem.

Baca juga Meluruskan Nalar Konspiratif Terorisme

Menanggapi pertanyaan tersebut, Solahudin menjelaskan bahwa faktor pendorong individu bergabung dalam kelompok ekstremisme tidaklah tunggal dan tidak sama pada setiap orang. Namun dari hasil kajiannya, umumnya orang tertarik pada ekstremisme kekerasan diawali situasi krisis.

“Krisis bisa macam-macam. Ada krisis keluarga, krisis ekonomi. Bisa kemudian krisis terkait dengan hubungan, misalkan cerai atau putus pacaran,” tutur Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

Baca juga Dialog Mahasiswa ITT Purwokerto dengan Penyintas Bom Kuningan

Situasi krisis ini dapat menjadi pemantik, tetapi tergantung bagaimana seseorang menyelesaikan krisis yang menderanya. Selain mencari solusi dengan cara-cara rasional, beberapa orang memilih untuk menyelesaikannya dengan cara religius.

Solahudin mencontohkan apa yang dialami oleh Mukhtar Khairi, mantan pelaku terorisme yang telah bertobat dan kini aktif menyuarakan perdamaian. Mukhtar awalnya mengalami krisis ketika merasa ditinggalkan oleh keluarganya. Ia lantas mencoba menghadapi situasi itu dengan mengikuti pengajian atas ajakan kakaknya yang telah lebih dulu bergabung. “Persoalan kemudian muncul ketika kajian yang diikuti mengarah pada praktik-praktik yang menjurus pada ideologi ekstrem,” katanya.

Baca juga Warek ITT Purwokerto Ajak Mahasiswa Lestarikan Perdamaian

Sementara Hasibullah Satrawi mengimbau mahasiswa agar berhati-hati dalam menghadapi situasi krisis kedirian maupun sosial politik. Pasalnya kelompok ekstrem sering menjadikan mahasiswa sebagai target dengan melihat semangat juang serta keinginan mahasiswa untuk menjadi agen perubahan. “Semangat mahasiswa rawan menjadi celah untuk disusupi oleh kelompok jihadis,” ujarnya.

Dalam hemat Hasibullah, mahasiswa memiliki kepedulian tinggi terhadap ketidakadilan yang dirasakan oleh umat. Namun jangan sampai situasi ini justru membuka peluang bagi kelompok ekstrem untuk masuk dan menyebarkan ideologi yang keliru. “Semangat mahasiswa untuk mengembangkan nilai-nilai positif, peduli kepada kaum tertindas, peduli kepada masyarakat, sama dengan semangat teroris yang peduli kepada umat,” ucapnya.

Namun Hasib menegaskan, meskipun ekstremisme didorong semangat memperbaiki situasi sosial politik dan berniat untuk kebaikan umat, mahasiswa harus paham bahwa praktik-praktik kekerasan tidak bisa dibenarkan. [WTR]

Baca juga Mencegah Pemuda Terpapar Paham Ekstrem

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...