HomeBeritaDialog Mahasiswa ITT Purwokerto...

Dialog Mahasiswa ITT Purwokerto dengan Penyintas Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai – Penyintas Bom Kuningan 2004, Mulyono, dihadirkan sebagai narasumber dalam kegiatan “Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya,” Kamis (20/05/2021). Mulyono hadir untuk membagikan inspirasi kisah perjuangannya sebagai penyintas bom kepada ratusan mahasiswa Institut Teknologi Telkom (ITT) Purwokerto.

Meski dilakukan secara daring, tak mengurangi antusiasme mahasiswa dalam menyimak kisah Mulyono. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul. Salah satunya adalah dari mahasiswa Jurusan Teknik Telekomunikasi. Ia bertanya tentang cara Mulyono mengatasi traumanya setelah kejadian bom.

Baca juga Warek ITT Purwokerto Ajak Mahasiswa Lestarikan Perdamaian

 “Ada korban yang bener-bener trauma sehingga sampai detik ini dia nggak mau mendengar cerita terkait bom atau cerita terkait korban. Ada juga korban yang tidak berani masuk ke gedung tinggi. Alhamdulillah, Allah kasih saya kekuatan,” kata Mulyono.

Mulyono menuturkan, tiga bulan setelah dirawat di Singapura untuk berbagai upaya operasi rekonstruksi rahang, ia justru mendatangi lokasi kejadian. “Saya melihat ke Kuningan di mana posisi mobil saya saat itu. Kok bisa saya sampai separah itu. Saya sampai detik ini, Allah kasih kekuatan hingga saya tidak trauma,” katanya.

Baca juga Mencegah Pemuda Terpapar Paham Ekstrem

Meski tak merasakan trauma, Mulyono mengaku sempat merasa putus asa dan marah atas kejadian yang menimpa dirinya. Apalagi ia telah divonis dokter harus merasakan sakit seumur hidup dan harus terus meminum obat. “Alhamdulillah, saya Muslim, saya punya agama, dan saya punya Allah. Banyak hal-hal yang saya pelajari dari agama. Insya Allah semua ini sebagai pelebur dosa. Insya Allah akan diberi kemudahan dan Allah berjanji setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Saya yakin Allah tak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari apa yang saya mampu. Allah tunjuk saya berarti saya mampu,” ucapnya mantap.

Pertanyaan lain muncul dari mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Ia bertanya tentang peran pemerintah saat itu terhadap korban.  Mulyono mengatakan bahwa pemerintah saat itu belum siap dengan adanya aksi pengeboman besar yang terjadi pada awal tahun 2000-an, seperti Bom Bali 2002, Bom Marriot 2003, atau juga Bom Kuningan tahun 2004. “Para korban saat itu terbengkalai. Kalau ada yang mengalami luka parah seperti saya, itu bener-bener sekian jam dalam kondisi parah seperti itu, namun rumah sakit tidak bisa melakukan tindakan karena tidak ada penjaminan. Terkait biaya perawatan lanjutan, baik layanan medis, psikologis, dan psikososial pun belum ada,” ucapnya mengenang.

Baca juga Meluruskan Stereotip Terorisme

Untuk itulah selama bertahun-tahun Mulyono dan para penyintas lain berusaha mendorong pemerintah agar memberikan perhatian terhadap korban. “Para penyintas sempat ada kecemburuan terhadap pelaku. Kenapa pelaku aja yang diperhatiin sedangkan korban nggak pernah. Pelaku diberi perhatian, diberi bantuan. Sedangkan korban sendiri nggak pernah diberi perhatian oleh pemerintah,” ujarnya.

Mulyono mengatakan, kini upayanya bersama para penyintas dan lembaga-lembaga yang concern terhadap korban mulai menunjukkan hasilnya. Pemerintah mulai hadir memberikan perhatian dan bantuan. Kendati masih ada hal yang harus diperbaiki.

Baca juga Dialog Mahasiswa UMP dengan Korban Bom Kuningan

Menurut Mulyono, salah satu indikasi yang cukup baik dari upaya pemerintah adalah kesigapan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk ikut mendampingi korban di rumah sakit saat kejadian Bom Thamrin pada tahun 2016 dan Bom Kampung Melayu pada tahun 2017.

Menurut dia, hal yang harus diperbaiki dari kebijakan pemerintah adalah terkait perawatan lanjutan bagi korban yang harus terus berobat. “Saya sudah divonis dokter bahwa saya akan seumur hidup meminum obat dan merasakan sakit. Itu bukan hal yang mudah. Saya harus berganti-ganti dokter. Saya harus mencari rumah sakit yang cukup baik. Dengan keterbatasan dari pemerintah banyak yang mesti harus diperbaiki, baik dari sisi pendanaan maupun pendampingan psikologis,” ujarnya. [LADW]

Baca juga Memahami Terorisme dari Perspektif Korban

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....