HomeBeritaWarek ITT Purwokerto Ajak...

Warek ITT Purwokerto Ajak Mahasiswa Lestarikan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Pemasaran Institut Teknologi Telkom (ITT) Purwokerto, Tata Sambada, mengajak mahasiswa terlibat aktif dalam melestarikan perdamaian di Indonesia. Mahasiswa diyakini dapat berkontribusi penting bagi terwujudnya perdamaian sekaligus menangkal gerakan ekstrem di lingkungan kampus.

“Antusiasme mahasiswa di forum ini menjadi sinyal bahwa mahasiswa juga ingin dan harus melestarikan perdamaian di Indonesia, agar kita bebas dari ancaman terorisme,” katanya saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, Kamis (20/05/2021). Acara yang digelar AIDA bekerjasama dengan kemahasiswaan IT Telkom Purwokerto itu dihadiri seratus lebih mahasiswa, termasuk sejumlah tenaga pengajar.

Baca juga Mencegah Pemuda Terpapar Paham Ekstrem

Tata menjelaskan, pemahaman literasi sangat vital untuk menangkal narasi-narasi ekstremisme yang berkembang di media sosial. Di era teknologi, informasi berkembang sangat pesat dan diyakini penuh ketidakpastian, sehingga informasi yang beredar cenderung subjektif. Di tengah keambiguan itu, Tata mengimbau mahasiswa untuk cermat menyerap informasi yang ada. “Acara ini semoga dapat meningkatkan kemampuan literasi kita dalam mengolah informasi dan pengetahuan pada era perubahan informasi ini,” ujarnya.

Ia melanjutkan, informasi-informasi di era media sosial juga dapat berbaur antara kebenaran dan ketidakbenaran. Tanpa kemampuan literasi yang kuat, informasi yang sebenarnya hoaks dapat dianggap kebenaran. “Kita dihadapkan pada kondisi ketidaksadaran bahwa telah membenarkan hal-hal yang salah. Karena dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang, maka kesalahan bisa menjadi kebenaran. Karena itu kita butuh kemampuan literasi,” ungkapnya.

Baca juga Meluruskan Stereotip Terorisme

Menurut Tata, salah satu upaya meningkatkan kemampuan literasi itu adalah melalui pengalaman orang-orang yang pernah terjerumus ke dunia ekstremisme dan juga korban terorisme. Belajar dari pengalaman itu, mahasiswa diharapkan dapat mengambil ilmu yang berharga untuk meningkatkan kecerdasan literasi.

“Kita tingkatkan kemampuan literasi dari orang-orang yang lebih berpengalaman, sehingga kita dapat informasi dan ilmu dari orang yang valid tanpa adanya tujuan tendensi kelompok tertentu. Pengalaman adalah pelajaran berharga. Bersyukur kita bisa belajar dari orang yang berpengalaman dan tangguh dari kondisi dan pengalaman perihal terorisme ini,” tuturnya.

Baca juga Dialog Mahasiswa UMP dengan Korban Bom Kuningan

Di akhir sambutannya Tata berharap mahasiswa tidak mudah terprovokasi narasi-narasi kelompok ekstrem di media sosial, apalagi ajakan-ajakan yang mengarah untuk melakukan tindakan kekerasan.

Sebagai informasi, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari acara AIDA sebelumnya, yaitu Seminar Halaqah Perdamaian dan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa di wilayah Purwokerto. Hadir selaku narasumber antara lain Peneliti Terorisme, Solahudin, Mantan Pelaku Terorisme Mukhtar Khairi, Korban Bom Kuningan 2004, Mulyono Sutrisman, dan Penulis Buku La Tay’as, Hasibullah Satrawi. [AH]

Baca juga Memahami Terorisme dari Perspektif Korban

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...