HomeBeritaDialog Penyintas Bom Kuningan...

Dialog Penyintas Bom Kuningan dengan Siswa SMAN 4 Tasikmalaya

Aliansi Indonesia Damai – Sebanyak 48 siswa tampak khidmat mengikuti Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Generasi Tangguh” yang digelar AIDA pada (24/11/2021). Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Sudjarwo, penyintas Bom Kuningan tahun 2004 silam. Sudjarwo membagikan kisah ketangguhannya usai mengalami ledakan bom di tempat kerjanya.

Akibat kejadian itu, Sudjarwo mengalami luka parah. Beberapa proyektil juga bersarang di tubuhnya. “Tangan kiri saya cacat permanen. Saya kehilangan 3 ruas jari tangan saya, dan punggung tangan kiri saya. Serta banyak proyektil yang masuk di tubuh saya,” tutur Sudjarwo.

Baca juga Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMAN 6 Tasikmalaya

Tidak mudah bagi Sudjarwo menghadapi masa-masa sulit pascaledakan Bom. Di usianya yang saat itu baru menginjak 21 tahun, ia merasa mimpi-mimpinya terenggut, apalagi ketika dokter mengatakan tubuhnya tak bisa lagi kembali seperti semula. “Perasaan saya hancur. Saya hilang harapan, saya putus asa. Di usia muda saya tidak bisa lagi melakukan hal-hal positif seperti teman saya yang lain. Saya juga takut luka saya jadi cemoohan saat saya bergaul,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, Sudjarwo mulai memahami bahwa apa pun yang terjadi bukanlah sesuatu yang harus disesali. Dengan dukungan dari keluarga dan teman-teman penyintas yang lain, ia mencoba bersemangat dan mulai berdamai dengan dirinya sendiri. “Ya itu semua tidak mudah, tapi saya terus berusaha,” ujarnya.

Baca juga Mencegah Ekstremisme sejak Dini

Usai menceritakan kisahnya. Beberapa siswa mengajukan pertanyaan kepada Sudjarwo. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah apakah Sudjarwo menyimpan dendam pada pelaku. “Saat saya merasakan dampaknya, ya pasti ada rasa itu. Ada marah, kecewa berkecamuk. Rasa sedih juga dalam hati,” kata Sudjarwo.

Meski demikian, Sudjarwo mengaku dendam itu lambat laun mulai terkikis. “Dendam itu terkikis setelah saya mulai melihat sisi lain dari peristiwa pengeboman. Pertemuan saya dengan para mantan pelaku juga menyadarkan saya bahwa mereka ini adalah juga korban dari pandangan-pandangan dan ajaran ekstrem yang mereka anut,” ujarnya.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 1 Manonjaya dengan Mantan Napiter

Pertemuan dan dialog intensif dengan sesama korban dan juga dengan mantan pelaku pengeboman justru semakin menguatkan ketangguhan Sudjarwo. “Saya yakin apa yang menimpa saya adalah hal yang terbaik yang diberikan untuk kita dari Allah. Saya percaya itu. Dan saya sudah buktikan,” katanya memungkasi. [LADW]

Baca juga Kepala SMA Al Muttaqin: Generasi Mendatang Cinta Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso,...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...