HomeBeritaDialog Mantan Napiter dengan...

Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMAN 6 Tasikmalaya

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 6 Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (22/11/2021). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian safari perdamaian virtual  AIDA di sejumlah SMA di kota tersebut.

Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme (napiter). Pernah berkecimpung dalam sejumlah kelompok teror, Kurnia akhirnya bertobat dan kembali ke jalan perdamaian. Kurnia yang dulunya menjadi instruktur peracikan bom, sekarang menjelma menjadi aktivis perdamaian.

Baca juga Mencegah Ekstremisme sejak Dini

Setelah menyimak kisah Kurnia, sejumlah siswa yang antusias mengajukan pertanyaan maupun komentar. Salah seorang peserta bertanya faktor yang membuat Kurnia keluar dari kelompok teror. Menurut Kurnia, memerluas wawasan dan sudut pandang adalah kunci terhindar dari pemikiran ekstrem nan sempit.

“Ketika saya mempelajari pemahaman yang berbeda dengan kelompok saya, saya mendapati bahwa kelompok saya dulu banyak cacatnya, termasuk masalah mudahnya mengkafirkan orang lain. Itu bisa dibantahkan. Selain itu, ketika bertemu korban, saya juga merasa bersalah,” tutur Kurnia.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 1 Manonjaya dengan Mantan Napiter

Peserta lain bertanya, apakah Kurnia dan kelompoknya tidak memikirkan konsekuensi dari aksi-aksi teror itu. Kurnia menjawab, dulu dirinya tidak pernah memikirkan dampak ataupun konsekuensi dari perbuatannya. Karena ia menganggap semua orang yang ada di Indonesia ini adalah kafir. Meskipun kebanyakan berstatus muslim, tetap dianggap kafir karena tidak mengikuti keislaman versi kelompok Kurnia.

“Jadi kalau kita ngebom sana-sini kita tidak pernah memikirkan dampaknya. Kita merasa bebas melakukan itu. Kita juga tidak pernah memikirkan opini orang lain. Kita anggap seperti kata pepatah saja, ‘anjing menggonggong kafilah berlalu’. Kalau memang ada yang menyudutkan, kita anggap seperti awal-awal kondisi Islam, terasingkan oleh lingkungan sekitar. Kita cuek saja,” ujar Kurnia.

Baca juga Kepala SMA Al Muttaqin: Generasi Mendatang Cinta Damai

Peserta lain bertanya tentang penyesalan Kurnia setelah keluar dari kelompok teror. Kurnia mengatakan, banyak sekali hal yang ia sesali setelah bertobat. Penyesalan terbesarnya adalah dulu dirinya mengajarkan cara-cara membuat bom yang kemudian dipakai untuk tindakan yang merusak oleh rekan-rekannya.

Ia juga juga menyesal keterlibatannya dalam kelompok ekstrem telah menjauhkannya dari para sahabat di sekolah dan kampus, karena menganggap mereka bertentangan dengan pahamnya. Hubungan dengan keluarganya juga putus. “Ketika bapak meninggal dan saya sedang berada di penjara, saya tidak bisa melayat. Bahkan sama anak istri sendiri, hubungan tidak harmonis lagi. Saya menomorduakan mereka demi jihad versi saya,” ucap Kurnia.

Baca juga Dialog Siswa SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya dengan Penyintas Bom Bali

Pada bagian akhir, Kurnia berpesan agar siswa-siswi SMAN 6 Tasikmalaya dapat mewaspadai gerak-gerik kelompok teror. Ia memaparkan ciri-ciri orang yang sudah terpapar virus ekstremisme, di antaranya cara pergaulan dan sikap sehari-hari.

“Mereka cenderung membatasi diri. Kalau ngobrol, pembahasannya soal keharaman simbol negara, negara khilafah, dan tauhid. Mereka mudah mengkafirkan orang, termasuk orang tua sendiri. Kalau membuat pengajian, biasanya juga eksklusif, mojok-mojok,” kata Kurnia memungkasi. [FAH]

Baca juga Dialog Siswa SMAN 3 Blitar dengan Penyintas Bom Bali

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...