HomeBeritaPesan Ketangguhan Pelajar Tasikmalaya...

Pesan Ketangguhan Pelajar Tasikmalaya (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai- Pada pekan kedua November 2021, AIDA menggelar safari perdamaian virtual di beberapa sekolah di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kegiatan dikemas dalam bentuk Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh.” Kegiatan daring ini diselenggarakan di SMAN 1 Manonjaya, SMA Al Muttaqin, dan SMAN 5 Tasikmalaya.

Dalam kegiatan itu, AIDA menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri dari unsur mantan anggota kelompok ekstremisme kekerasan dan penyintas terorisme. Mereka berbagi cerita dan pengalaman hidup di hadapan sekitar 55 siswa di setiap sekolah. Melalui kisah itu, AIDA berharap generasi muda mengambil pembelajaran (ibroh) dan ikut membangun perdamaian Indonesia.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 1 Manonjaya dengan Mantan Napiter

Antusiasme peserta dibuktikan dengan keaktifan dalam forum. Banyak peserta menyampaikan pertanyaan dan pernyataan melalui kolom chat aplikasi Zoom. Sebagian di antaranya membagikan pelajaran nilai-nilai ketangguhan yang diperoleh dari kegiatan ini.

Siswi peserta kegiatan di SMAN 1 Manonjaya, Senin (15/11/2021), mengungkapkan, dirinya mendapatkan pembelajaran menarik dari kisah penyintas. Menurut dia sangat penting selalu berhati-hati dan waspada dalam melakukan segala aktivitas. Selain itu yang paling penting, sebelum melakukan segala kegiatan hendaknya diawali dengan doa dan berserah diri kepada yang Mahakuasa.

Baca juga Kepala SMA Al Muttaqin: Generasi Mendatang Cinta Damai

Ia juga belajar ketangguhan dari penyintas yang mampu bangkit dari musibah yang berat. “Walaupun keadaan tidak kembali seperti semula, namun korban juga mengajarkan kita untuk tidak menyerah dengan keadaan,” ujarnya.

Peserta lain di SMAN 1 Manonjaya mengungkapkan pembelajaran yang ia dapatkan dari mantan anggota kelompok ekstremisme kekerasan yang pernah bergabung dengan ISIS di Suriah. Dari kisahnya, ia belajar tentang pentingnya menyaring setiap informasi yang beredar, khususnya di media sosial.

Baca juga Dialog Siswa SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya dengan Penyintas Bom Bali

“Jangan mau mudah diiming-imingi oleh sesuatu yang didapat secara instan. Karena sesuatu yang dimaui atau pengen didapatkan harus dengan usaha atau kerja keras, serta tidak mudah diprovokasi,” ujar siswi yang menjabat ketua OSIS tersebut.

Sementara peserta di SMA Al Muttaqin, Rabu (17/11/2021) menyatakan, ia mendapatkan wawasan tambahan terutama bagaimana kesedihan penyintas terorisme dan perjuangannya untuk bangkit. Ini menjadi hal baru baginya.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 3 Blitar dengan Penyintas Bom Bali

Tak mau kalah, Kepala SMA Al Muttaqin turut memberikan pembelajaran ketangguhan setelah menyimak kegiatan. Menurut dia Islam itu rahmatan lil alamin seperti yang ditunjukkan pendiri negara kita yang diantaranya merupakan ulama besar. Sehingga pikiran dan perjuangan mereka harus dirawat.

“Saya berpesan agar anak-anak belajar dengan penuh rasional dengan pertimbangan. Waspada terhadap doktrin-doktrin yang tidak jelas asal-usulnya. Insya Allah, mudah-mudahan selamat dunia dan akhirat,” ujarnya.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Blitar (Bag. 1)

Peserta di SMAN 5 Tasikmalaya, Kamis (18/11/2021) mengatakan, kisah mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang telah bertobat menyadarkannya bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan dan pasti memiliki penyesalan dari hidupnya, namun harus bangkit untuk kehidupan di masa depan.

“Mengatasi rasa penyesalan itu memang butuh waktu. Dan kejadian di masa lalu juga banyak banget pelajaran yang bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan,” katanya. [MSH]

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Blitar (Bag. 2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....