HomeInspirasiAspirasi DamaiPsikologi Memaafkan (Bag. 3)

Psikologi Memaafkan (Bag. 3)

Aliansi Indonesia Damai- Memaafkan dapat berarti kita melepaskan masa lalu. Memberi maaf berarti kita melangkah ke masa depan daripada terjebak masalah hidup yang menghantam hubungan sosial kita di masa lalu. Beberapa ahli psikologi mengatakan, tidak ada yang seefektif memaafkan untuk menyembuhkan luka dalam diri akibat perilaku orang lain yang melukai perasaan.

Beberapa orang dapat memaafkan dengan cepat, sementara ada pula orang yang membutuhkan waktu untuk bisa melakukan hal yang sama. Tindakan memaafkan adalah salah satu bentuk kesadaran untuk melihat sesuatu tidak secara hitam putih, baik atau buruk. Kita mulai melihat sesuatu dengan rasa penerimaan yang utuh. Sederhananya berdamai dengan situasi yang terjadi.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Pada artikel ini kita akan membahas kunci dasar memaafkan sebagaimana disarankan oleh Robert Enright melalui bukunya berjudul 8 Keys To Forgiveness. Kunci pertama, dimulai dengan memahami pentingnya memaafkan. Menurut Robert memaafkan adalah tentang kebaikan, meluaskan belas kasihan kepada mereka yang telah menyakiti kita, bahkan jika mereka tidak layak menerimanya. Ini bukan tentang menormalkan perilaku orang yang menyinggung atau berpura-pura itu tidak terjadi, sebaliknya memaafkan dapat membantu kita meningkatkan harga diri dan memberi kita kekuatan batin.

Memaafkan dapat menyembuhkan dan memungkinkan kita untuk melanjutkan hidup dengan makna dan tujuan. Pengampunan itu penting, dan kita akan menjadi penerima manfaat utamanya, seperti mengurangi depresi, kecemasan, kemarahan yang tidak sehat, dan penyakit yang mengganggu kesejahteraan psikologis.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 2)

Kunci kedua, menjadi forgivingly fit dengan cara membuat komitmen untuk tidak menyakiti. Dengan kata lain, berusaha secara sadar untuk tidak membicarakan orang-orang yang telah menyakiti dan memandang rendah. Kita tidak harus mengatakan hal-hal baik tentangnya, tetapi bisa mencoba menahan diri untuk tidak menceritakan keburukannya, karena hal tersebut membantu kita menguatkan pikiran positif.

Sangat penting untuk menumbuhkan pola pikir menghargai kemanusiaan, sehingga lebih bisa mengabaikan perilaku buruk orang lain yang menyakiti. Pada momentum ini, kita akan menganggap yang terjadi sebagai ujian dari keyakinan agama atau filosofi humanis yang kita ketahui. Jika mampu mempraktikkan memaafkan dan belas kasihan kecil dalam kehidupan sehari-hari, hal itu mampu membantu kita menahan diri dari perilaku agresif. Terkadang kesombongan dan kecederungan melakukan tindakan agresif dapat melemahkan upaya kita untuk memaafkan.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.1)

Kunci ketiga yaitu mengatasi rasa sakit batin. Penting untuk memvalidasi rasa sakit yang kita rasakan. Tidak perlu disangkal, tetapi tidak setiap tindakan yang menyebabkan kita menderita layak direspons. Rasa sakit batin kita perlu diakui. Melakukan hal ini akan memberi Anda gambaran tentang siapa yang membutuhkan pemaafan dan menyediakan tempat untuk memulai.

Bentuk rasa sakit atau luka yang kita miliki bisa dalam berbagai bentuk seperti kecemasan, depresi, kemarahan yang tidak sehat, kurangnya kepercayaan pada orang lain, kebencian terhadap diri sendiri atau harga diri yang rendah, dan memandang sekeliling kita secara negatif.

Semua rasa sakit tersebut dapat diatasi dengan memaafkan. Semakin banyak luka yang kita rasakan, semakin penting untuk memaafkan, setidaknya untuk tujuan penyembuhan emosional atau berdamai dengan situasi. Momentum ini bisa melalui pendekatan tenaga profesional seperti psikolog ataupun psikiater. (bersambung)

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag. Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...