HomeInspirasiAspirasi DamaiPsikologi Memaafkan (bag. 1)

Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai- Manusia adalah makhluk sosial. Dikatakan demikian karena manusia saling membutuhkan satu sama lainnya agar dapat tercipta kelangsungan hidup yang baik. Namun terkadang dalam berinteraksi dengan manusia lainnya, kita mengalami situasi yang kurang baik bahkan menyakitkan. Butuh memaafkan dengan tulus kepada orang lain agar hubungan kembali harmonis. Masalahnya memaafkan adalah proses yang tidak instan. Terkadang butuh waktu, kerja keras, dan latihan mental untuk memberikan maaf yang tulus.

Ketidakmampuan memaafkan dengan tulus terkadang menjadi masalah di kemudian hari. Misalnya beberapa aksi kekerasan dan tindakan ekstrem yang dilakukan seseorang akibat dendam  dan kekecewaan masa lalu yang tidak termaafkan dengan tulus. Temuan beberapa ahli Psikologi Positif menyebutkan, balas dendam kerapkali tidak selalu berakhir baik. Pelaku tidak merasa lebih baik setelah membalaskan dendamnya. Justru berdamai dengan orang yang pernah berperkara dan memberikan maaf membuat seseorang menjadi lebih sejahtera secara psikologis.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.1)

Selain memberikan maaf, hal yang penting juga adalah kesungguhan memohon maaf. Beberapa orang akan kesulitan memaafkan orang lain jika tanpa permintaan maaf.  Atau bisa jadi sudah meminta maaf, namun tidak ada upaya nyata untuk memperbaiki bahkan mengulangi kesalahan yang sudah dilakukan. Kesungguhan meminta maaf sama pentingnya dengan memohon maaf.

Beberapa penelitian menemukan bahwa meminta maaf sangat efektif dalam mengatasi konflik interpersonal. Karena permintaan maaf merupakan pernyataan tanggung jawab tidak bersyarat atas kesalahan, sekaligus komitmen untuk memperbaikinya. Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa memaafkan merupakan bagian dan kemampuan seseorang melakukan komunikasi interpersonal dan kematangan secara emosional.

Memaafkan sebagai obat luka batin

Memaafkan tidak berarti menyatakan bahwa rasa sakit tidak penting atau apa yang dikatakan/dilakukan orang lain yang menyakiti kita layak dibenarkan. Bukan berarti pula melupakan apa yang telah terjadi berarti melepaskan tanggung jawab orang lain yang melukai untuk meminta maaf. Memaafkan berarti berdamai dengan luka dan rasa sakit masa lalu. Itu berarti memilih untuk melanjutkan kehidupan tanpa beban.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag. Terakhir)

Memaafkan (forgiveness) dalam pandangan Psikologi Positif merupakan salah satu metode self healing, yaitu proses pemulihan diri dari luka batin dan pengalaman tidak menyenangkan yang mengganggu psikologi. Memaafkan dan self healing memiliki ikatan emosional dan fisik dalam diri seseorang. Penelitian menunjukkan, memaafkan mendorong penurunan kecemasan dan depresi dan meningkatkan kemampuan untuk membangun hubungan yang lebih baik.

Dapat disimpulkan, self healing ternyata dapat dilakukan dengan cara memaafkan diri sendiri. Dalam konteks penyintas terorisme, perkataan memaafkan bukan untuk kebaikan mantan pelaku terorisme, tetapi sejatinya untuk mengobati luka hati sendiri. Bagi penulis, ini terdengar lebih masuk akal. (bersambung)

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....