HomeInspirasiAspirasi DamaiPsikologi Memaafkan (Bag. 2)

Psikologi Memaafkan (Bag. 2)

Aliansi Indonesia Damai- Memaafkan adalah skill hidup. Itulah mengapa tidak semua orang mampu dengan mudah memaafkan. Seperti skill hidup yang lain, memaafkan dan meminta maaf akan memiliki dampak pada kesejahteraan hidup seseorang.

Seseorang yang mudah memaafkan cenderung lebih puas dengan kehidupan mereka, mengurangi depresi, kecemasan, stres, kemarahan, dan permusuhan akibat masih menyimpan rasa marah kepada orang lain. Sebaliknya, orang yang menyimpan dendam memiliki kemungkinan lebih besar mengalami depresi berat, masalah mental seperti post-traumatic stress disorder dan masalah kesehatan lainnya.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Karen Swarts, Direktur The Mood Disorders Adult Consultation Clinic di The Johns Hopkins Hospital, Amerika Serikat, mengatakan bahwa kemarahan yang amat sangat membuat seseorang dalam ‘fight-or-flight’, artinya menghasilkan banyak perubahan pada detak jantung, tekanan darah, dan kondisi tegang lainnya dalam tubuh.

Hal tersebut meningkatkan risiko depresi, penyakit jantung, diabetes, dan masalah kesehatan lainnya. Memaafkan mampu menenangkan tingkat stres sehingga mengarah pada peningkatan kesehatan tubuh. Manfaat memaafkan tidak hanya ditemui pada aspek kesehatan fisik dan psikis, namun juga pada aspek hubungan antarmanusia.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.1)

Mengingat manfaatnya yang  sangat besar, memaafkan menjadi ajaran kebajikan universal. Nyaris semua ajaran agama serta kebudayaan menunjukkan bahwa sikap pemaaf menjadi bentuk ideal perilaku orang baik. Artinya orang baik digambarkan secara tulus sebagai sosok yang mau memohon maaf atas kesalahan mereka dan memberi maaf atas tindakan keliru yang menimpa mereka.

Merajut tali asih

Penelitian berjudul Victim and Offender Accounts of Interpersonal Conflict: Autobiographical Narratives of Forgiveness and Unforgiveness berfokus meneliti persepsi memaafkan, menggunakan metode analisis narasi dengan cara subjek penelitian mencatat peristiwa disakiti maupun yang menyakiti, serta perasaan sakit yang dapat dimaafkan dan yang tidak dapat dimaafkan.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa persepsi luka interpersonal tergantung pada peran seseorang sebagai korban atau pelaku, dan tergantung kemampuan mereka untuk memaafkan. Subyek yang memaafkan menggambarkan hasil dan pengaruh positif dalam mengelola dirinya, daripada subyek yang menuliskan ungkapan berisi hal-hal yang tidak memaafkan.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag. Terakhir)

Riset di atas menegaskan bahwa maaf-memaafkan mampu memperbaiki hubungan antarmanusia dan juga meningkatkan kemampuan interpersonal seseorang. Namun proses memaafkan tidak berhenti pada kata maaf, namun juga disertai dengan tindakan dan sikap yang lebih baik.

Orang yang saling memaafkan sejatinya sudah berjalan ke masa depan dengan lebih baik. Karena orang yang enggan saling memaafkan adalah orang yang terjebak di masa lalu. Hidupnya penuh dengan kegelisahan, rasa marah, dan dendam atas peristiwa yang telah berlalu. Sekarang kita bisa memilih, apakah mau hidup di masa depan dengan maafkan atau hidup berjalan namun pikiran masih di masa lalu? (bersambung)

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...