HomeInspirasiAspirasi DamaiFondasi dan Keutamaan Memaafkan...

Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.1)

Aliansi Indonesia Damai- Memaafkan bukanlah perkara sepele. Butuh upaya serius untuk bisa melaksanakannya. Memaafkan adalah perbuatan terpuji sebagai bagian dari akhlak mulia yang telah diperintahkan oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Belakangan masyarakat kita berada dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Seringkali kita mendengar kekerasan di mana-mana, baik skala kecil atau besar. Terkadang kekerasan tersebut terjadi dipicu masalah sepele. Kondisi ini sebenarnya bisa dicegah atau paling tidak bisa dikurangi jika manusia bisa mengamalkan sifat memaafkan.

Baca juga Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Memaafkan atau  al ‘afwu dalam bahasa Arab, menurut al-Kafawi bermakna tidak menyakiti (orang yang telah berbuat jahat padanya) walaupun mampu untuk membalasnya. Setiap orang memang berhak mendapat balasan yang setimpal atas perilakunya, Namun jika yang disakitinya tidak menuntut balas, bersikap ikhlas, dan membiarkannya maka itulah yang dinamakan al-‘afwu (memaafkan).

Memaafkan memang terlihat sulit untuk dilakukan, terlebih bagi seseorang yang menjadi korban atau sebagai pihak yang dizalimi. Tetapi hal tersebut bisa diupayakan secara perlahan. Kita bisa belajar dari orang-orang yang telah mendapatkan manfaat dan keutamaan memaafkan.

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 1)

Allah berfirman, “(yaitu) Orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (Q.S Al- Imran: 134). Dalam ayat lain dikatakan, “Dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa” (Q.S Al-Baqarah: 237).

Menurut Ibnu Taimiyah, memaafkan memiliki banyak keutamaan, di antaranya akan menambah kemuliaan seseorang. Apabila seseorang memaafkan maka Allah akan memuliakannya. Dikabarkan dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah, “Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya” (HR. Muslim).

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 2)

Keutamaan lain menurut Ibnu Taimiyah, bahwa membalas kezaliman orang lain hanya akan membuang waktu dan memungkinkan hilangnya maslahat yang lebih besar. Allah berfirman “Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” (Q.S Asy-Syura: 40).

Dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, Allah SWT akan membalas dengan pahala yang besar dan ganjaran yang agung. Namun Allah memberikan syarat, memaafkan harus diikuti dengan perbuatan baik di dalamnya. Ini menunjukkan bahwasanya seorang pelaku kejahatan tidak layak untuk dimaafkan, karena maslahat syar’iyah mengharuskan dirinya untuk dihukum. Oleh karena itu dalam kasus seperti ini tidak mungkin perintah untuk memaafkan diterapkan, sehingga Allah SWT menjadikan pahala orang yang memaafkan dalam tanggungan-Nya. Hal ini membangkitkan semangat orang untuk senang memaafkan.

Baca juga Mengasihi Diri bukan Mengasihani Diri (Bagian 1)

Seyogianya seorang manusia berinteraksi dengan sesama makhluk yang ia sukai sebagaimana dirinya suka bila Allah SWT memerlakukannya dengan baik. Sebagaimana dirinya senang bila Allah memaafkan kesalahannya, maka begitu pula maafkanlah kesalahan sesama manusia. Sebagaimana pula dirinya senang bila Allah SWT memberi uzur padanya maka begitulah hendaknya dia juga memberi uzur pada orang lain. Karena sesungguhnya balasan tersebut setimpal dengan amal perbuatannya.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Aku tidak senang bila membela diriku semata dari seseorang dengan sebab karena kedustaan yang ditimpakan padaku atau kezaliman serta permusuhan terhadapku. Sesungguhnya aku telah menghalalkan setiap muslim (yang pernah menyakitiku). Dan saya mencintai kebaikan bagi setiap muslim, dan ingin bagi setiap mukmin melakukan kebaikan seperti yang aku cintai bagi diriku. Adapun orang-orang yang mendustakan dan berbuat zalim atasku maka mereka semua telah aku maafkan” (Majmu’ Fatawa, jilid 28). (Bersambung)

Baca juga Mengasihi Diri bukan Mengasihani Diri (Bagian 2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...