HomeInspirasiAspirasi DamaiFondasi dan Keutamaan Memaafkan...

Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Memaafkan adalah salah satu sunnah Nabi Muhammad Saw. Sebagai umatnya, tentu kita ingin meneladani beliau. Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari sahabat Ubay bin Ka’ab R.A, beliau menceritakan, “Tatkala peperangan Uhud, ada enam puluh orang dari kalangan sahabat Anshar yang mati syahid, sedangkan dari kalangan Muhajirin ada enam orang. Maka para sahabat Rasulullah SAW berkata, “Kalau seandainya nanti kita mendapati hari seperti hari ini atas kaum musyrikin (bertemu kembali), benar-benar kami akan membunuh mereka lebih banyak lagi.”

Tetapi faktanya, manakala datang hari penaklukan Makkah, berkata seorang yang tidak dikenali namanya, “Habis sudah riwayat (kafir) Quraisy pada hari ini.” Lalu terdengar suara lantang dari muazin Rasulullah SAW yang menyeru, “Semuanya aman. Jangan ada di antara kalian yang membunuh seorang pun kecuali fulan dan fulan.” Lalu disebut beberapa nama pesohor kafir Quraisy.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.1)

Kemudian turunlah firman Allah SWT, “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar” (Q.S An-Nahl: 126). Maka Rasulullah SAW bersabda: “Bahkan kami memilih untuk bersabar dan tidak membalas kejelekan mereka“ (HR. Ahmad, No. 21229).

Kisah lain yang merupakan sifat pemaaf Nabi Muhammad SAW tercantum di dalam kitab Taurat. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Amr bin al-Ash RA, bahwa Atha’ bin Yasar pernah meminta pada dirinya untuk mengabarkan tentang sifat Rasulullah SAW yang tercantum dalam Taurat.

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 1)

Beliau menjawab, “Tentu, sesungguhnya dirinya disifati dalam Taurat dengan beberapa sifat yang ada dalam Al-Qur’an. Wahai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, dan peringatan serta penjaga bagi para kaum yang ummiy (tidak bisa baca tulis). Engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Aku beri nama dirimu al-Mutawakkil, tidak kasar lagi berperangai buruk, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas perbuatan buruk dengan yang semisalnya, akan tetapi memaafkan dan memohonkan ampun“ (HR Bukhari, No. 2125).

Bukan hanya dari Nabi Muhammad SAW, memaafkan juga diajarkan oleh nabi-nabi terdahulu. Di antaranya seperti yang dijelaskan oleh Allah SWT tentang Nabi Yusuf AS ketika dirinya berkata pada saudaranya yang dahulu pernah menyakitinya.

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 2)

“Dia (Yusuf) berkata: Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Mahapenyayang di antara para penyayang” (Q.S Yusuf: 92). Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud RA yang berkata, “Seakan-akan aku pernah melihat Rasulullah SAW menceritakan seorang nabi dari kalangan para nabi Bani Israil yang dipukul oleh kaumnya sampai berdarah, lantas dirinya mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berkata, ‘Ya Allah ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui” (HR Bukhari, No. 3477 dan HR. Muslim, No. 1792).

I’broh atau pelajaran yang bisa diambil dari kisah para nabi tersebut adalah bahwa pemaafan sangat efektif dalam meredakan konflik sosial, bahkan lebih dari itu dapat mencegah peperangan antarsesama. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas, dalam peristiwa fathu Makkah misalnya. Berbondong-bondong masyarakat Quraisy mengikrarkan iman tanpa ada peperangan, tanpa ada satu tetes darah pun tertumpah.

Oleh karena itu akan selalu ada pilihan. Dan para pendahulu telah memberikan pilihan terbaik, yaitu menanamkan fondasi memaafkan karena keutamaannya begitu besar. Wallahu ‘Alam.

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...