HomeBeritaMembangun Perdamaian dari Lapas

Membangun Perdamaian dari Lapas

Selama dua hari penuh, 22 orang petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan 8 pegawai Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Kementerian Hukum dan HAM mengikuti kegiatan “Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Petugas Pemasyarakatan” di Bandung, Jawa Barat, Selasa-Rabu (2-3 Agustus 2016). Kegiatan tersebut digelar oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Ditjen Pas Kemenkumham.

Para petugas berasal dari Lapas di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat yang menampung warga binaan pemasyarakatan (WBP) terorisme. Menurut Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, Lapas merupakan area strategis dalam upaya membangun perdamaian, karena menjadi pusat berkumpulnya mantan pelaku terorisme yang menjalani masa pembinaan. Ke depan, WBP terorisme bakal kembali ke masyarakat. “Dalam konteks ini, peran petugas Lapas sangat signifikan untuk membina WBP terorisme agar mereka tidak kembali kepada kelompok terorisme,” katanya.

Pelatihan ini, demikian Hasib menjelaskan, berupaya meningkatkan semangat dan kapasitas petugas Pemasyarakatan dalam menangani WBP terorisme melalui materi-materi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.Salah satu bahan yang penting adalah kisah korban terorisme. Dalam kegiatan ini, empat orang korban terorisme hadir untuk membagikan kisahnya kepada peserta, yaitu Sudirman (korban Bom Kuningan 2004), Didik (korban Bom Marriot 2003), Jatmiko Bambang dan Ni Luh Erniyati (korban Bom Bali 2002).

“Para petugas Lapas dapat menyaksikan langsung dahsyatnya dampak terorisme yang tampak dari dalam diri korban. Dengan melihat dampak tersebut, diharapkan komitmen petugas dalam mencegah terorisme  semakin kuat,” ujarnya.

Menurut Hasib, para petugas dapat menyampaikan kisah-kisah korban saat berdialog dengan WBP terorisme. Kisah korban diharapkan dapat memancing empati dan pikiran kritis WBP terhadap ideologi kekerasan yang diyakininya sebagai kebenaran.

Pada kesempatan itu, hadir sebagai narasumber, ahi terorisme Solahudin. Dia membedah soal perkembangan terorisme mutakhir dan peran petugas Lapas dalam menanggulangi terorisme. Ia mengatakan, saat ini ada sekitar 200 WBP terorisme yang menghuni beberapa Lapas di Indonesia. Selain itu ada puluhan narapidana terorisme yang dalam waktu dekat akan didistribusikan ke Lapas-lapas. “Mereka adalah orang-orang yang melakukan tindak pidana terorisme pada 2015-2016. Ini akan menjadi tantangan berat buat petugas Lapas,” ujarnya.

Kegiatan ini dibuka oleh Pembina AIDA, Imam Prasodjo serta dihadiri pula oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, I Wayan Kusmiantha Dusak, yang memberikan pengarahan kepada para peserta, pada Selasa malam. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...