HomeBeritaDari Curiga Menjadi Saudara

Dari Curiga Menjadi Saudara

Sangat mengharukan. Itulah yang terasa ketika korban bom dengan mantan pelaku terorisme bertemu dalam satu ruang dan waktu menceritakan bagian-bagian yang paling menyenangkan dan yang paling menyedihkan dalam perjalanan hidupnya. Mereka bertemu dalam Pelatihan Tim Perdamaian yang digagas Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Hotel Santika Premiere Bintaro, Sabtu-Minggu (21-22/3/2015), di sela-sela kegiatan kampanye perdamaian di Tangerang Selatan, Banten.

Beberapa korban aksi teror yang ikut pelatihan yaitu Ni Luh Erniati dan Suyanto (korban Bom Bali I), Iswanto dan Nanda Olivia Daniel (korban Bom Kuningan Jakarta), Vivi Normasari (korban Bom Hotel JW Marriott Jakarta I), dan Max Boon (korban Bom Hotel JW Marriott Jakarta II). Sementara mantan pelaku yang telah bertaubat dan tersadarkan ialah Ali Fauzi.

Pelatihan ini merupakan langkah awal dalam upaya membentuk Tim Perdamaian yang terdiri dari unsur korban dan mantan pelaku terorisme untuk mengkampanyekan perdamaian kepada generasi muda di sekolah-sekolah.

Di hari pertama pada sesi perkenalan, sebagian korban terlihat kaget ketika mengetahui ada Ali Fauzi sebagai mantan pelaku terorisme yang juga hadir dalam acara tersebut. Tidak ada suasana keakraban apalagi kekeluargaan di antara korban dan mantan pelaku. Sebaliknya nuansa kecurigaan sangat terasa.

 

Sesi demi sesi membawa mereka pada keakraban bahkan satu perasaan. Ketika Tim Perdamaian diminta untuk menceritakan perjalanan hidupnya, suasananya begitu haru dan sedih. Setiap orang yang ada di ruangan itu tidak kuasa menahan air mata ketika mendengarkan cerita para korban bom mengenai musibah yang dialaminya atau menimpa anggota keluarganya beberapa tahun silam.

Salah satu kisah yang mengharukan dari Ni Luh Erniati yang harus kehilangan suaminya akibat terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian, Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002. Musibah itu mengakibatkan dirinya menjadi janda di usia yang masih relatif muda dan harus membesarkan kedua buah hatinya sendirian. Saat kejadian yang menimpa suaminya itu anak pertama berusia sembilan tahun dan anak kedua satu tahun. Sejak musibah itu hingga sekarang ia harus menjadi seorang ibu sekaligus ayah untuk kedua buah hatinya. Dengan perjuangan dan kerja kerasnya kini anak sulungnya telah meraih gelar sarjana, sementara bungsunya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Mendengarkan cerita korban, mantan pelaku Ali Fauzi pun tak kuasa menahan air mata bahkan mengaku hatinya tersayat. Bagi dia pengalaman mendengarkan cerita korban secara langsung kali ini merupakan yang kedua. Sebelumnya pada Oktober 2013 di Klaten, ia pernah bertemu dan mendengarkan kisah dari beberapa teman korban terorisme yang lain.

“Setelah mendengarkan cerita korban butuh satu bulan untuk merecovery pikiran saya. Saya selalu teringat cerita-cerita mereka, bahkan mental saya drop ketika mengingat ceritanya,” ujar Ali sembari menangis.

Seusai masing-masing orang menceritakan kisah perjalanan hidupnya, teman-teman korban bom diberikan kesempatan untuk bertanya atau mengeluarkan unek-uneknya kepada mantan pelaku. Korban pun ada yang menanyakan alasan kelompok teroris melakukan aksi bom yang mengakibatkan dirinya cacat fisik padahal tidak kenal dan tak tahu apa-apa tentang terorisme. Semua pertanyaan dan unek-unek tersebut dijawab oleh mantan pelaku dengan baik dan tenang. Hingga tercipta suasana yang lebih akrab di internal Tim Perdamaian.

Suasana yang awalnya penuh dengan saling curiga, kurang akrab dan cenderung tegang, perlahan berubah menjadi lebih cair di hari kedua setelah saling mengenal sosok masing-masing. Di hari kedua mereka terlihat akrab dan jalinan kebersamaan dan kekeluargaan begitu terasa. Mereka bisa saling berbicara, bergurau dan bercanda dengan lepas tanpa rasa curiga lagi.

Tak hanya itu, mereka juga saling bekerja sama untuk mempersiapkan materi presentasi yang akan disampaikan kepada generasi muda di sekolah-sekolah. Ali Fauzi sebagai mantan pelaku juga bersedia memberikan foto atau video yang terkait untuk bahan presentasi korban. Mereka berharap persaudaraan Tim Perdamaian tidak berhenti sampai disini, tapi bisa berlanjut terus di kemudian hari.

Kegiatan ini merupakan salah satu proses pemberdayaan dan pendampingan teman-teman penyintas agar bisa berperan dalam upaya membangun Indonesia yang lebih damai. Khususnya melalui rekonsiliasi antara korban dengan mantan pelaku terorisme. Hingga tercipta pesan perdamaian yang kuat dari Tim Perdamaian untuk menyongsong generasi muda yang tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi masalah-masalah ada. (AS) (SWD)

 

 

 

Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA edisi V, Juli 2015.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...