HomeOpiniMerawat Perdamaian Pasca-Pilkada

Merawat Perdamaian Pasca-Pilkada

Tahun 2017 telah memulai era baru bagi perempuan. Pawai perempuan yang mengambil tempat di seluruh dunia dari Amerika Serikat, ke Indonesia dengan laki-laki, dan perempuan berbaris untuk kesetaraan. Hari Perempuan Internasional ini terasa lebih penting daripada sebelumnya.
Dimulai dengan protes yang bertepatan dengan hari pertama Presiden AS Donald Trump di kantor, dan telah berubah menjadi gerakan global yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Wanita berada di garis depan revolusi; mengejutkan, mengingat wanita secara tidak proporsional terdampak oleh begitu banyak ketaksetaraan di dunia ini.
Sekitar 15.000 kilometer jauhnya dari Washington, perempuan di desa kecil Gampong Cot Malem di Aceh berjuang untuk perdamaian. Desa mereka telah mengalami konflik puluhan tahun, tsunami tahun 2004 dan periode pemulihan berbatu menyusul Nota Kesepahaman Helsinki tahun 2005.
Rakyat Aceh telah hidup dalam damai selama hampir 12 tahun. Tapi itu tidak berarti upaya perdamaian telah berakhir. Bulan lalu, saya berangkat ke Banda Aceh untuk membuat film pendek dengan United Nations Development Program (UNDP) Indonesia, mendokumentasikan upaya peradilan adat perempuan, atau adat pemimpin yang menjaga perdamaian di desa mereka. UNDP, dengan dukungan dari Norwegia, telah melatih perempuan untuk lebih menyelesaikan konflik dan mempromosikan toleransi di antara masyarakat.
Setelah mewawancarai wanita-wanita luar biasa ini dan orang-orang yang telah mereka bantu, satu hal membekas dalam benak saya: perempuan menanggung beban konflik, baik itu bersenjata atau dalam rumah tangga mereka sendiri. Mereka juga memiliki ketahanan yang luar biasa karena mereka adalah perempuan.
Aktivis Suraiya Kamaruzzaman, pendiri organisasi perempuan pertama di Aceh, Bunga Aceh, mengatakan perempuan adalah penjaga perdamaian alam dan negosiator. Dia menunjukkan bahwa ketika perempuan Indonesia pergi ke pasar tradisional dan menemukan sesuatu yang mereka sukai, mereka bernegosiasi. Mereka datang dari pasar dengan harga yang membuat kedua belah pihak senang. Entah itu di pasar tradisional atau di dalam rumah tangga mereka, wanita bernegosiasi setiap hari.
Pemimpin perempuan dalam sistem peradilan adat menggunakan keterampilan negosiasi mereka untuk meningkatkan kehidupan. Saat bertemu mereka, saya belajar apa yang dapat dilakukan kepemimpinan perempuan bagi masyarakat. Menurut para pemimpin adat, tidak mudah untuk meyakinkan laki-laki atau perempuan bahwa mereka harus mengambil peran kepemimpinan, tetapi mereka telah membuktikan metode mereka berhasil. Wanita lebih suka menggunakan sistem adat untuk menyelesaikan sengketa. Ini efisien secara ekonomi, dan kepercayaan di antara mereka berperan besar, terutama untuk kasus-kasus kekerasan domestik. Konflik dapat diselesaikan dengan cepat dan diam-diam.
Suami dari seorang wanita yang saya temui, Asnawiyah, menuangkan bensin kepadanya setelah ia menolak untuk memberinya uang. Laki-laki itu berlari ke pemimpin adat Yusra untuk menangani situasi itu, sementara Asnawiyah melapor ke polisi, menuntut dia dimasukkan ke dalam penjara. Polisi memberi Yusra kebebasan penuh untuk menangani situasi, dan konflik itu diselesaikan dengan cara damai. Suami Asnawiyah sudah tidak pernah mengulangi pelanggaran.
“Wanita di sini lelah menjadi terbelakang,” kata Yusra. “Kami menyumbang 50 persen dari populasi, tapi kami kurang terwakili.”
Kami juga berbicara dengan H. Badruzzaman Ismail, kepala dewan adat Aceh, yang mengingatkan saya bahwa “Aceh memiliki sejarah kuat tentang pahlawan-pahlawan wanita, khususnya sebagai penjaga perdamaian. Sekarang kita perlu melanjutkan tradisi itu.”
Memastikan lebih banyak perempuan berada di posisi kepemimpinan dalam sistem peradilan Aceh adalah salah satu cara menghormati wanita, seperti pahlawan nasional Indonesia Cut Nyak Dien, yang berjuang melawan penindasan selama lebih dari 25 tahun.
Hari ini, Aceh damai, namun, para pembangun perdamaian masih dibutuhkan. Seperti yang dikatakan oleh Suraiya: “Anda butuh dialog untuk menghentikan konflik. Tokoh-tokoh adat membuat dialog terjadi.”
Para pemimpin perempuan Aceh sungguh merupakan satu bagian dari perjuangan gerakan global untuk perdamaian, kesetaraan dan keadilan.
Hannah Al Rashid
Penulis adalah seorang aktor dan PBB SDG penggerak untuk kesetaraan gender.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...