Home Berita Keluarga Korban Bom Bertahan dengan Memikul Kenangan
Berita - 22/12/2017

Keluarga Korban Bom Bertahan dengan Memikul Kenangan

Sukarmin (60) membawa foto mendiang anaknya, Riyanto.
Sukarmin (60) membawa foto mendiang anaknya, Riyanto.

 

Berhadapan dengan Presiden KH Abdurrahman Wahid pada 2000 menimbulkan perasaan luar biasa yang sulit digambarkan Sukarmin (60).

”Saya diajak saja tanpa tahu mau apa. Saya sama istri (Katinem, 60) cuma pakai sandal jepit, semua orang pakai sepatu,” kisah Sukarmin melukiskan pengalamannya.

Setiap kali menceritakan aneka kisah hidup yang berhubungan dengan kematian anaknya, Riyanto, yang berusia 25 tahun saat meninggal pada 2000, Sukarmin tak bisa menaham air mata. Tangis membuat matanya memerah meski peristiwa itu telah 17 tahun berlalu.

Rianto tewas saat berusaha menyingkirkan bom di depan Gereja Sidang Jemaat Pantekosta di Indonesia (GSJPDI) Eben Haezer di Jalan Kartini No 4, Kota Mojokerto, seusai kebaktian Natal pada 2000.

Bom meledak merenggut jiwa Rianto.

Tak terhitung orang mendatangi dan menemui Sukarmin ketika peristiwa itu dan masa-masa sesudahnya.

Kepiluan ditinggalkan anak dengan cara begitu rupa sulit untuk dijelaskan.

”Saya tidak boleh melihat jenazahnya. Saya hanya minta, biarkan anak saya dishalatkan di rumah. Yah, rumah sempit ini berjejalan. Banyak tentara dan polisi menjaga jenazah anak saya,” tutur Sukarmin, berkaca-kaca haru dan bangga anaknya menjadi manusia penting di saat akhir hidupnya.

Saat bertemu Presiden Abdurrahman Wahid, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, ia berbicara dengan bahasa Jawa halus kepada Gus Dur.

Matur suwun sampun manggihi kulo,” katanya, menirukan ucapannya kepada Gus Dur ketika itu.

”Beliau menjawab. Mboten pak, sanes njenengan ingkang matur suwun, nanging kulo ingkang matur suwun. Putro panjenengan ingkang nylametaken tiyang sak donya (bukan bapak yang berterima kasih, melainkan saya yang harus berterima kasih. Putra bapak yang menyelamatkan manusia sedunia),” kata Sukarmin, mengutip kalimat Gus Dur saat itu.

Barang siapa menyalamatkan satu nyawa, dia menyiapkan seluruh kehidupan, bunyi sebuah ujaran.

Jenazah Riyanto, satu dari tujuh anak Sukarmin (kini lima orang karena dua orang meninggal, termasuk Riyanto), dimakamkan di makam ”Mbah Sabuk Alu” di Kelurahan Prajurit Kulon, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. ”Sempat akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi saya menolak. Nanti jadi jauh kalau akan mengunjungi makam,” ujarnya.

Sampai saat ini, Sukarmin masih menjalani cara kerjanya mencari nafkah dengan mengayuh becak.

Aneka piagam pengangkatan gelar atas pengorbanannya yang diterima keluarga ini dipasang di tembok rumah.

Sukarmin beserta anak dan istrinya melanjutkan hidup mereka. Pemerintah Kota Mojokerto mengubah nama jalan di tempat tinggal keluarga Sukarmin dengan nama Rianto.

Alamat rumah Sukarmin yang anak-anaknya telah berumah tangga dan hidup di sekitar lingkungan tinggal kini bernama Jalan Ryianto Gang Baru No 19, Prajurit Kulon, Mojokerto.

Subiyantoro, adik kandung Riyanto, kini bertindak mendampingi bapaknya jika ada orang bertanya tentang Riyanto.

”Minggu lalu ada kelompok jemaat Gereja Katolik, Probolinggo, datang ke rumah dan ke makam, sekitar 30 orang. Tahun lalu, GP Anshor memperingati haul, tradisi memperingati tokoh Nahdlatul Ulama yang sudah meninggal, hingga memasang tiga tenda, ribuan tamu dan pengajian memenuhi jalan sempit depan rumah. Bapak diminta sudah tak usah memikirkan kerepotannya,” tutur Subiyantoro, yang kini berstatus anak sulung.

Anak-anak Sukarmin kini meneruskan usaha yang pernah dirintis Rianto, yakni membuat cetak sablon.

Adik-adik Riyanto menerima dan mengerjakan cetak sablon untuk pesanan sandal kamar hotel, bungkus karton sepatu, dan semua produk kemasan dengan teknik cetak sablon.

Kesedihan keluarga korban bom tak sungguh-sungguh bisa pulih meski sudah belasan tahun berlalu dan semua penghormatan menghampiri.

 

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Kompas 20 Desember 2017