HomeBeritaKeluarga Korban Bom Bertahan...

Keluarga Korban Bom Bertahan dengan Memikul Kenangan

Sukarmin (60) membawa foto mendiang anaknya, Riyanto.
Sukarmin (60) membawa foto mendiang anaknya, Riyanto.

 

Berhadapan dengan Presiden KH Abdurrahman Wahid pada 2000 menimbulkan perasaan luar biasa yang sulit digambarkan Sukarmin (60).

”Saya diajak saja tanpa tahu mau apa. Saya sama istri (Katinem, 60) cuma pakai sandal jepit, semua orang pakai sepatu,” kisah Sukarmin melukiskan pengalamannya.

Setiap kali menceritakan aneka kisah hidup yang berhubungan dengan kematian anaknya, Riyanto, yang berusia 25 tahun saat meninggal pada 2000, Sukarmin tak bisa menaham air mata. Tangis membuat matanya memerah meski peristiwa itu telah 17 tahun berlalu.

Rianto tewas saat berusaha menyingkirkan bom di depan Gereja Sidang Jemaat Pantekosta di Indonesia (GSJPDI) Eben Haezer di Jalan Kartini No 4, Kota Mojokerto, seusai kebaktian Natal pada 2000.

Bom meledak merenggut jiwa Rianto.

Tak terhitung orang mendatangi dan menemui Sukarmin ketika peristiwa itu dan masa-masa sesudahnya.

Kepiluan ditinggalkan anak dengan cara begitu rupa sulit untuk dijelaskan.

”Saya tidak boleh melihat jenazahnya. Saya hanya minta, biarkan anak saya dishalatkan di rumah. Yah, rumah sempit ini berjejalan. Banyak tentara dan polisi menjaga jenazah anak saya,” tutur Sukarmin, berkaca-kaca haru dan bangga anaknya menjadi manusia penting di saat akhir hidupnya.

Saat bertemu Presiden Abdurrahman Wahid, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, ia berbicara dengan bahasa Jawa halus kepada Gus Dur.

Matur suwun sampun manggihi kulo,” katanya, menirukan ucapannya kepada Gus Dur ketika itu.

”Beliau menjawab. Mboten pak, sanes njenengan ingkang matur suwun, nanging kulo ingkang matur suwun. Putro panjenengan ingkang nylametaken tiyang sak donya (bukan bapak yang berterima kasih, melainkan saya yang harus berterima kasih. Putra bapak yang menyelamatkan manusia sedunia),” kata Sukarmin, mengutip kalimat Gus Dur saat itu.

Barang siapa menyalamatkan satu nyawa, dia menyiapkan seluruh kehidupan, bunyi sebuah ujaran.

Jenazah Riyanto, satu dari tujuh anak Sukarmin (kini lima orang karena dua orang meninggal, termasuk Riyanto), dimakamkan di makam ”Mbah Sabuk Alu” di Kelurahan Prajurit Kulon, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. ”Sempat akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi saya menolak. Nanti jadi jauh kalau akan mengunjungi makam,” ujarnya.

Sampai saat ini, Sukarmin masih menjalani cara kerjanya mencari nafkah dengan mengayuh becak.

Aneka piagam pengangkatan gelar atas pengorbanannya yang diterima keluarga ini dipasang di tembok rumah.

Sukarmin beserta anak dan istrinya melanjutkan hidup mereka. Pemerintah Kota Mojokerto mengubah nama jalan di tempat tinggal keluarga Sukarmin dengan nama Rianto.

Alamat rumah Sukarmin yang anak-anaknya telah berumah tangga dan hidup di sekitar lingkungan tinggal kini bernama Jalan Ryianto Gang Baru No 19, Prajurit Kulon, Mojokerto.

Subiyantoro, adik kandung Riyanto, kini bertindak mendampingi bapaknya jika ada orang bertanya tentang Riyanto.

”Minggu lalu ada kelompok jemaat Gereja Katolik, Probolinggo, datang ke rumah dan ke makam, sekitar 30 orang. Tahun lalu, GP Anshor memperingati haul, tradisi memperingati tokoh Nahdlatul Ulama yang sudah meninggal, hingga memasang tiga tenda, ribuan tamu dan pengajian memenuhi jalan sempit depan rumah. Bapak diminta sudah tak usah memikirkan kerepotannya,” tutur Subiyantoro, yang kini berstatus anak sulung.

Anak-anak Sukarmin kini meneruskan usaha yang pernah dirintis Rianto, yakni membuat cetak sablon.

Adik-adik Riyanto menerima dan mengerjakan cetak sablon untuk pesanan sandal kamar hotel, bungkus karton sepatu, dan semua produk kemasan dengan teknik cetak sablon.

Kesedihan keluarga korban bom tak sungguh-sungguh bisa pulih meski sudah belasan tahun berlalu dan semua penghormatan menghampiri.

 

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Kompas 20 Desember 2017

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...