HomeBeritaMendorong Guru Menjadi Pelopor...

Mendorong Guru Menjadi Pelopor Perdamaian

Dok. AIDA - Sesi diskusi kelompok dalam Pelatihan Guru "Belajar Bersama Menjadi Guru Damai" di Pandeglang, Sabtu (23/4/2017). “Guru tidak hanya dituntut mampu mengomunikasikan wawasan keilmuan kepada siswa tapi juga mampu memotivasi siswa untuk membangun kedamaian di sekolah.”
Dok. AIDA – Sesi diskusi kelompok dalam Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Pandeglang, Sabtu (23/4/2017).

“Guru tidak hanya dituntut mampu mengomunikasikan wawasan keilmuan kepada siswa tapi juga mampu memotivasi siswa untuk membangun kedamaian di sekolah.”

Demikian perwakilan dari Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rizal Alfian, mengutarakan dalam Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Pandeglang, Banten akhir April lalu. Dia mendorong para guru untuk menciptakan sekolah damai. Sekolah damai dalam pandangannya adalah tempat yang kondusif bagi proses belajar mengajar, serta mejamin kenyamanan dan keamanan setiap komponen di sekolah.

Pelatihan selama dua hari itu diikuti dua puluh guru dari lima sekolah di Pandeglang, yaitu SMAN 3, SMAN 4, SMAN 17, SMKN 4, dan SMK Budi Utama. Kegiatan tersebut diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) untuk memperkuat visi perdamaian di kalangan guru melalui kisah penyintas dan mantan pelaku terorisme.

Dalam pelatihan, penyintas aksi teror bom di Hotel JW Marriott Jakarta 5 Agustus 2003, Didik Hariyono, menceritakan pengalamannya terkena ledakan bom. Saat kejadian ia sedang berjalan hendak kembali ke kantornya di Menara Rajawali, berdekatan dengan Hotel JW Marriott, seusai makan siang di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Ketika ia melintas di depan Hotel JW Marriott sebuah mobil meledak. “Saat saya lewat, mobil itu mau masuk menuju lobi hotel. Jadi, posisi saya mendekati mobil yang membawa bom,” ujarnya.

Ledakan itu menewaskan dua belas orang dan melukai 150 lainnya, termasuk Didik. Tubuhnya terlempar sepuluh meter, tangan dan kaki kanannya patah. Selain itu, bom juga menyisakan luka bakar mencapai tujuh puluh persen di sekujur tubuhnya.

Ia menjalani perawatan medis secara intensif di rumah sakit selama sebelas bulan. Operasi pemulihan telah berkali-kali ia jalani. Akibat luka parah yang dialami, Didik harus terbaring di tempat tidur hampir setahun. “Dampak terlalu lama terbaring otot-otot tubuh saya jadi mengecil sehingga saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya harus belajar kembali untuk berjalan, makan, menulis, menggenggam sesuatu, menyisir, dan berbicara,” tuturnya.

Setelah dinyatakan sembuh, pada 2015 Didik mulai kembali bekerja menjadi tenaga administrasi dan teknologi informasi di Balai Desa Minggiran Kecamatan Papar Kediri, Jawa Timur. Di samping kesibukan hariannya di Kediri, dia juga mengemban tugas lain sebagai duta perdamaian. Bersama mantan pelaku aksi terorisme, dengan fasilitasi dari AIDA, dia mengampanyekan perdamaian kepada berbagai elemen masyarakat. Meski telah menderita akibat serangan teror namun Didik tak mendendam mantan pelaku.

“Saya sudah memaafkan mantan pelaku dan berharap dia kembali ke jalan perdamaian. Saya tidak dendam dan marah pada mereka karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak mengurangi beban kita tapi justru menambah beban dalam diri kita,” kata dia.

Selain Didik, mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo, juga berbagi pengalaman masa lalunya terlibat jaringan teroris. Awal mula dirinya tergabung dalam kelompok ekstrem karena diajak temannya di SMA untuk mengikuti kajian keagamaan di luar sekolah. ”Saya diajarkan untuk mengafirkan pemerintah dan aparatnya, membenci simbol-simbol demokrasi, antiupacara bendera, meragukan keislaman orang lain, dan mencapai tujuan dengan kekerasan termasuk perampokan,” ujarnya.

Setelah menjalani masa hukuman karena terlibat kelompok teroris jaringan Bandung, Kurnia memutuskan untuk meninggalkan kelompoknya. Pada 2016 dia dipertemukan dengan penyintas terorisme yang kemudian semakin menguatkan tekadnya menjauhi jalan kekerasan. “Di antara faktor yang mendorong saya untuk kembali ke jalan damai adalah setelah melihat dampak kekerasan yang dialami para penyintas. Setelah bertemu penyintas bom, saya timbul rasa empati dan menyesali semua tindak kekerasan masa lalu,” ucapnya.

Seorang peserta menyampaikan kesan setelah mengikuti pelatihan. Dari penuturan kisah penyintas dia mengaku dapat turut merasakan betapa berat dan perihnya penderitaan yang diakibatkan aksi teror. “Setelah mendengarkan kisah penyintas bom terorisme saya tersadar betapa bahayanya terorisme. Kisah penyintas perlu disebarkan ke pelbagai kalangan untuk menyadarkan masyarakat terhadap dampak dan bahaya terorisme,” kata guru yang mengajar di SMAN 4 Pandeglang itu.

Peserta lain menyatakan akan berkomitmen untuk melindungi anak didiknya dari paham ekstremisme. “Ke depan saya akan membentengi keluarga dan anak didik di sekolah dari ideologi ekstrem,” ujar guru SMK Budi Utama. [AS]

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA Suara Perdamaian edisi XIII Juli 2017

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...