HomeBeritaMeneladani Ketangguhan dan Keluasan...

Meneladani Ketangguhan dan Keluasan Hati Penyintas

Satu kelompok siswa memperagakan yel dalam Seminar Kampanye Perdamaian di SMAN 3 Kota Bima (22/11/2017).
Dok. AIDA – Satu kelompok siswa memperagakan yel dalam Seminar Kampanye Perdamaian di SMAN 3 Kota Bima (22/11/2017).

 

Matanya sembab, pipinya tampak basah. Sesekali dia menghela napas panjang sambil menyapukan kerudung ke bawah matanya. Siswi SMAN 2 Kota Bima itu menitikkan air mata saat menyimak penuturan kisah Chusnul Chotimah, penyintas aksi teror Bom Bali 2002.

Momen itu merupakan bagian dari Seminar Kampanye Perdamaian dengan tema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di lima sekolah di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat akhir November lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menumbuhkan jiwa tangguh dalam diri serta melestarikan perdamaian di masyarakat. Tak kurang dari 50 siswa dari setiap sekolah, yaitu SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 4, dan SMAN 5 Kota Bima mengikuti seminar yang didukung oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Dalam Seminar, Chusnul menceritakan kisahnya saat ditimpa tragedi yang merampas sebagian nikmat hidupnya. Pada 12 Oktober 2002 malam saat aksi teror bom terjadi dia hanya sekadar lewat di Jalan Legian, Bali untuk membeli nasi bungkus. Ratusan orang di kawasan Legian dikejutkan dengan meledaknya sebuah mobil yang belakangan diketahui bermuatan 1,1 ton bahan peledak.

Chusnul memperkirakan jaraknya dengan mobil pembawa bom kurang lebih 10 meter. Ledakan mengakibatkan luka bakar hampir 60 persen di sekujur tubuhnya. Atas bantuan banyak pihak dia menjalani pengobatan hingga ke luar negeri. Dia bersyukur bisa sembuh meski fisiknya tak sempurna seperti sebelum terkena ledakan.

Perempuan paruh baya itu tak putus asa kendati luka akibat bom terkadang menjadi penghalang baginya untuk bangkit. Dengan ketekunan dan doa dia menjalankan usahanya berjualan sayur untuk menambah pemasukan keluarga. Dia mengaku selalu teringat akan tanggung jawabnya sebagai orang tua untuk membesarkan anak. “Di tengah penderitaan karena sakit yang saya rasakan, pikiran saya cuma satu, bagaimana dengan anak saya kalau saya tidak segera bangkit,” ujar Chusnul.

Pada 2016 dia berkesempatan mengikuti kegiatan AIDA yang melibatkan mantan pelaku terorisme. Melalui proses fasilitasi yang bertahap, interaksi antara Chusnul dan mantan pelaku menghasilkan rekonsiliasi. Dia mengaku telah bangkit dari penderitaannya. Rasa marah dan dendam di hati juga ia musnahkan. Kini dia mampu berdiri bersama mantan pelaku untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat.

Dalam Seminar Kampanye Perdamaian di SMAN 2 seorang siswa bertanya kepada Chusnul.“Bagaimana ibu begitu kuat sehingga bisa tegar dan memaafkan pelaku, padahal dia sudah membuat ibu mengalami peristiwa tragis?”

Menanggapi pertanyaan tersebut Chusnul mengaku selalu teringat akan nasihat-nasihat positif yang dia terima dari berbagai pihak, salah satunya dari kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan AIDA.

“Saya diberi wejangan bahwa dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalah, perlahan saya renungkan dan akhirnya dendam itu hilang,” ujarnya.

Di samping Chusnul, Seminar Kampanye Perdamaian juga menghadirkan Sudarsono Hadisiswoyo, penyintas aksi teror bom di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004. Secara bergantian Chusnul dan Sudarsono membagikan kisahnya kepada para siswa di Kota Bima.

Selain penuturan kisah penyintas, Seminar Kampanye Perdamaian juga menghadirkan Iswanto, mantan pelaku terorisme. Dia mengisahkan saat tergabung dengan jaringan terorisme sering mendapatkan anjuran-anjuran yang dia rasakan tidak sejalan dengan Islam.  Di antaranya dia dilarang berterus terang kepada orang tua serta ditekankan untuk membenci dan memerangi semua orang yang beragama lain.

“Saya baca lagi kitab-kitab rujukan agama Islam, kebetulan saya punya dasar Bahasa Arab jadi saya tahu dan bisa membedakan mana yang sesungguhnya benar-benar dianjurkan dan mana yang tidak,” dia menerangkan.

Tekadnya untuk meninggalkan kelompok kekerasan bulat setelah gurunya menganjurkan untuk meninggalkan cara-cara kekerasan dalam mengajak masyarakat pada kebaikan. Dia juga mengaku semakin yakin setelah mengetahui secara langsung dampak aksi terorisme yang melekat pada diri korban. Dalam Seminar Kampanye Perdamaian Iswanto meminta maaf kepada para korban secara umum lantaran dirinya pernah tergabung dengan kelompok teroris.

Sebagian siswa mengutarakan kesan setelah mengikuti Seminar Kampanye Perdamaian. Seorang siswa dari SMAN 1 mengaku takjub akan ketangguhan dan keluasan hati korban yang mampu memaafkan mantan pelaku. ”Sangat mustahil jika korban memaafkan pelaku, kecuali dengan hati dan jiwa yang sangat besar,” kata dia.

Salah satu peserta Seminar Kampanye Perdamaian di SMAN 5 mengungkapkan bahwa dia memetik banyak pelajaran berharga dari kegiatan tersebut. Dia mengatakan, “Dari acara tadi saya belajar kita itu harus memaafkan orang lain sehingga bisa mengubah diri kita dari perilaku yang buruk menjadi perilaku yang lebih baik.” Peserta lain dari SMAN 4 menyampaikan, “Kekerasan tidak harus dibalas lagi dengan kekerasan, kalau ada yang berbuat kekerasan dibalas saja dengan senyuman dan kebaikan.” [F]

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XV Januari 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....