HomeInspirasiAspirasi DamaiRahmat Bagi Seluruh Alam

Rahmat Bagi Seluruh Alam

Dok. Pribadi

 

Kemajuan peradaban bangsa yang majemuk, seperti Indonesia, akan terwujud bila kekayaan budayanya dipertahankan. Itulah yang saya yakini sebagai sebuah prinsip kehidupan. Indonesia adalah bangsa yang besar dengan beragam suku, bahasa, agama, dan adat istiadat. Kebinekaan budaya tersebut bisa menjadi anugerah bila bangsa Indonesia menyikapinya secara positif. Sebaliknya, itu akan menjadi sumber perpecahan jika tidak dipelihara dengan baik.

Saya merasa ditakdirkan untuk menyaksikan fakta keberagaman bangsa Indonesia itu. Saya lahir di Medan, Sumatera Utara dengan latar belakang kesukuan Batak serta nama marga Simatupang. Meskipun kebanyakan orang bermarga Simatupang adalah nonmuslim, saya sendiri meyakini Islam sebagai agama yang menuntun saya ke jalan kebenaran. Secara rutin dalam periode waktu tertentu keluarga besar kami berkumpul untuk merekatkan silaturahmi dengan suasana yang rukun dan damai.

Sejak kecil saya dididik oleh orang tua untuk menghormati keyakinan serta menghargai peribadatan umat agama lain, baik dalam keluarga besar Simatupang maupun di masyarakat secara umum. Secara bersamaan orang tua menekankan kepada saya untuk selalu mengingat kewajiban sebagai seorang muslim, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan amalan peribadatan lainnya. Pada intinya yang saya resapi dari didikan orang tua saya adalah bahwa menjadi seorang muslim tidak lantas membatasi diri saya untuk bersikap baik kepada orang yang memeluk agama lain.

Di bangku sekolah saya diajarkan oleh guru saya bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, artinya menjadi rahmat atau kasih sayang bagi semua penghuni alam semesta. Dari banyak nasihat yang ditanamkan oleh orang tua dan guru, saya belajar untuk menerapkan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan saya agar bisa dirasakan juga oleh orang yang belum mengenal Islam.

Ketika masih bersekolah di SMA Negeri 5 Medan saya bergaul dengan teman-teman dari beragam agama. Perbedaan agama tidak membatasi saya untuk menjalin pertemanan. Selama teman itu baik, saya juga selalu bersikap baik kepada dia. Saya ingat hadis Nabi yang pernah disampaikan oleh guru saya, yang menyebutkan bahwa seorang muslim yang baik adalah yang tidak menimpakan gangguan kepada orang lain baik dengan lisan maupun tangannya.

Saya punya pengalaman menginap di rumah seorang teman nonmuslim saat SMA. Di sana saya disambut dengan baik oleh keluarganya. Tidak saya sangka bahkan keluarga teman tersebut menyiapkan tempat yang cukup baik bagi saya untuk shalat. Waktu itu saya merasa terhormat sebagai seorang muslim diperlakukan sangat baik di rumah seorang nonmuslim. Di lain kesempatan saat ada teman nonmuslim yang menginap di rumah saya, keluarga saya juga memperlakukan teman saya itu dengan baik. Saat bertepatan dengan hari Minggu, saya mengingatkan dia untuk beribadah ke gereja.

Kini, ketika saya kuliah di Universitas Brawijaya (UB) di Malang, Jawa Timur, saya berusaha melanjutkan tradisi hidup rukun dan damai dengan orang lain meskipun berlainan agama. Saya ingin menunjukkan bahwa Islam itu rahmat bagi semesta alam kepada teman-teman saya di kampus. Saya menekankan prinsip seperti yang disebutkan dalam Alquran, “bagimu agamamu dan bagiku agamaku sendiri” dalam masalah keyakinan. Di luar itu dalam urusan sosial saya menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan sesama mahasiswa UB.

Saya pernah mengontrak rumah bersama teman-teman sekampus di mana sebagiannya adalah nonmuslim. Baik kami yang muslim maupun beberapa teman yang nonmuslim sama-sama saling menghormati keyakinan masing-masing. Di antara kami tidak pernah terjadi perselisihan yang diakibatkan dari perbedaan agama.

Kami juga beberapa kali berdiskusi tentang isu-isu keagamaan yang menghangat belakangan. Di situ kami membahas maraknya ujaran kebencian terhadap umat agama tertentu di media sosial dengan memakai ayat-ayat dalam kitab suci. Saya mencoba menjelaskan semampu saya kepada teman-teman saya yang nonmuslim bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan, justru sebaliknya agama ini menganjurkan perdamaian di antara umat manusia. Saya menekankan kepada teman-teman saya untuk tidak mudah terprovokasi dan terpecah belah oleh orang yang tidak senang dengan persatuan.

Negara kita, Indonesia, berdiri kokoh dari Sabang sampai Merauke sampai saat ini karena adanya persatuan di antara bangsanya. Persatuan dalam arti semangat seluruh warga dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perbedaan memang suatu keniscayaan dalam bangsa yang besar ini, dan itu harus kita pandang sebagai kekayaan budaya, bukan sebaliknya, sumber konflik dan perpecahan.

Saya bersyukur bisa beranjak dewasa hingga menginjak 21 tahun saat ini dan merasakan nikmat kebahagiaan. Bahagia karena saya tumbuh besar di lingkungan masyarakat yang plural di mana warganya hidup rukun berdampingan. Saya yakin setiap orang di lingkungan saya tinggal –baik di Medan maupun Malang- pasti menyadari bahwa ada beberapa hal yang secara tegas sangat bertolak belakang dalam urusan agama. Akan tetapi, kami menyikapinya dengan mengungkapkan, “Kita boleh saja tidak bersaudara di dalam satu akidah tapi kita tetaplah bersaudara di dalam kemajemukan bangsa ini”. Dengan penyikapan seperti itu sehingga terbentuklah nilai toleransi di antara saya, dia, mereka, hingga menjadi KITA.

Sebagai generasi muda saya mengajak kepada teman-teman sesama muslim untuk merenungi makna agama kita yang rahmatan lil alamin. Allah SWT bersabda dalam Surat Al-Anbiya ayat 107, “Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.” Nabi Muhammad SAW, panutan kita dalam memeluk agama ini, dihadirkan di dunia ini untuk menebarkan kasih sayang kepada semua makhluk.

Setelah berhijrah dari Mekah ke Madinah, beliau memimpin masyarakat untuk membangun peradaban. Di sana tidak hanya umat muslim yang beliau libatkan tetapi umat agama lain yang minoritas juga diikutkan untuk bersama-sama membangun Madinah agar peradabannya menjadi maju. Saat terjadi penaklukan kota Mekah, Nabi Muhammad tidak menganjurkan umatnya untuk membantai orang-orang kafir yang ada di Mekah. Beliau malah mengampuni dan menjamin keselamatan warga Mekah. Artinya, agama kita secara tegas menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan toleransi. Semangat rahmatan lil alamin seperti inilah yang harus kita tanamkan dalam diri kita sebagai generasi muda yang menjadi tumpuan masa depan Indonesia.

 

 

Oleh: Muammar Sazaly Simatupang, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....