HomeBeritaSudut Pandang Korban dalam...

Sudut Pandang Korban dalam Liputan Isu Terorisme

Wayan Leniasih, korban Bom Bali 2002, menyampaikan kisahnya dalam Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme Bagi Insan Media di Surabaya (10/7/2018).
Dok. AIDA – Wayan Leniasih, korban Bom Bali 2002, menyampaikan kisahnya dalam Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme Bagi Insan Media di Surabaya (10/7/2018).

 

Situasi keamanan mencekam sempat dirasakan warga Surabaya pada Mei lalu. Serentetan aksi bom bunuh diri meledak di beberapa sudut metropolitan terbesar kedua di Indonesia itu. Para wartawan lantas bergegas memberitakan informasi paling mutakhir seputar kejadian teror.

Sesaat setelah kejadian fokus kebanyakan jurnalis tertuju pada perspektif peristiwa, informasi dasar tentang apa, di mana, kapan, serta siapa terkait aksi teror itu. Acap kali pemberitaan isu terorisme di media memberikan porsi yang lebih banyak untuk ulasan mengenai pelaku, sementara sudut pandang korban minim dimunculkan.

Pertengahan Juli lalu puluhan wartawan media massa nasional dan lokal di Surabaya mengikuti Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media. Kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya pengarusutamaan sudut pandang korban dalam pemberitaan isu terorisme.

Hadir dalam kegiatan itu mantan anggota Dewan Pers dan pendiri Indonesia New Media Watch, Agus Sudibyo. Dia menyampaikan materi terkait pedoman peliputan isu terorisme. Bila kurang berhati-hati, kata dia, liputan media tentang aksi terorisme bisa memperbesar efek ketakutan yang ditimbulkan di masyarakat.

Selain itu, siaran langsung (live) aksi teror di televisi bisa dimanfaatkan oleh teroris untuk menggagalkan operasi kontrateror aparat keamanan. Agus mencontohkan kasus serangan teror di Mumbai pada 2008 di mana gerak gerik aparat saat mencoba melumpuhkan para teroris yang menyandera ratusan orang di dalam Hotel Taj Mahal Palace disiarkan secara real-time di televisi. Media televisi tidak menyadari bahwa siaran langsung mereka sangat membantu para teroris untuk mengantisipasi langkah aparat. Hasilnya, sejumlah aparat anggota squad antiteror India meregang nyawa sia-sia setelah berusaha memasuki hotel. Para teroris bahkan mampu bertahan menduduki hotel dan menyandera ratusan orang, puluhan di antaranya adalah warga negara asing, selama 4 hari sebelum akhirnya dilumpuhkan.

Insiden di Mumbai menurut Agus menjadi contoh terbaik bagaimana di antara media dan terorisme bisa terbentuk simbiosis mutualisme. Media membutuhkan peristiwa yang luar biasa, pada saat yang bersamaan kelompok teroris menginginkan publikasi yang luas. Dia menekankan kepada para peserta untuk memahami persoalan ini sehingga liputan berita yang dikerjakan tidak menguntungkan para pelaku teror.

Dosen ilmu komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Hanif Suranto, dalam kegiatan tersebut menunjukkan kepada peserta contoh-contoh pemberitaan isu terorisme di media televisi nasional. Pada awal tahun 2000-an, kata dia, liputan aksi teror di TV nasional bayak menampilkan sisi sadisme dari aksi teror yang terjadi. Liputan kasus bom buku di Jakarta pada Selasa (15/3/2011), misalnya, menampilkan saat-saat ketika tangan seorang polisi terluka dengan kondisi mengenaskan akibat ledakan bom. Pemberitaan insiden bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton Solo pada Minggu (25/9/2011) juga serupa. Media TV menampilkan ceceran darah di lokasi kejadian meskipun mengaburkan gambar jasad pelaku yang terburai isi perutnya.

Liputan-liputan tersebut, kata Hanif, kurang mengindahkan etika jurnalisme. Mantan wartawan tersebut juga menampilkan video liputan aksi terorisme yang memiliki perspektif lebih positif. Di antaranya adalah liputan aksi terorisme di Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat pada Kamis (14/1/2016) yang dibuat oleh NET di mana perspektif korban mulai muncul. Dalam liputan itu seorang korban Bom Thamrin, Andi Dina Noviana, diwawancara terkait dampak fisik dan psikis dari aksi teror Bom Thamrin.

Memunculkan perspektif korban dalam peliputan isu terorisme, menurut Hanif, memiliki nilai lebih, tidak sekadar melaporkan fakta bahwa telah terjadi aksi teror bom. Dengan mengangkat perspektif korban liputan media dapat mendorong pemerintah untuk memenuhi hak-hak korban. “Kawan-kawan jurnalis juga bisa menyuarakan ke publik bahwa ternyata dari penelusuran AIDA ditemukan fakta sebagian besar korban bom di Indonesia belum mendapatkan kompensasi yang mestinya diberikan Negara,” ujarnya.

Selain materi tentang jurnalisme dari Agus dan Hanif, para peserta mendapatkan pengayaan pengetahuan tentang peta jaringan dan strategi media kelompok teroris yang disampaikan oleh peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia, Solahudin. Peserta juga menyimak kisah korban terorisme, yaitu Zaidin Zaenal (korban Bom Kuningan 2004) dan Wayan Leniasih (korban Bom Bali 2002). Tim Perdamaian AIDA, yaitu gabungan antara penyintas dan mantan pelaku terorisme yang telah menjalin rekonsiliasi, juga berbagi kisah dalam kegiatan. Mereka adalah Albert Christiono (penyintas Bom Kuningan 2004) dan Ali Fauzi Manzi (mantan anggota kelompok teroris). [MLM]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...