HomeBeritaKorban Bom: Saya dan...

Korban Bom: Saya dan Anak-anak Telah Memaafkan Pelaku

Para peserta mengikuti sesi permainan di sela kegiatan Dialog Interaktif di SMAN 13 Bandar Lampung (16/11/2017)
Para peserta mengikuti sesi permainan di sela kegiatan Dialog Interaktif di SMAN 13 Bandar Lampung (16/11/2017).

 

Dengan lirih perempuan berkerudung itu menceritakan kehidupan diri dan keluarganya yang berubah drastis sepeninggal suami.Ia kehilangan tulang punggung keluarga sekaligus ayah bagi dua buah hatinya. Sang suami pergi untuk selamanya setelah menjadi korban aksi teror Bom Bali, lima belas tahun silam.

Namanya Hayati Eka Laksmi. Suami Eka, Imawan Sardjono, adalah satu dari 202 korban jiwa akibat teror bom di kawasan Legian, Bali 12 Oktober 2002. Menurut Eka saat kejadian suaminya sedang melintas mengendarai mobil di Jalan Legian yang selalu ramai dipadati wisatawan. Sepeninggal suami, ia harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya.

Setelah lama berlalu, kini Eka dan anak-anaknya telah melangkah ke depan melampaui peristiwa itu. “Saya dan anak-anak telah memaafkan pelaku.Anak saya sempat bertemu dengan anaknya salah seorang pelaku Bom Bali.Setelah pertemuan itu anak saya bisa ikhlas menerima keadaan yang menimpa bapaknya dan memaafkan pelaku,” ujarnya.

Eka menuturkan kisahnya tersebut dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bandar Lampung pertengahan November lalu. Kegiatan tersebut diselenggarakan di SMAN 5, SMAN 7, SMAN 10, SMAN 12, dan SMAN 13 Bandar Lampung dengan tujuan untuk menanamkan semangat perdamaian di kalangan pelajar.

Selain Eka, seorang penyintas aksi teror bom di Hotel JW Marriott Jakarta, Vivi Normasari, juga turut membagi kisahnya dalam safari Dialog Interaktif di ibu kota Provinsi Lampung. Di samping Eka dan Vivi sebagai penyintas, dalam Dialog Interaktif juga dihadirkan mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi. Eka, Vivi, dan Ali Fauzi telah berekonsiliasi dan kini bersatu mengampanyekan perdamaian di masyarakat.

Setelah mendengarkan kisah Eka, salah satu siswa SMAN 12 bertanya, “Mengapa Ibu bisa memaafkan seseorang yang telah merenggut nyawa suami Ibu?” Menanggapi pertanyaan itu, Eka menjelaskan bahwa jika dirinya selalu menyimpan dendam dan amarah maka tidak akan ada kedamaian. Selain itu dendam dan amarah juga tidak akan menyelesaikan masalah.

“Untuk apa menyimpan dendam? Tidak akan membangkitkan yang sudah mati menjadi hidup kembali. Ikhlaskan saja karena hidup harus terus berjalan,” kata dia.

Pada kesempatan terpisah Vivi membagi pengalamannya yang sempat kehilangan rasa percaya diri untuk menghadapi pernikahan akibat terdampak ledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta 5 Agustus 2003.Akibat ledakan itu tangan kanannya mengalami cacat permanen dan tidak bisa lagi berfungsi secara normal.Ia mengaku malu dan tak percaya diri bila berjabat tangan dengan orang lain.

“Padahal saya dan calon suami sudah merencanakan menikah pada November 2003, namun akibat ledakan bom, saya harus mengubur impian untuk melangsungkan pernikahan karena kehilangan rasa percaya diri,” ucapnya.

Vivi menjelaskan kala peristiwa teror terjadi dia sedang duduk di Restoran Syailendra di Hotel JW Marriott Jakarta.“Tiba-tiba saya mendengar bunyi ledakan.Saya refleks menoleh ke sumber asal ledakan dan seketika ada ledakan kedua yang sangat dahsyat. Kobaran api dari ledakan itu menyambar saya. Seketika saya tak sadarkan diri,” kata dia mengenang peristiwa.

Anggota Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku, Ali Fauzi, berbagi pengalaman masa lalunya saat tergabung dalam jaringan terorisme sebelum akhirnya meninggalkan dunia kekerasan.Keputusannya keluar dari kelompok teroris menuai kecaman dan ancaman dari rekan-rekannya dahulu.Menurut dia ada beberapa faktor yang mendorongnya untuk bertekad keluar dari jaringan ekstremisme.Salah satunya adalah pertemuannya dengan korban.

“Mendengarkan kisah korban, saya menangis dan hati saya tersayat. Betapa beratnya penderitaan yang dialami mereka.Mereka tidak tahu apa-apa, ada yang sedang melintas di jalan raya atau makan siang di hotel tiba-tiba kena bom,” ujarnya.Dalam kesempatan itu, Ali menyampaikan permohonan maaf kepada para korban.

Ia mengajak para siswa peserta Dialog Interaktif untuk tidak terjerumus dalam jaringan ekstremisme. Menurut dia generasi muda bisa melindungi diri dari pengaruh kelompok ekstrem dengan cara mengetahui ciri-cirinya.

“Kita harus tahu ciri-ciri mereka. Jika tidak, maka akan mudah dipengaruhi dan direkrut. Di antara ciri mereka yaitu selalu mengusung permusuhan dan kebencian terhadap pemerintah dan orang-orang yang berbeda pemikiran dengan mereka.Selain itu mereka juga menganggap sesat peraturan atau undang-undang yang dibuat pemerintah,” kata dia.

Salah seorang siswa SMAN 5 mengaku setelah mengikuti kegiatan Dialog Interaktif dirinya semakin mencintai Indonesia dan ingin menjaga perdamaian di negeri ini.Ia berharap ke depan tidak ada lagi masyarakat yang menjadi pelaku atau pun korban terorisme. [AS]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...