HomeInspirasiSuara Mantan PelakuKisah Pertobatan Eks-Kombatan, Iswanto

Kisah Pertobatan Eks-Kombatan, Iswanto

Iswanto, mantan pelaku terorisme.
Iswanto, mantan pelaku terorisme. [dok. AIDA]

Kisah ini menceritakan tentang seorang pemuda asal Lamongan, Jawa Timur, bernama Iswanto. Dahulu ia pernah berkecimpung dalam kelompok kekerasan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya sadar dan keluar dari kelompok tersebut.

Pengalaman hidup Iswanto diungkapkan bukan untuk mencontohkan kekerasan, melainkan dimaksudkan untuk menjadi bahan pelajaran mengenai pentingnya perdamaian. Ini juga bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat dampak kerusakan yang luar biasa bila perdamaian tidak dipelihara dengan baik.

Dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Jawa Timur, Iswanto berbagi pengalaman ketika terlibat dalam jaringan terorisme. Ketika berusia 17 tahun ia sudah berbaiat dan bergabung dengan Jamaah Islamiyah (JI), kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, yang sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang karena terlibat aksi-aksi terorisme di Indonesia. Saat bergabung dengan kelompok itu dia dilatih menggunakan senjata api, merakit bom serta diajari berbagai taktik perang.

Iswanto menceritakan pernah terlibat kasus kerusuhan di Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah pada awal Reformasi. Dia bergabung dengan satu komunitas tertentu yang berkonflik dengan komunitas lain. Dia tularkan keahliannya menggunakan senjata api dan merakit bom kepada orang-orang Ambon dan Poso yang sedang berkonflik.

Jauh-jauh dari Jawa dia mendatangi dua daerah itu dengan semangat yang dia yakini sebagai jihad, perjuangan untuk membela agama. Perspektifnya tentang jihad persis seperti yang didoktrinkan oleh guru-gurunya, yaitu bahwa makna jihad adalah perang, sehingga yang ada di pikirannya hanya perang dan perang. Waktu itu ia juga berpandangan bahwa pemerintah Indonesia harus diperangi, karena tidak sesuai dengan negara ideal sebagaimana yang dicita-citakan, yaitu negara yang berlandaskan agama secara mutlak.

Sepulang dari wilayah konflik, Iswanto mengajar di sekolahnya dulu, pesantren Al-Islam Lamongan. Setelah peristiwa Bom Bali I (12/10/2002) meledak, beberapa orang gurunya yang juga mengajar di pesantren itu ditangkap aparat karena diduga terlibat aksi pemboman tersebut. Dia sempat khawatir akan dipenjara seperti guru-gurunya lantaran pernah diajak bergabung ke JI. Namun, investigasi polisi menunjukkan dia tidak terlibat dalam aksi terorisme baik di Bali maupun daerah-daerah lain di Indonesia.

Setelah tragedi Bom Bali, Iswanto mengevaluasi cara pandangnya tentang ajaran jihad. Salah satu gurunya, Ali Imron, yang divonis penjara seumur hidup karena terlibat Bom Bali I memintanya untuk tidak melanjutkan aksi-aksi kekerasan. Ia juga membaca ulang buku-buku rujukan tentang jihad, di mana disebutkan bahwa makna jihad sangat luas, tidak terbatas pada perang. Dia meyakini bahwa menuntut ilmu dengan niat tulus ikhlas juga merupakan jihad. Dari momen itu keinginannya untuk meninggalkan kelompok kekerasan menguat.

“Inspirasi saya keluar dari jaringan ini, saya sekolah lagi. Saya ikuti ujian persamaan untuk mendapat ijazah SMA, kemudian saya lanjut ambil S1 dan S2,” ujarnya.

Iswanto semakin tersadarkan bahwa keputusannya meninggalkan dunia kekerasan adalah tepat, ketika dipertemukan dengan korban aksi teror. Dalam kegiatan yang diselenggarakan AIDA dia bertemu dengan sejumlah korban. Dia menyaksikan secara langsung bagaimana aksi kekerasan terorisme merusak kehidupan orang-orang yang secara tak disengaja mengalami dampaknya.

“Saya banyak berpikir ketika mereka menunjukkan video bagaimana mereka bangkit, padahal di antara mereka ada yang kehilangan kedua kakinya, ada yang kehilangan matanya,” kata dia.

Meskipun tidak terlibat aksi terorisme mana pun, Iswanto meminta maaf kepada para korban. Bersama AIDA ia pernah menemani beberapa korban terorisme untuk bertemu dengan Ali Imron di dalam penjara. “Kalimat pertama yang diucapkan guru saya itu juga minta maaf,” ucapnya, seraya berharap agar teman-temannya yang pernah terlibat dalam jaringan kekerasan bertobat.

Tak lagi hidup di dunia kekerasan, Iswanto kini menjadi guru profesional bahkan telah lulus sertifikasi. “Dulu saya sering memegang senjata, sekarang saya banyak memegang pulpen,” ujarnya.

Di samping itu dia membuka usaha toko kelontong yang ia kelola bersama istrinya. Dia juga bekerja sebagai pembimbing umroh. Setiap tahun ia membimbing rombongan jamaah umroh untuk beribadah di Tanah Suci. [F]

 

*Disarikan dari penuturan kisah Iswanto dalam Seminar dan Bedah Buku “Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris & Korbannya” di Universitas Jember, 30 April 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....