Mantan Pelaku Terorisme, Iswanto
Home Inspirasi Suara Mantan Pelaku Kisah Pertobatan Eks-Kombatan, Iswanto
Suara Mantan Pelaku - 12/09/2018

Kisah Pertobatan Eks-Kombatan, Iswanto

Iswanto, mantan pelaku terorisme.
Iswanto, mantan pelaku terorisme. [dok. AIDA]

Kisah ini menceritakan tentang seorang pemuda asal Lamongan, Jawa Timur, bernama Iswanto. Dahulu ia pernah berkecimpung dalam kelompok kekerasan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya sadar dan keluar dari kelompok tersebut.

Pengalaman hidup Iswanto diungkapkan bukan untuk mencontohkan kekerasan, melainkan dimaksudkan untuk menjadi bahan pelajaran mengenai pentingnya perdamaian. Ini juga bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat dampak kerusakan yang luar biasa bila perdamaian tidak dipelihara dengan baik.

Dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Jawa Timur, Iswanto berbagi pengalaman ketika terlibat dalam jaringan terorisme. Ketika berusia 17 tahun ia sudah berbaiat dan bergabung dengan Jamaah Islamiyah (JI), kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, yang sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang karena terlibat aksi-aksi terorisme di Indonesia. Saat bergabung dengan kelompok itu dia dilatih menggunakan senjata api, merakit bom serta diajari berbagai taktik perang.

Iswanto menceritakan pernah terlibat kasus kerusuhan di Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah pada awal Reformasi. Dia bergabung dengan satu komunitas tertentu yang berkonflik dengan komunitas lain. Dia tularkan keahliannya menggunakan senjata api dan merakit bom kepada orang-orang Ambon dan Poso yang sedang berkonflik.

Jauh-jauh dari Jawa dia mendatangi dua daerah itu dengan semangat yang dia yakini sebagai jihad, perjuangan untuk membela agama. Perspektifnya tentang jihad persis seperti yang didoktrinkan oleh guru-gurunya, yaitu bahwa makna jihad adalah perang, sehingga yang ada di pikirannya hanya perang dan perang. Waktu itu ia juga berpandangan bahwa pemerintah Indonesia harus diperangi, karena tidak sesuai dengan negara ideal sebagaimana yang dicita-citakan, yaitu negara yang berlandaskan agama secara mutlak.

Sepulang dari wilayah konflik, Iswanto mengajar di sekolahnya dulu, pesantren Al-Islam Lamongan. Setelah peristiwa Bom Bali I (12/10/2002) meledak, beberapa orang gurunya yang juga mengajar di pesantren itu ditangkap aparat karena diduga terlibat aksi pemboman tersebut. Dia sempat khawatir akan dipenjara seperti guru-gurunya lantaran pernah diajak bergabung ke JI. Namun, investigasi polisi menunjukkan dia tidak terlibat dalam aksi terorisme baik di Bali maupun daerah-daerah lain di Indonesia.

Setelah tragedi Bom Bali, Iswanto mengevaluasi cara pandangnya tentang ajaran jihad. Salah satu gurunya, Ali Imron, yang divonis penjara seumur hidup karena terlibat Bom Bali I memintanya untuk tidak melanjutkan aksi-aksi kekerasan. Ia juga membaca ulang buku-buku rujukan tentang jihad, di mana disebutkan bahwa makna jihad sangat luas, tidak terbatas pada perang. Dia meyakini bahwa menuntut ilmu dengan niat tulus ikhlas juga merupakan jihad. Dari momen itu keinginannya untuk meninggalkan kelompok kekerasan menguat.

“Inspirasi saya keluar dari jaringan ini, saya sekolah lagi. Saya ikuti ujian persamaan untuk mendapat ijazah SMA, kemudian saya lanjut ambil S1 dan S2,” ujarnya.

Iswanto semakin tersadarkan bahwa keputusannya meninggalkan dunia kekerasan adalah tepat, ketika dipertemukan dengan korban aksi teror. Dalam kegiatan yang diselenggarakan AIDA dia bertemu dengan sejumlah korban. Dia menyaksikan secara langsung bagaimana aksi kekerasan terorisme merusak kehidupan orang-orang yang secara tak disengaja mengalami dampaknya.

“Saya banyak berpikir ketika mereka menunjukkan video bagaimana mereka bangkit, padahal di antara mereka ada yang kehilangan kedua kakinya, ada yang kehilangan matanya,” kata dia.

Meskipun tidak terlibat aksi terorisme mana pun, Iswanto meminta maaf kepada para korban. Bersama AIDA ia pernah menemani beberapa korban terorisme untuk bertemu dengan Ali Imron di dalam penjara. “Kalimat pertama yang diucapkan guru saya itu juga minta maaf,” ucapnya, seraya berharap agar teman-temannya yang pernah terlibat dalam jaringan kekerasan bertobat.

Tak lagi hidup di dunia kekerasan, Iswanto kini menjadi guru profesional bahkan telah lulus sertifikasi. “Dulu saya sering memegang senjata, sekarang saya banyak memegang pulpen,” ujarnya.

Di samping itu dia membuka usaha toko kelontong yang ia kelola bersama istrinya. Dia juga bekerja sebagai pembimbing umroh. Setiap tahun ia membimbing rombongan jamaah umroh untuk beribadah di Tanah Suci. [F]

 

*Disarikan dari penuturan kisah Iswanto dalam Seminar dan Bedah Buku “Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris & Korbannya” di Universitas Jember, 30 April 2018.