HomeBeritaMengenang Korban Tragedi 911

Mengenang Korban Tragedi 911

Dok. Boston.com - Seseorang tengah berkabung di tempat peringatan titik nol, mengenang kembali anggota keluarganya yang meninggal di World Trade Center 17 Tahun silam.
Dok. Boston.com – Seseorang tengah berkabung di tempat peringatan titik nol, mengenang kembali anggota keluarganya yang meninggal di World Trade Center 17 Tahun silam.

 

Sebanyak 2983 nama dibacakan di Ground Zero atau 9/11 Memorial Plaza di New York untuk mengenang mereka yang telah tiada menjadi korban serangan teror 11 September 2001, Selasa (11/9/2018) lalu.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak serangan yang disebut pemerintah Amerika Serikat (AS) dilancarkan oleh jaringan teroris Al Qaeda terjadi di tiga lokasi: menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, markas pertahanan AS di Pentagon, dan kawasan ladang di Shanksville, Pennsylvania.

Ribuan orang baik dari keluarga korban maupun masyarakat umum menghadiri upacara peringatan Tragedi 911 setiap tahunnya. Meskipun ritualnya sama tiap tahun, yaitu membacakan nama-nama korban sebagai bentuk penghormatan, mereka menilai kegiatan itu penting untuk selalu menyadarkan masyarakat akan bahaya terorisme.

Bagi Tom dan JoAnn Meehan yang kehilangan anak perempuan mereka, Colleen Barkow, upacara pembacaan nama korban sangat penting dan harus dilestarikan. “Kami bersyukur mereka melanjutkan acara pembacaan nama-nama setiap tahun,” kata Tom Meehan. Sebelum meninggalnya Colleen, keluarga Meehan sudah kehilangan beberapa anggota keluarga. Tetapi, kehilangan Colleen kata Tom “tidak seperti kehilangan yang lain.”

Upacara peringatan tragedi 911 disela dengan enam kali mengheningkan cipta. Pertama, pada pukul 8.46 waktu setempat, menandai saat ketika pesawat komersial American Airlines Penerbangan 11 –yang dibajak oleh teroris– menabrak menara utara gedung WTC. Kedua, pukul 9.03, sebagai tanda pesawat maskapai United Airlines Penerbangan 175 menghantam menara selatan.

Mengheningkan cipta selanjutnya adalah pada pukul 9.37, yaitu waktu ketika pesawat lain dari American Airlines bernomor Penerbangan 77 yang diarahkan teroris menyasar Pentagon.

Kemudian, mulai pukul 9.59, tiga kali momen mengheningkan cipta dilakukan setiap 30 menit sebagai tanda: runtuhnya menara selatan WTC; jatuhnya pesawat United Airlines Penerbangan 93 di kawasan ladang dekat Shanksville, Pennsylvania; dan terakhir, runtuhnya menara utara WTC.

Di Museum 9/11 New York, dipamerkan rekaman suara terakhir para korban. Mereka adalah penumpang dan awak pesawat yang dibajak, serta pegawai yang sedang bekerja di dalam gedung WTC yang runtuh.

Salah satunya adalah rekaman suara Melissa Harrington Hughes. Saat itu, Hughes sedang berada di New York untuk keperluan bisnis. Dia menelepon suaminya, Sean, yang berada di San Francisco saat terjebak di WTC. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Saat ini aku terjebak di gedung ini (WTC) di New York,” ujar Hughes dalam pesan suara. “Banyak asap di sini. Sekali lagi aku hanya ingin engkau tahu aku bakal mencintaimu sampai kapan pun.”

Ada juga suara mendiang Melissa Doi, lulusan Universitas Northwestern yang terjebak di gedung WTC, bekerja sebagai manajer di IQ Financial Systems. Dia menelepon layanan darurat 911 dari lantai 83 menara selatan. “Sangat panas di sini. Saya bisa melihat… saya tidak bisa melihat, saya tak bisa melihat apapun!” kata Doi.

Petugas 911 hanya bisa menenangkannya dengan sahutan, “Oke.”

Doi kemudian mulai putus asa saat asap dan panas menyergap ruangannya. “Saya bakal mati, kan?” Petugas layanan darurat 911 sempat berusaha menyemangati, “Tidak, tidak, tidak. Bu, tolong Anda mulai berdoa sekarang. Anda harus tetap berpikir positif. Sebab Anda harus saling menolong di lantai itu.”

Apa daya, Doi tak bisa selamat dari tragedi itu. Yang bisa dikenang darinya kini hanya rekaman suaranya ketika menelepon 911 sesaat sebelum menghembuskan napas terakhir.

Sementara itu, di lokasi berbeda, Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump mengunjungi Shanksville, Pennsylvania dan turut berpartisipasi dalam peringatan 17 tahun 9/11. Lokasi itu adalah lokasi di mana teroris membajak pesawat United Airlines Penerbangan 93 hingga jatuh dan menewaskan 40 penumpang beserta awak.

Trump dan Melanie melakukan penghormatan kepada orang-orang yang telah mempertaruhkan nyawanya melakukan perlawanan terhadap para pembajak sehingga pesawat jatuh di lahan kosong untuk menghindari kawasan padat penduduk.

Selain Flight 93 National Memorial, di Shanksville saat ini tengah dibangun Tower of Voices yang didedikasikan untuk para pemberani yang mempertaruhkan nyawa melawan balik para teroris di dalam pesawat. Berdiri setinggi 93 kaki, Tower of Voices akan memuat 40 lonceng angin sebagai penghormatan kepada 40 penumpang dan awak pesawat yang tewas.

Meski 17 tahun telah berlalu hanya sekitar 60% korban meninggal dunia yang telah berhasil teridentifikasi. Ini dikarenakan 1,8 juta ton puing reruntuhan menara kembar WTC telah dibuang lebih awal pascakejadian. Di dalam puing runtuhan itu dikhawatirkan masih terdapat potongan jenazah para korban.

Meski proses identifikasi korban terhambat namun prosesnya masih terus berlanjut. Hal ini memberi harapan besar bagi ribuan keluarga korban untuk menemukan jasad anggota keluarga mereka yang tewas dalam serangkaian kejadian nahas tersebut.

“Kami bersyukur bahwa identifikasi terus berlanjut, tetapi ada lebih banyak materi (tubuh korban) yang terpisah,” kata Diane Horning, pemimpin advokasi keluarga korban atau yang disebut World Trade Center Families.

Horning merupakan orang tua dari Matthew, salah satu pekerja yang menjadi korban tewas dalam peristiwa tersebut. Matthew tengah bekerja di menara utara WTC di lantai 95 saat peristiwa terjadi.

Salah satu korban jiwa lainnya dalam tragedi itu adalah seorang wakil direktur utama perusahaan AON Corporation, Kevin Cosgrove, yang sempat viral dengan rekaman panggilannya yang dilakukan di ketinggian sekitar lantai 92-105 South Tower WTC. Pada saat kejadian ia sempat menghubungi 911 pada pukul 9.59 pagi waktu setempat. Panggilan berakhir dengan teriakan Cosgrove yang tak berdaya di dalam gedung yang runtuh dan hancur.

Sumber: USA Today, CBS News, Kompas, Metrotvnews, Liputan6, Suara

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...