HomeOpiniJiwa Bangsa Merdeka

Jiwa Bangsa Merdeka

Prajurit TNI Kodam Iskandar Muda membawa bendera menampilkan atraksi seni seusai galdi bersih upacara bendera HUT Kemerdekaan ke-69 di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Kamis (14/8)
Prajurit TNI Kodam Iskandar Muda membawa bendera menampilkan atraksi seni seusai galdi bersih upacara bendera HUT Kemerdekaan ke-69 di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Kamis (14/8). Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 mengambil tema “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Dukung Suksesi Kepemimpinan Nasional Hasil Pemilu 2014 Demi Kelanjutan Pembangunan Menuju Indonesia yang Makin Maju dan Sejahtera”. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/Asf/pd/14.

 

Oleh: Yonky Karman, Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta

Kemerdekaan dari cengkeraman penjajah bukan begitu saja hasil semangat berapi-api “merdeka atau mati”. Kalau semangat heroik saja, warisan kita hanyalah taman makam pahlawan yang bertebaran di seluruh Nusantara.

Bangunan kokoh Negara Kesatuan Republik Indo­nesia (NKRI) yang tegak adalah warisan jiwa merdeka para pendiri republik. Mereka melawan tidak dalam semangat radikal, tetapi dalam kejemihan nalar. Mereka menguasai ilmu yang berkembang di Barat (ekonomi, sosiologi, politik, sejarah, filsafat, kesusastraan), juga teknik-teknik bernegosiasi.

Jiwa merdeka melahirkan visi Indonesia “merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur” sebagaimana tertuang pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Bersatu, berdaulat, adil, dan makmur adalah tujuan Indonesia merdeka. Penjara buatan dan penjara alam hanya memenjara raga, tetapi tidak jiwa merdeka mereka yang diwakafkan untuk kemerdekaan bangsa.

Politik jernih

Bung Karno ditahan di Pen­jara Sukamiskin, Bandung, atas dakwaan menyebarkan kebencian rakyat kepada bangsa Belanda dan pemerintah serta mengganggu ketertiban umum. Di dalam penjara, ia menyusun pleidoi berjudul Indonesia Menggugat (1929). Pidato pembelaan itu lengkap dengan catatan kaki sampai nomor halaman buku yang dikutip. Nada pembelaan bergelora, tetapi obyektif, tanpa ujaran kebencian dan sentimen primordial.

“Kami tidak pemah mengatakan bahwa kapitalisme=bang­sa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme=pe­merintah … Kami memaksudkan kapitalisme kalau kami berkata kapitalisme; kami memaksudkan imperialisme kalau kami berkata imperialisme.” Dibahas pula pergeseran makna imperialisme, diskursus pro dan anti impe­rialisme di Barat, proteksionisme, sampai sistem dumping.

Ada imperialisme tua-modern. Imperialis tua tak sebatas bangsa-bangsa Barat. Kerajaan Majapahit pun pernah mengu­asai hampir seluruh Kepulauan Indonesia dan Malaka. Yang mengejutkan, Jepang dimasukkan sebagai bagian dari imperialisme modern meski pada masa itu banyak dielu-elukan sebagai “saudara tua” yang akan membebaskan bangsa-bangsa terjajah di Asia dari kolonialisme Barat.

Bung Karno membongkar dosa sosial kapitalisme yang oleh Abraham Kuyper, intelektual Be­landa, hanya dikatakan sebagai sebuah relasi dagang, een mercantiele betrekking. Akar impe­rialisme adalah “nafsu akan rezeki”. Hindia Belanda masuk da­lam rantai ekonomi kapitalisme modern (yang melahirkan impe­rialisme modern) sebagai koloni tujuan investasi asing sekaligus pasar yang besar.

Bung Hatta bertahun-tahun dibuang jauh ke pulau (1935-1942), tetapi pikirannya tak berhenti memikirkan jalan kemajuan bangsa. Penjara alam pun berubah jadi seperti akademia Platon. Di Boven Digul, Pa­pua, ia memberikan kursus fil­safat ilmu kepada rekan-rekan sepembuangan, diteruskan de­ngan korespondensi ketika ia dipindahkan ke Pulau Banda Neira. Di kemudian hari, dalam kunjungannya ke Maluku, ia singgah di Neira (1951) dan seorang sahabat lama memberikan kepadanya bahan-bahan kursusnya yang kini sudah dalam bentuk ketikan (Pengantar ke Djalan Ilmu dan Pengetahuan, 1954).

Hatta membedakan kausalitas fenomena alam yang berulang (ilmu alam) dari kausalitas fenomena peristiwa yang hanya sekali terjadi (ilmu sejarah) dan hukum kemajuan masyarakat (sosiologi). Kehadiran bab tentang relasi antara ilmu (jalan kemajuan) dan agama (jalan hidup) tidak biasa dalam diskursus filsafat ilmu di Barat. Hatta menyadari, beragama sudah kodrat orang Indonesia, tetapi berilmu (berpikir ilmiah) belum. Ia ingin bangsanya menyadari, ilmu pengetahuan bukan sekadar bekal hidup, melainkan jalan kemajuan. Beragama tanpa menghambat kemaju­an, itulah soal untuk bangsa In­donesia jangka panjang.

Bung Sjahrir memprioritaskan revolusi nasional (kemerdekaan secara politik) daripada revolusi sosial (fisik). Meski termasuk nonkooperatif, ia berjuang de­ngan cara berbeda dari Bung Karno dengan oposisi massanya. Bersama Bung Hatta, ia merintis pendidikan politik untuk rakyat dan prinsip-prinsip berorganisasi. Pascaproklamasi, ia berjuang agar kemerdekaan Indonesia diakui dunia internasional.

Kumpulan surat dan karangannya semasa ditahan di Batavia, Boven Digul, dan Banda Neira (1934-1938) terbit di Belanda tanpa sepengetahuannya (Indonesische Overpeinzingen, 1945). Dalam tulisan 9 Mei 1936, “Da­lam pertarungan untuk merebut kekuasaan, moral belum pernah membimbing pikiran dan perasaan manusia terhadap musuhnya; moral hanya terdapat antara manusia-manusia yang hidup dalam perdamaian.”

Bangsa Indonesia beruntung memiliki para pendiri republik yang tinggi sekali tingkat literasinya. Politik mereka jernih dan mencerdaskan, tidak menghasut. Penjara bak perpustakaan kecil bagi mereka yang merdeka dalam pikiran. Berbeda dari pen­jara di negeri merdeka yang disulap jadi kamar hotel ketika dihuni koruptor.

Proklamasi Indonesia adalah hasil politik jernih dari orang-orang yang menolak disebut bangsa kuli. Jalan kemajuan untuk Indonesia Raya ada­lah “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya… sadarlah hatinya, sadarlah budinya” (stanza 1-2 lagu “Indonesia Raya”). Indonesia sebagai rumah bersama wajib di­huni bangsa yang berjiwa mer­deka, berhati besar, suka bekerja dan bergotong royong membangun, produktif dan inovatif.

Demokrasi pun sudah disepakati sebagai jalan politik kekuasaan. Kini, kebebasan berekspresi kian terjamin. Bangsa merdeka harus membuktikan demo­krasi bukan sekadar jalan berkuasa, melainkan jalan terhormat untuk memanggungkan putra-putri terbaik yang layak memimpin rakyat.

Politik disruptif

Namun, demokrasi di era di­gital terancam politik disruptif berbasis populisme yang merusak sendi-sendi demokrasi yang rasional dan sehat. Disrupsi ada­lah keadaan tercabut dari akar dan mengganggu kesinambungan sehingga terjadi perubahan fundamental yang membuka ja­lan untuk sesuatu yang baru.

Istilah ini sedang populer di dunia bisnis berkat kemajuan teknologi informasi. Bermunculan inovasi bisnis yang menggeser cara bisnis konvensional.

Dalam demokrasi disruptif, kepemimpinan yang potensial paling memajukan rakyat justru tersingkir atau terjungkal oleh politisasi isu populis. Bu­kan hanya tidak dipilih, tetapi juga dibenci. Tiada ungkapan kebencian dari para pendiri republik terhadap penguasa kolonial, tetapi kini bangsa merdeka gemar memelihara kebencian terhadap pemimpin sendiri. Ironi berdemokrasi. Menurut Niccolo Machiavelli, kualitas terpenting pe­mimpin adalah jauh dari di­benci dan dipandang rendah rakyat (The Prince). Pemimpin akan dibenci apabila menzalimi dan menyakiti rakyat. Pemimpin akan dipandang rendah apabila dicitrakan lemah atau dikaitkan dengan suatu stigma negatif. Prinsip machiavellian ini, sadar atau tidak, dimainkan sebagian bangsa merdeka, hanya untuk tujuan politik kekuasaan.

Demokrasi memberi ruang warga memilih atas dasar sentimen pribadi. Yang tidak wajar, sentimen negatif dikapitalisasi dengan bantuan teknologi infor­masi, bukan untuk membongkar dusta atau kejahatan, melainkan untuk membuat lawan politik terstigmatisasi dan menjadi obyek kebencian.

Kita semua bertanggung jawab memerdekakan diri dari po­litik disruptif yang dalam jangka panjang hanya merugikan diri sendiri. Elite yang berorientasi kekuasaan semata pasti tak peduli apakah rakyat terpenjara dalam pikiran-pikiran sempit dan kerdil. Namun, jiwa merdeka jernih melihat persoalan bangsa dan tak membiarkan diri diadu domba satu sama lain.

Pemimpin wajib menyajikan gagasan-gagasan besar dan konkret untuk menerobos kebuntuan ekonomi pembangunan, memerdekakan bangsa dari kemiskinan dan korupsi.

 

*Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 15 Agustus 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...