HomeOpiniMenyongsong Perdamaian

Menyongsong Perdamaian

Ahmad Hifni. [dok. pribadi]
Ahmad Hifni. [dok. pribadi]

Oleh: Ahmad Hifni, Alumnus Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Swt mengutus Nabi Muhammad SAW untuk manusia dan alam semesta ini sebagai rahmat (kasih sayang). Secara eksplisit Allah Swt menegaskan bahwa setiap manusia membutuhkan kedamaian dalam hidupnya. Perdamaian tidak hanya keniscayaan tetapi juga sifat Allah yang harus mewarnai tindakan keseharian kita.

Agama Islam pun menganjurkan kepada umatnya untuk memperjuangkan perdamaian dan menjadikannya sebagai prioritas utama dalam hidup. Dalam keadaan apa pun perdamaian harus senantiasa ditegakkan, karena hanya melalui kedamaian manusia sebagai khalifah di muka bumi ini bisa menjalankan mandat dan kepercayaan Allah, yaitu untuk membangun kehidupan dan peradaban adihulung.

Mengapa perdamaian begitu penting dalam Islam? Tak lain karena hakikat dari agama Islam adalah menyebarkan kedamaian dan memberikan keselamatan kepada diri sendiri dan orang lain. Inilah bagian dari inti ajaran Islam, sesuai esensi kandungan makna kata Islam itu sendiri. Sebagaimana secara bahasa, kata Islam berawal dari satu kata, yaitu salima. Kata ini bermakna as-salāmu (perdamaian) dan as-salāmatu (keselamatan).

Saking begitu pentingnya perdamaian, Allah Swt menyuruh manusia untuk memperjuangkan perdamaian. Disebutkan dalam Al-Quran:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui (QS. Al-Anfal: 61).

Berdasarkan ayat tersebut, perdamaian harus senantiasa menjadi prioritas utama bagi umat Islam. Umat Islam diminta untuk memilih perdamaian daripada permusuhan. Hal itu karena agama Islam memiliki misi perdamaian dan senantiasa menginginkan manusia hidup tenang dan tenteram, sehingga orang yang beragama Islam dapat memperoleh rahmat berupa ketenangan, ketenteraman dan kedamaian.

Kita tahu, Islam memerintahkan kepada umatnya untuk membiasakan dan menghormati orang lain dengan mengucapkan salam, yakni assalamu’alaikum yang bermakna kedamaian untukmu. Artinya, Islam pun sedemikian perhatian untuk menciptakan kehidupan umat yang santun dan peduli terhadap perdamaian serta keselamatan orang lain. Secara eksplisit, melalui ajaran mengucapkan salam, Islam telah mengajarkan kepada manusia tentang nilai-nilai kesejukan, kedamaian, kasih sayang, dan nilai-nilai universal lain yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan.

Dalam konteks sejarah Islam di Indonesia, Islam bisa berkembang dengan pesat bahkan menjadi agama paling banyak penganutnya karena dakwah yang ditempuh melalui jalan damai. Melalui perdamaian, pesan-pesan luhur Islam bisa lebih mudah dipahami, diterima, dan diamalkan oleh masyarakat luas. Tak hanya itu, Islam pun selama berabad-abad di Indonesia terbukti bisa menampilkan wajahnya yang sejuk, indah dan menggembirakan.

Kita bisa belajar banyak dari amalan maupun doa-doa yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama dalam setiap selesai melakukan shalat wajib. Di sana tekandung pesan damai Islam yang menyejukkan dan menegaskan bahwa setiap manusia membutuhkan perdamaian dalam hidupnya. Doa itu berbunyi:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَا لَيْتَ يَاذَالْجَلاَلِ وَالْأِ كْرَامِ

Wahai Tuhan, Engkau adalah perdamaian. Darimu perdamaian berasal dan kepada-Mu-lah perdamaian akan kembali. Maka, hidupkanlah kami dalam damai dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu yang tak lain adalah singgasana perdamaian. Engkaulah sumber berkat wahai Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau wahai Dzat yang Maha Agung dan Mulia.

Begitu pentingnya perdamaian bagi setiap umat manusia, karena itu Islam hadir di muka bumi ini dengan membawa misi mulia untuk menciptakan perdamaian. Betapa indahnya hidup ini jika diisi dengan kehidupan yang damai, baik dalam lingkungan keluarga, organisasi, bangsa, maupun lingkup global. Sebagai bagian dari umat Islam yang diwajibkan untuk menebar perdamaian, mari kita songsong hari esok dengan semangat perdamaian.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...