HomeBeritaMenjaga Kedamaian di Tanah...

Menjaga Kedamaian di Tanah Sumbawa

“Alhamdulilllah setiap hari kita selalu diberikan keberkahan. Dari semua keberkahan yang paling utama adalah kesehatan dan kedamaian. Dengan sehat kita bisa melakukan apa-apa, namun walaupun kita sehat kita tetap tidak bisa melakukan apa-apa jika kita dalam keadaan bergolak atau keadaan tidak damai. Maka dibutuhkan sehat dan dibutuhkan kedamaian agar apa yang dicita-citakan kita semua dan bangsa ini dapat terwujud.”

Kepala SMKN 2 Bima, Muhammad Badrun, S.Kom, Memberikan Sambutan Dalam Pembukaan Dialog Interaktif Menjadi Generasi Tangguh, Jum'at (19/10/18)
Kepala SMKN 2 Bima, Muhammad Badrun, S.Kom, Memberikan Sambutan Dalam Pembukaan Dialog Interaktif Menjadi Generasi Tangguh, Jum’at (19/10/18) yang Diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Dok: AIDA

Demikian sambutan Kepala Sekolah SMKN 2 Kota Bima, Muhammad Badrun, S.Kom, dalam kegiatan Dialog Interaktif dengan tema “Belajar Bersama menjadi Generasi Tangguh” pertengahan Oktober lalu. Kegiatan ini adalah salah satu rangkaian safari kampanye perdamaian yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Selain di SMKN 2 Kota Bima, Dialog Interaktif juga diselenggarakan di SMAN 4 Kota Bima, SMAN 5 Kota Bima, SMAN 1 Dompu, dan SMAN 2 Dompu.

Di setiap sekolah kegiatan Dialog Interaktif dihadiri sekitar 50 siswa. Cuaca panas di Pulau Sumbawa saat kemarau tidak menyurutkan semangat mereka mengikuti kegiatan dan menyimak materi dari para pembicara.

Di antara pembicara dalam kegiatan tersebut adalah Choirul Ihwan, seorang mantan narapidana kasus terorisme. Dia menyampaikan pengalamannya terjerumus ke dunia kekerasan. Seiring waktu dia menyadari kekeliruan doktrin-doktrin keagamaan yang diajarkan kelompoknya. Dia mengatakan semenjak bergabung dengan kelompok kekerasan hubungannya dengan keluarga menjadi rusak. Ketika menjalani masa hukuman di lembaga pemasyarakatan dia dipertemukan dengan korban terorisme. Setelah mendengarkan kesaksian korban, ia menjadi semakin yakin untuk meninggalkan kelompok kekerasan sebab aksi mereka telah menghancurkan kehidupan orang tak bersalah. Ia pun meminta maaf kepada korban.

“Saya merasa sangat kerdil di hadapan seseorang dengan kesabaran yang luar biasa dan semangat yang luar biasa untuk hidup setelah terkena ledakan bom. Itu membuat saya merasa bersalah sekali,” ungkapnya.

Choirul juga menekankan kepada para pelajar peserta Dialog Interaktif untuk mawas diri, tidak terjerumus ke dalam dunia kekerasan serta lebih peduli terhadap perdamaian. Dia juga berpesan agar ketidakadilan yang terjadi tidak dibalas dengan menciptakan ketidakadilan lainnya.

Pembicara lain dalam Dialog Interaktif adalah penyintas terorisme. Dalam kesempatan di Kota Bima, dua orang penyintas menjadi pembicara Dialog Interaktif. Mereka adalah Iswanto Kasman, penyintas Bom Kuningan 2004, dan I Wayan Sudiana, penyintas Bom Bali 2002.

Iswanto menceritakan pengalamannya menjadi korban ledakan bom di Kedutaan Besar Australia di Jl. HR Rasuna Said kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004. Hari itu dia sedang bertugas sebagai petugas keamanan di Kedutaan. Ledakan bom memaksanya harus kehilangan penglihatan sebelah kanannya.

Aksi teror yang menyebabkan dirinya cacat seumur hidup itu membuatnya berpikir beberapa saat ketika dihadapkan dengan pertanyaan hakim dalam persidangan pelaku teror Bom Kuningan, “Apakah saudara memaafkan pelaku?” Iswanto terdiam cukup lama, sempat ragu apakah bisa memaafkan pelaku yang telah membuatnya sengsara dengan puluhan titik luka di sekujur tubuhnya hingga cacat di mata kananya. Meski bukan hal mudah, dia memantapkan hati untuk memaafkan. “Baik Pak Hakim, saya memaafkan pelaku, dengan kesungguhan hati saya, saya tidak akan membalas kekerasan dengan kekerasan,” kata dia.

Penderitaan akibat ledakan bom juga dirasakan oleh I Wayan Sudiana. Pada 12 Oktober 2002 dia kehilangan istri tercintanya akibat ledakan bom di daerah Legian, Bali. Peristiwa itu membuatnya terpuruk, membekaskan trauma dan kesedihan bagi dirinya dan dua putranya. Seiring waktu dia mencoba tabah atas musibah itu. Teringat akan tanggung jawabnya untuk membesarkan anak, akhirnya Wayan mampu bangkit dan mengesampingkan kepedihan yang telah berlalu. Saat dipertemukan dengan mantan pelaku terorisme pun dia lebih memilih memaafkan serta tidak membalas kekerasan dengan kekerasan.

Para peserta menyambut baik kegiatan Dialog Interaktif diselenggarakan di sekolah mereka. Sebagian siswa mengatakan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari kisah korban dan mantan pelaku. Beberapa dari mereka mengharapkan kegiatan serupa dapat diselenggarakan lagi di sekolah mereka. [SWD]

Most Popular

Previous article
Next article

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...