HomeBeritaHari Solidaritas Palestina, Dunia...

Hari Solidaritas Palestina, Dunia Diingatkan Bahwa Penjajahan Masih Terjadi

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Tanggal 29 November ditetapkan sebagai Hari Solidaritas Internasional untuk Palestina. Duta Besar Palestina untuk Indonesia, H.E Dr. Zuhair Al Shun, mengingatkan masyarakat global bahwa sampai hari ini negerinya belum merdeka. Penjajahan Israel atas Palestina, kata dia, masih terus berlangsung. Menurut Zuhair bangsa Palestina menunggu dukungan internasional agar negerinya segera berdaulat penuh.

Hal ini ia sampaikan dalam Peringatan Hari Solidaritas Internasional untuk Palestina yang digelar di Universitas Indonesia, Kamis (29/11). Zuhair yang hadir sebagai keynote speaker bertutur mengenai kompleksitas permasalahan yang terjadi di negaranya.

“Biasanya di peringatan Hari Solidaritas Internasional untuk Palestina merupakan sebuah kesempatan bagi kami untuk menyampaikan kepada masyarakat internasional untuk memusatkan perhatian pada kenyataan yang ada bahwa masalah Palestina belum terselesaikan, dan rakyat Palestina belum menerima hak-hak mereka, hak untuk menentukan nasib sendiri tanpa intervensi internasional dan hak untuk kemerdekaan dan kedaulatan, hak untuk kembali ke rumah masing-masing dan harta benda mereka sesuai Resolusi PBB Nomor 194,” ungkap Zuhair, dilansir VOA Indonesia.

Menurut Zuhair, sampai hari ini Palestina dan Israel tengah dalam kondisi jalan buntu (dead lock), perundingan kedua negara sama sekali tak beranjak. Ia menuding Israel tak punya etiket baik untuk mewujudkan perdamaian. Selain itu, Zuhair mengucapkan terima kasih kepada Indonesia yang terus konsisten mendukung perjuangan negerinya.

Senada dengan Zuhair, Direktur Bidang Timur Tengah Kementrian Luar Negeri, Sunarko, menyampaikan komitmen Indonesia dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina. Menurutnya ada dua hal yang melatarbelakangi hal itu. Pertama, terkait amanat konstitusi Indonesia.

“Ini (isu Palestina) penting bagi kita karena ini adalah amanat konstitusi, bagian integral dari mandat konstitusi Indonesia untuk menghapus penjajahan dari atas dunia dan melaksanakan ketertiban dunia,” ujarnya.

Kedua, kata Sunarko, Palestina memiliki hubungan historis yang baik dengan Indonesia. Bersama negara-negara Timur Tengah lain, saat memproklamirkan kemerdekaannya, Indonesia mendapat dukungan penuh.

Palestinian flag raised at UNESCO Headquarters in Paris. Photo: Unesco
Palestinian flag raised at UNESCO Headquarters in Paris. Photo: Unesco

PBB: Solusi Dua Negara Satu-satunya Cara

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Antonio Guterres, bicara mengenai solusi dua negara, dalam peringatan Hari Solidaritas Internasional untuk Palestina tahun ini. Kedua negara harus berpegang pada resolusi yang telah disahkan Majelis Umum PBB pada tahun 1947, yaitu Resolusi 181. Israel dan Palestina harus hidup berdampingan dengan damai, sebagai negara yang sama-sama berdaulat.

“Dua negara yang hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan, memenuhi aspirasi nasional yang sah dari kedua bangsa, dengan perbatasan berdasarkan garis 1967 dan Yerusalem sebagai ibu kota kedua negara -Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara Palestina,” kata Guterres dilansir SindoNews.

“Ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai hak asasi rakyat Palestina yang tak dapat dicabut,” imbuhnya seperti dikutip dari laman PBB, Kamis (29/11/2018).

Di kesempatan lain Presiden Majelis Umum PBB, Maria Fernanda Espinosa, berbicara mengenai relevansi peran PBB dalam proses rekonsiliasi Palestina dan Israel.

“Saya ingin menekankan bahwa hal ini relevan untuk semua,” kata dia. [KAN]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....