HomeBeritaKomitmen Generasi Muda Untuk...

Komitmen Generasi Muda Untuk Perdamaian

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Memaafkan merupakan perbuatan terpuji yang sangat tinggi nilainya. Siapa pun yang memilih memaafkan dan mengubur rasa dendam menjadi harmoni adalah mereka yang berkontribusi mewujudkan perdamaian di dalam kehidupan. Semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini merupakan kehendak Allah, maka memaafkan kesalahan orang lain dan ikhlas atas kejadian yang telah berlalu merupakan cerminan dari orang-orang yang tangguh.

Pesan itulah yang disampaikan seorang peserta yang mengikuti kegiatan Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 1 Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, Kamis (8/11/2018). Menurutnya, kegiatan AIDA sangat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengalaman inspiratif dari rekonsiliasi antara korban dan mantan pelaku terorisme. Bahkan, ia menyarankan agar AIDA menyelenggarakan kegiatan serupa di berbagai sekolah di pelosok Tanah Air.

“Setelah mengikuti kegiatan AIDA, saya bisa berpikir luas dan tidak egois. Terutama, tidak memaksakan apa yang ada di pikiran saya kepada teman-teman saya. Saya juga belajar saling menghargai perbedaan agama dan lebih memiliki rasa ikhlas,” kata seorang siswi SMAN 1 Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu.

Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di SMAN 1 Sukoharjo
Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh di SMAN 1 Sukoharjo. Photo: Dok. AIDA

 

Pelajar berhijab dan murah senyum itu mengaku berpikir eksklusif sebelum mengikuti kegiatan AIDA. Ia cenderung menjauhi teman-teman sekolahnya yang beragama selain Islam. Hal itu ia lakukan karena mengira setiap non-Muslim pastilah orang yang buruk. “Sebelum mengikuti kegiatan AIDA, saya kepada teman saya yang non-Muslim cenderung menjauh atau tidak berkawan dengan mereka,” tuturnya.

Akan tetapi, setelah mengikuti kegiatan AIDA, ia merasa memiliki pengalaman dan wawasan baru bahwa perbedaan merupakan keniscayaan, bahkan Allah Swt. menghendaki adanya perbedaan di muka bumi ini. Setelah mengikuti kegiatan AIDA, ia bertekad menebarkan perdamaian untuk Indonesia, minimal di wilayah sekolah dan keluarganya. Ia menegaskan komitmen untuk menyampaikan kepada teman-temannya tentang pengalamannya menyaksikan langsung rekonsiliasi antara korban dan mantan pelaku terorisme.

“Setelah kegiatan ini, saya akan memberikan arahan-arahan kepada teman-teman yang jauh dari kebenaran. Saya akan mengingatkan dan memberikan contoh-contoh dan inspirasi dari rekonsiliasi mantan pelaku terorisme dan korbannya,” pungkasnya. [AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....