HomeBeritaAIDA Ajak Mahasiswa Jaga...

AIDA Ajak Mahasiswa Jaga Kedamaian Indonesia

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Subbān al-yawm, rijāl al-ghad. Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Masa depan sebuah bangsa apakah akan menuju kemajuan atau kehancuran, ditentukan oleh kaum muda. Filosofi itulah yang mendasari Aliansi Indonesia Damai (AIDA) untuk menyelenggarakan Seminar Sehari “Halaqah Keindonesiaan” dengan tema Belajar dari Rekonsiliasi Korban dan Mantan Pelaku Terorisme di Jakarta, Kamis (1/11/2018).

Melalui kegiatan tersebut AIDA mengajak generasi muda bangsa, khususnya mahasiswa, untuk melestarikan kedamaian demi keberlangsungan dan kemajuan Indonesia di masa depan. AIDA mengangkat perspektif korban dan mantan pelaku terorisme sebagai inspirasi para peserta seminar untuk terus bersemangat merawat keindonesiaan.

Dalam seminar AIDA menghadirkan Ni Luh Erniati (penyintas aksi teror Bom Bali 2002) dan Ali Fauzi Manzi (mantan pelaku terorisme) untuk berbagi kisah dan pengalaman kepada para mahasiswa. Erni, sapaan Ni Luh Erniati, menceritakan dampak serangan bom di Legian, Bali pada 12 Oktober 2002 yang membuat kehidupannya sempat terpuruk. Suaminya meninggal dunia dalam tragedi itu. Pasang surut kehidupan dalam mendidik dan membesarkan anak harus dia lalui tanpa dukungan seorang suami.

Waktu berlalu, Erni mampu bangkit dari keterpurukan akibat Bom Bali. Pada 2014 dia dipertemukan oleh AIDA dengan Ali Fauzi, seorang mantan pelaku terorisme. Layaknya manusia, dia mengakui awalnya sangat sulit untuk meredam amarah di hati saat pertama kali bertemu mantan teroris. Akan tetapi, Erni segera menyadari bahwa dendam tidak akan mengembalikan suaminya yang telah pergi.

Dr. Imam B. Prasojo
Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo. (Photo: Dok. AIDA)

Ali Fauzi pun mengakui kesalahan masa lalunya di hadapan Erni. Meskipun tidak terlibat dalam aksi Bom Bali yang membuat Erni menderita, namun Ali menyadari dirinya pernah satu barisan dengan para pelaku. Bahkan, tiga orang kakaknya merupakan tokoh penting di balik Bom Bali. Ali Fauzi pun meminta maaf kepada Erni serta para korban terorisme secara umum. Erni dengan segala kebesaran hatinya pun telah memaafkan kesalahan Ali Fauzi.

Saling memaafkan antara Erni dan Ali Fauzi adalah potret rekonsiliasi pihak-pihak yang pernah “berseberangan” di masa lalu. Rekonsiliasi korban dan mantan pelaku ini diharapkan bisa menginspirasi semua anak bangsa untuk mengukuhkan persatuan sehingga tidak mudah terpecah belah.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, menyampaikan keynote speech dalam seminar. Dia menyoroti banyaknya tantangan yang dihadapi bangsa terutama pada tahun-tahun politik seperti saat ini. Perbedaan sikap politik tak jarang membuat masyarakat terkotak-kotak, dan saling mencaci sesama saudara sebangsa. Dia khawatir, bila tradisi tak dewasa dalam berpolitik ini berkembang maka kerusuhan komunal bisa terjadi lagi. Dia merujuk pada sejarah konflik komunal yang pernah melanda di Maluku dan Sulawesi Tengah pada awal Reformasi. Waktu itu jalinan persaudaraan sesama bangsa Indonesia benar-benar terkoyak karena sentimen politik dan agama.

Imam berpandangan bahwa tantangan dalam upaya untuk membumikan kedamaian semakin berkembang. Menurutnya, di antara tantangan terberat ke depan bagi bangsa Indonesia yang sarat kebinekaan ini adalah melenyapkan paham ekstremisme beragama di antara warganya.

Sebagai generasi emas dan harapan bangsa, sebagaimana kata pepatah Arab subbān al-yawm, rijāl al-ghad yang bermakna pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok, mahasiswa didorong untuk semakin bersemangat dalam memelihara perdamaian.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, mengatakan bahwa rekonsiliasi yang terjalin di antara korban dan mantan pelaku terorisme mengingatkan kepada semua anak bangsa untuk menjaga keutuhan Indonesia.

Seorang mahasiswa menyampaikan kesan setelah mengikuti seminar. “Jika bukan kita yang mengusahakan perdamaian dan menyemainya, lantas siapa lagi? Karena, perdamaian tidak bisa diciptakan tanpa usaha kuat dari seluruh kalangan, khususnya generasi muda kaum terpelajar,” ujarnya. [FS]

 

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...

Menebar Benih Perdamaian di Jepara

Aliansi Indonesia Damai- Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustaz Hery Huzaery menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Muhammadiyah Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah pada Sabtu (17/01/2026). Sebanyak 56 asatidz/asatidzah...