HomeBeritaAntusiasme Mahasiswa UIJ Membedah...

Antusiasme Mahasiswa UIJ Membedah Film ‘Tangguh’

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Para mahasiswa Universitas Islam Jakarta (UIJ) menampakkan antusiasme tinggi saat mengikuti kegiatan Diskusi dan Bedah Film ‘Tangguh’, Kamis (20/12/2018). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan Pendidikan Agama Islam UIJ bekerja sama dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Segenap civitas akademika kampus UIJ menghadiri kegiatan, di antaranya adalah Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Edi Suhara, dan pengurus badan eksekutif mahasiswa (BEM).

Dalam sambutannya, Edi menyampaikan pentingnya kegiatan ini untuk kalangan mahasiswa. Ia mengatakan bahwa paham keagamaan yang ekstrem belakangan menurut sejumlah penelitian tengah merebak di kampus perguruan tinggi. Melalui diskusi film ini diharapkan mahasiswa mendapatkan narasi-narasi tentang perdamaian serta mewaspadai ancaman ekstremisme.

Edi menambahkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi prinsip perdamaian. Menurutnya, Islam tidak mempersoalkan keragaman, justru keragaman dalam Islam dipandang sebagai sebuah keniscayaan. “Orang beragama Islam tentu harus mengamalkan ajaran agamanya yang hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda pemahaman,” ujarnya.

Pemutaran film ini disambut antusias oleh kalangan mahasiswa UIJ. Menurut salah seorang peserta, paham ekstremisme muncul karena pemahaman agama yang kaku dan doktrinal.

“Sebagai mahasiswa kita harus bisa berpikir kritis terhadap pemahaman sebagian kelompok yang merasa paling benar. Karena pemahaman ekstremisme dan terorisme, hemat saya, justru lahir dari salah pemahaman yang keliru terhadap agama,” katanya.

Seorang peserta lain mengakui bahwa Diskusi dan Bedah Film ‘Tangguh’ sangat penting bagi kalangan mahasiswa. Pasalnya, film ini memiliki pesan luhur, yaitu mendorong masyarakat agar menjaga kedamaian Indonesia. Ia memahami bahwa terorisme bisa disebabkan dari banyak faktor. Di antaranya adalah pemahaman yang salah terhadap agama.

“Pemahaman agama yang salah bisa menyebabkan seseorang jatuh kepada ekstremisme dan menjadi pelaku kekerasan atas nama agama. Padahal, dalam agama Islam ditegaskan untuk berbuat baik kepada sesama manusia dan berkasih sayang kepada siapa saja,” kata dia.

Saat pemutaran film berlangsung, sebagian peserta tampak menitikkan air mata karena terharu. Film ‘Tangguh’ bercerita tentang kehidupan korban dan keluarga korban aksi teror bom. Setelah kejadian menimpa, para penyintas berjuang sekuat tenaga untuk menjalankan kehidupan dengan keterbatasan cacat fisik serta trauma akibat bom. Di antara korban terorisme itu ada perempuan yang terpaksa menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya, dan menjadi tulang punggung penopang kebutuhan keluarga.

Meskipun berbagai penderitaan datang akibat serangan teror bom, namun para penyintas telah membuka hatinya untuk menerima permintaan maaf dari mantan pelaku terorisme. Penyintas memilih memaafkan ketimbang mendendam orang-orang yang pernah menjadi anggota kelompok teroris.

Sikap para penyintas menunjukkan semangat ketangguhan yang diharapkan bisa dicontoh masyarakat luas, khususnya generasi muda. Diperlukan sifat ketangguhan yang kuat dalam diri untuk bisa berjuang menghadapi berbagai tantangan kehidupan, meskipun dengan kondisi yang serba terbatas. Kisah hidup penyintas mengajarkan bahwa meski telah dizalimi oleh teroris, mereka memiliki ketinggian rasa untuk memaafkan.

Foto Besama Mahasiswa Universitas Islam Jakarta dalam Acara Bedah Film Tangguh
Foto Besama Mahasiswa Universitas Islam Jakarta dalam Acara Bedah Film Tangguh

“Kami bisa mempelajari dari kisah korban terorisme, bahwa kekerasan tidak bisa dibalas dengan kekerasan, hanya pemberian maaf yang bisa membuat seseorang menjadi manusia seutuhnya,” jelasnya.

Mahasiswa belajar dua hal penting setelah menonton film. Pertama, bahwa terorisme lahir dari kesalahpahaman terhadap agama, yaitu bahwa sesungguhnya agama menganjurkan umatnya untuk menebarkan kasih sayang kepada semua makhluk. Kedua, kisah korban terorisme mengajarkan untuk tidak pernah membalas kekerasan dengan kekerasan. Dengan tidak menyimpan dendam, kehidupan para penyintas tidak terbebani dengan kebencian di hati sehingga bisa lebih fokus menatap masa depan.

Diskusi dan Bedah Film ‘Tangguh’ di kampus UIJ dihadiri lebih dari 60 peserta mahasiswa yang terdiri dari berbagai fakultas dan jurusan. [FS]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...