HomeBeritaTokoh Agama Klaten: Tolonglah...

Tokoh Agama Klaten: Tolonglah Saudaramu yang Zalim Atau Dizalimi

Aliansi Indonesia Damai – Tim Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bertolak ke Klaten, Jawa Tengah untuk menyelenggarakan Diskusi dan Bedah Film “Tangguh” (1/12). Ada yang berbeda dari kampanye damai kali ini, peserta yang dituju bukanlah pelajar, melainkan para jemaah pengajian Ahad sore dari Aisyiyah dan Muslimat.

Kegiatan bertema Generasi Milenial Cinta Damai ini dimulai dengan pembacaan doa dan sambutan-sambutan, dilanjutkan menonton film “Tangguh” kemudian diikuti dengan sesi diskusi. Melalui film yang berisi kisah korban dan mantan pelaku terorisme ini, AIDA bermaksud memberikan gambaran dan dampak aksi terorisme dari dua sisi, yakni korban dan mantan pelaku.

Baca juga Pemuda Windan Ajak Masyarakat Jauhi Kekerasan

”Melalui film ini, kita sebagai orang awam yang tak pernah menjadi korban, setidaknya bisa mengetahui sekelumit aksi terorisme dari dua pihak, korban dan mantan pelaku,” ucap M. Maghfurradhi, Program Manager komunikasi AIDA saat menyampaikan sambutan.

Film berdurasi 28 menit ini memantik antusiasme peserta. Tidak hanya menyaksikan film dengan seksama, beberapa peserta pun mengajukan pertanyaan setelah pemutaran film selesai.

Baca juga KH Dian Nafi’: Saling Memahami Kunci Menjaga Perdamaian

Dalam diskusi film ini, salah seorang pengurus Masjid Raya Klaten mengutip salah satu hadis Nabi yang menganjurkan umat Muslim untuk senantiasa membantu orang-orang yang terzalimi sekaligus orang yang menzalimi. ”Ushur Akhaka Zaliman au Mazluman, tolonglah saudaramu yang zalim atau dizalimi,” katanya.

Menurutnya, setiap kita perlu memperhatikan saudara kita, baik mantan pelaku teror maupun korban. Membantu mantan pelaku teror berarti merangkul mereka agar tak kembali lagi ke kelompok mereka yang terdahulu. Adapun para korban, kita perlu mendukung mereka agar semangat hidup mereka kembali bangkit. Sebab, korban tidak hanya mengalami luka fisik, melainkan juga luka psikis yang justru lebih sulit diobati.

Baca juga ”Paham Kekerasan Harus Kita Tolak”

”Kalau kita bicara tentang terorisme hanya dengan kata-kata saja, tentu tidak akan semeresap ketika kita melihat langsung dampaknya melalui para korban. Karena peristiwa ini nyata dan telah terjadi. Kita tentunya dapat mengambil pembelajaran dari kisah ini,” ucap fasilitator diskusi tersebut sebelum menutup diskusi.

Saat ini, mantan pelaku dan para korban bersama tim AIDA saling berkolaborasi mengampanyekan perdamaian untuk masyarakat Indonesia. Atas inisiatif AIDA, mereka hadir di sekolah-sekolah, lembaga pemasyarakatan dan ruang publik lainnya untuk berbagi kisah sekaligus pesan damai. [FRN]

Baca juga Geliat Perdamaian dari Pesantren Al-Mukmin Sragen

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...