HomeOpiniDakwah dan Kisah Penyintas

Dakwah dan Kisah Penyintas

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Dalam perspektif Islam, dakwah dimaknai sebagai ajakan berbuat baik atau menyampaikan nasihat kepada orang lain agar berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran Islam. Dakwah bukanlah pemaksaan kehendak, melainkan ajakan kepada kebaikan dengan cara yang santun. Terkait hal itu, penulis melihat bahwa yang dilakukan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dalam mengampanyekan perdamaian dengan mengangkat kisah korban terorisme, merupakan bagian dari dakwah.

Dalam berbagai kesempatan acara yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perdamaian, AIDA menghadirkan korban aksi teror untuk berbagi kisah. Pengalaman korban menghadapi cobaan hidup setelah terdampak aksi teror mengandung ‘ibrah atau pelajaran berharga yang patut diserap. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran bahwa “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Rasul dan umat terdahulu) terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal” (Surat Yusuf ayat 111), inisiatif AIDA mengungkap kisah korban terorisme bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik betapa perdamaian sangat penting untuk terus dipelihara, dan betapa penyebaran paham keagamaan yang ekstrem patut diwaspadai.

Bagi para korban yang selamat dari serangan teror, kekejian pelaku telah merusak kondisi fisik dan psikis mereka hingga menyebabkan cacat seumur hidup. Sementara itu, bagi ahli waris atau kerabat korban, aksi teror telah menghilangkan nyawa orang-orang terkasih, di mana tak sedikit dari mereka merupakan tulang punggung keluarga.

Iswanto Kasman (Penyintas Bom Kuningan 2004) dan Choirul Ihwan (Mantan Narapidana Terorisme) Berpelukan Membuka Lembaran Baru Untuk Dunia yang Lebih Damai di Masa Depan.
Iswanto Kasman (Penyintas Bom Kuningan 2004) dan Choirul Ihwan (Mantan Narapidana Terorisme) Berpelukan Membuka Lembaran Baru Untuk Dunia yang Lebih Damai di Masa Depan.

Meskipun berbagai penderitaan akibat terorisme membuat kehidupan terpuruk, para korban tidak lantas berputus asa. Mereka sabar dan ikhlas menjalani hidup tidak sekadar sebagai korban, tetapi lebih dari itu, mereka meningkat menjadi penyintas (survivor) terorisme. Bahkan, ketika dipertemukan dengan orang-orang yang pernah terlibat dengan kelompok penebar paham teror, mereka enggan membalas dendam. Para penyintas memilih untuk memaafkan.

Keunggulan sifat para penyintas yang tegar, pantang menyerah, dan luas hati hingga mampu memaafkan mantan pelaku terorisme itulah ‘ibrah dari kisah mereka yang pantas diteladani.

Dalam sejarahnya, Rasulullah Saw. berdakwah di tengah masyarakat Arab di mana praktik-praktik pelanggaran norma kemanusiaan lazim terjadi. Setelah Islam dirisalahkan, Nabi tidak lantas memaksakan ajaran. Rasulullah mengupayakan perubahan di masyarakat Arab secara perlahan dengan mengedepankan akhlak yang mulia serta moralitas yang luhur. Seperti halnya aktivitas mengajak, titik tekan dalam berdakwah seperti yang dicontohkan Nabi adalah sikap lemah lembut, bukan paksaan, dengan tujuan agar orang yang diajak bersedia mengikuti ajakan, yaitu beriman kepada Allah Swt.

Dalam sebuah riwayat hadis dikisahkan perjalanan dakwah Rasulullah Saw. pada masa awal kenabian penuh tantangan berat. Gangguan dari suku Quraisy di Mekah memaksa beliau untuk berpindah meninggalkan kampung halaman. Ketika beliau meminta pertolongan kepada penguasa Thaif, sekitar 100 km di tenggara Mekah, bukan sambutan baik yang diterima. Justru sebaliknya, perlakuan warga Thaif kepada beliau sangat menyakitkan hati.

Di tengah kesedihan tersebut malaikat menawarkan kepada Nabi untuk mendoakan keburukan kepada warga Thaif niscaya dua gunung akan ditimpakan ke mereka atas izin Allah Swt. Akan tetapi, beliau Saw. menolak tawaran tersebut. Rasulullah Saw. justru berdoa agar kelak lahir keturunan penduduk Thaif yang menyembah Allah Swt. semata, dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.

Kisah dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim tersebut menunjukkan kebesaran hati Rasulullah Saw. dalam berdakwah. Terhadap orang-orang yang membenci dan menolak ajakannya, beliau tidak membalas dengan keburukan, tetapi justru mendoakan kebaikan.

Inspirasi yang kurang lebih sama ditunjukkan oleh para penyintas terorisme saat berbagi kisah dalam berbagai kegiatan AIDA. Mereka telah dibuat menderita oleh para pelaku aksi terorisme. Meskipun demikian, mereka enggan untuk mendendam. Mereka menolak untuk membalas kekerasan yang telah terjadi dengan kekerasan baru. Sederhana yang mereka pikirkan, bila kekerasan direspons dengan kekerasan lain maka yang terjadi adalah siklus kekerasan yang tak pernah putus. Bila itu terjadi maka sampai kapan pun perdamaian tidak akan pernah terwujud.

Spirit dakwah profetik dan inspirasi dari penyintas terorisme dibutuhkan bangsa Indonesia, terlebih pada masa-masa di mana kontestasi politik sedang berlangsung seperti saat ini. Dakwah yang disebarluaskan ke masyarakat semestinya yang mengajak untuk meningkatkan kualitas diri dan memperkuat ikatan solidaritas sesama anak bangsa. Ibnu Khaldun, ulama, sosiolog dan sejarawan Muslim terkemuka, mengatakan bahwa ikatan dan solidaritas sosial akan memperkuat suatu bangsa dan agama.

Sungguh disayangkan bila ceramah keagamaan yang berkembang di masyarakat tidak menyeru pada penguatan solidaritas sesama bangsa, bahkan justru mempropagandakan perpecahan. Dakwah semacam itu selain tidak selaras dengan teladan Nabi, juga berpotensi melemahkan ukhuwah sesama bangsa Indonesia. Menurut hemat penulis, kisah-kisah penyintas terorisme penting untuk disebarluaskan kepada masyarakat agar menjadi inspirasi untuk memelihara perdamaian.

Oleh: Fahmi Suhudi

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...