HomeInspirasiAspirasi DamaiMenerima untuk Mengikhlaskan

Menerima untuk Mengikhlaskan

Dalam dunia konflik dan kekerasan, kita seringkali mendengar cerita tentang penderitaan dan kehilangan. Namun di balik setiap tragedi, selalu ada kisah-kisah inspiratif tentang ketangguhan, pengampunan, dan penerimaan. Salah satu cerita yang paling menggetarkan hati adalah kisah seorang korban terorisme yang mampu menemukan perdamaian dalam hatinya dengan menerima untuk mengikhlaskan.

Misalnya, Ni Luh Erniati, seorang ibu dengan dua anak mengalami hari buruk dalam hidupnya ketika serangan teroris menyasar tempat kerja suaminya di Sari Club Legian Kuta, Bali pada 12 Oktober 2002 silam. Aksi teror menggunakan bom berdaya ledak tinggi tersebut menewaskan suaminya dan ratusan korban lainnya serta ratusan orang lainnya mengalami luka-luka.

Baca juga Nasib Perdamaian di Gaza

Dalam sekejap, kehidupan perempuan yang biasa dipanggil Erni tersebut berubah total. Ia menjadi ibu sekaligus ayah bagi dua buah hatinya. Kehilangan suami tercinta dalam serangan tersebut, membuat Erni tenggelam dalam kesedihan dan kemarahan. Dunia yang tadinya penuh dengan kebahagiaan dan harapan, tiba-tiba berubah menjadi tempat yang gelap dan penuh kepedihan.

Selama bertahun-tahun, Erni bergulat dengan perasaan kehilangan yang mendalam. Ia marah pada pelaku terorisme. Namun, dalam perjalanannya mencari makna di balik tragedi tersebut, Erni dan kedua anaknya bertemu dengan seorang konselor yang memperkenalkannya pada konsep penerimaan dan pengikhlasan. Penerimaan bukan berarti menyerah atau setuju dengan apa yang terjadi, tetapi memahami bahwa ada hal-hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita. Dengan bimbingan dan dukungan konselor, Erni mulai belajar untuk menerima kenyataan pahit yang menimpanya.

Baca juga Mensyukuri Hari Kemenangan, Memperkuat Solidaritas

Langkah paling berat dalam perjalanan Erni adalah mengikhlaskan. Pengikhlasan bukanlah hal yang mudah, terutama ketika harus memaafkan mereka yang telah merenggut jiwa sosok yang kita sayangi dan menyebabkan luka begitu dalam. Namun, Erni sadar bahwa menyimpan dendam dan kebencian hanya akan meracuni hidupnya sendiri dan membuat dirinya semakin terpuruk.

Dengan hati yang masih berjuang, ia memutuskan untuk memaafkan pelaku terorisme. Ia menyadari bahwa memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan tindakan mereka, tetapi membebaskan dirinya dari beban kebencian. Dalam proses ini, ia menemukan kedamaian yang tak pernah ia duga sebelumnya. Ia pun secara perlahan mulai merasakan ketenangan jiwa dan pikiran.

Baca juga Menguatkan Semangat Damai Pelajar Melalui Sanlat

Keputusan Erni untuk menerima dan mengikhlaskan memberikan dampak yang luar biasa dalam hidupnya. Ia mulai melihat dunia dengan perspektif yang berbeda, lebih penuh kasih dan pengertian. Erni juga terinspirasi untuk berbagi kisahnya kepada orang lain, dan berharap dapat membantu mereka yang sedang bergulat dengan rasa sakit dan kehilangan.

Melalui berbagai forum dan kegiatan yang difasilitasi Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Erni berbagi pesan tentang kekuatan penerimaan dan pengikhlasan. Ia menjadi simbol perdamaian, menunjukkan bahwa dalam kegelapan terdalam masih ada cahaya yang dapat ditemukan.

Baca juga Perdamaian Melalui Senyuman

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pengorbanan Tanpa Batas

Hari Ibu, yang diperingati setiap 22 Desember, adalah momen istimewa untuk...

Menjaga Keharmonisan di Tengah Masyarakat

Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjaga persaudaraan atau perdamaian antarsesama. Dalam kehidupan...

Menemukan Kedamaian di Tengah Kegelapan

Aliansi Indonesia Damai- Memaafkan mudah diucapkan, namun tidak semua orang mampu...

Hari Internasional bagi Korban Terorisme: Mengenang dan Menguatkan Semangat Kemanusiaan

Setiap 21 Agustus, dunia memperingati Hari Internasional Peringatan dan Penghormatan bagi...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...