HomeOpini“Secarius” di Abad Informasi

“Secarius” di Abad Informasi

Oleh Trias Kuncahyono
Wartawan Kompas 1988-2018.

Penyerangan terhadap Menko Polhukam Wiranto oleh tersangka teroris di Pandeglang, Banten, menegaskan sekurang-kurangnya dua hal. Pertama, bahwa terorisme masih nyata di negeri ini meski usaha pemberantasan sudah terus-menerus dilakukan.

Kedua, penyerangan itu telah menyingkap topeng-topeng kepalsuan begitu banyak wajah. Ada yang selama ini berwajah ksatria, padahal raksasa. Berparas dewi-dewi, padahal sesungguhnya raseksi. Ada yang dikenal santun, saleh, pemaaf, ternyata penjahat, pendendam, dan pengobar permusuhan.

Akan tetapi, tulisan ini tidak hendak membahas hal itu. Tulisan ini lebih mengingatkan sekaligus menegaskan bahwa ancaman terorisme begitu nyata di negeri ini, ada di mana-mana, dalam bentuk beraneka, dan dengan segala macam cara.

Taktik lama

Penyerang Wiranto menggunakan taktik lama. Taktik semacam itu sudah digunakan sejak awal tahun 48. Ketika itu sekte Yahudi yang disebut Zealot mengampanyekan aksi terorisme untuk melawan penjajah Romawi di Yudea.

Baca juga Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Zealot adalah sekte yang sangat keras menentang dan tidak kenal kompromi terhadap penjajah Romawi yang dianggap kafir. Bahkan, mereka membentuk partai politik yang sangat agresif dan peduli terhadap kehidupan nasional dan keagamaan. Mereka membenci orang-orang Yahudi yang dianggap kurang saleh dan menjalin hubungan dengan pemerintah Romawi.

Saat itulah muncul teror atas nama agama, yang sering disebut teror suci. Terorisme agama oleh para pelakunya dianggap sebagai tindakan transendental. Tindakan itu, mengutip Gerard Chaliand dan Arnaud Blind, ed (2007), dibenarkan oleh otoritas agama dan diyakini menjadi instrumen ilahi. Bagi mereka, jumlah dan identitas korban tidak penting.

Fenomena historis ini terjadi pada abad pertama yang dilakukan oleh kaum Zealot. Mereka merupakan—yang kemudian disebut kaum secarii–kelompok teroris pertama yang melakukan teror secara sistematis, seperti dijelaskan sejarawan Flavius Josephus dalam Jewish Antiquities (93-94 Masehi). Di Yudea, para teroris itu mengobarkan perlawanan, antara lain dengan membunuh.

Flavius Josephus inilah yang pertama kali menggunakan kata secarius (secarii, kalau jamak). Kata secarius adalah bahasa Latin yang berarti pembunuh yang bekerja diam-diam dengan bersenjatakan pisau belati. Ini sebenarnya merupakan teror atas nama agama. Meskipun Josephus menyebut mereka sebagai bandit.

Baca juga Indonesia di Ujung Jari Kita

Pada masa itu, Rex A Hudson (1999) dan Robert A Pape (2005) menjelaskan, para secarii ini menyusup ke kota-kota yang dikuasai Romawi. Mereka membunuh orang-orang Romawi dan mereka yang dianggap berkolaborasi dengan Romawi. Selain membunuh, mereka juga menculik para penjaga tempat ibadah untuk menuntut tebusan, atau menggunakan racun dengan jumlah besar dengan tujuan banyak orang yang mati keracunan.

Di zaman lain, menurut Gerard Chaliand dan Arnaud Blind, muncul teroris serupa secarii dari Sekte Ismaili yang disebut Assassin di Persia dan Suriah pada abad ke-11–13. Mereka membunuh para tokoh politik. Sama dengan para secarii, para assassin membunuh para korbannya dengan pisau belati di pasar-pasar dan masjid-masjid. Para assassin masih beroperasi zaman Perang Salib.

Menurut Robert A Pape, kaum Zealot dan Secarii menerapkan strategi kekerasan untuk memancing pecahnya pergolakan besar di antara penduduk Yahudi melawan pemerintah penjajah Romawi. Taktik ini berhasil mengobarkan pemberontakan, yakni dengan pecahnya Perang Yahudi (66) yang berujung dengan dihancurkannya Kenizah Jerusalem (70); dan pembuangan orang-orang Yahudi. Sementara sejumlah anggota kaum Zealot dan Secarii di bawah pimpinan Eleazar memilih mati bersama di Benteng Masada (73).

Abad informasi

Di awal abad pertama, sasaran para secarii adalah para pejabat pemerintah penjajah Romawi dan kaum kolaborator (sasaran kaum assassin, tak jauh berbeda). Sejak awal didirikan, menurut Gerard Chaliand dan Arnaud Blind, organisasi Zealot memiliki dua tujuan. Sebagai organisasi keagamaan, mereka berusaha untuk memaksakan praktik beragama yang keras dan kaku. Misalnya, mereka menyerang orang Yahudi lain yang dianggap tidak cukup menunjukkan kesalehan. Sebagai organisasi politik, Zealot berusaha membebaskan Yudea dari penjajahan Romawi. Namun, tujuan keagamaan partai tidak dapat dipisahkan dari tujuan politik.

Baca juga Sembuhkan Dunia dengan Perdamaian

Dulu mudah untuk menjawab pertanyaan mengapa memilih jalan menjadi teroris. Sekarang, tidak mudah menjawab pertanyan mengapa orang meninggalkan lingkungan masyarakat umum dan memilih menjadi teroris. Kini terorisme selalu merupakan hasil dari sejumlah faktor. Tak hanya karena alasan psikologis, tetapi juga ekonomi, politik, agama, dan sosiologis. Terorisme tidak bisa dijelaskan dengan satu sebab.

Namun, praktik para teroris yang paling menonjol adalah -termasuk teroris internasional- berusaha untuk mengirim pesan ideologis atau agama dengan meneror masyarakat umum. Melalui pilihan target mereka, yang sering simbolis atau mewakili negara yang dituju, teroris berusaha untuk menimbulkan dampak yang sangat menonjol, sangat nyata pada target mereka.

Di era informasi dan komunikasi massa sekarang ini, yang sangat penting bukan hanya skala dampak kekerasan teroris bersenjata, korban manusia dan materialnya langsung, tetapi tindakan mereka akan menimbulkan destabilisasi terhadap keamanan nasional, internasional, dan menebar ketakutan pada publik sehingga memengaruhi situasi politik. Kesan itu, sekurang-kurangnya, yang ingin disampaikan kedua penyerang Wiranto di Pandeglang. Mereka ingin menunjukkan bahwa pandangan atau kebijakan korban bertentangan dengan mereka. Pesan itu menyebar cepat, terutama lewat media dan media sosial.

Artikel ini telah dipublikasikan di harian Kompas edisi Selasa, 15 Oktober 2019.

Baca juga Tekad Mewujudkan Santri Sebagai Pelopor Perdamaian Dunia

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...