HomeOpiniIndonesia di Ujung Jari...

Indonesia di Ujung Jari Kita

Oleh Irwan Kelana
Wartawan Republika

Indonesia kini banyak yang berusaha memecah belah, dengan hoaks dan ujaran kebencian.

Negeri berjuluk “Sepotong surga yang Tuhan turunkan ke dunia” itu bernama Indonesia. Negeri yang sangat indah dan kaya raya. Sumber daya alamnya melimpah ruah di darat maupun di laut. Negeri dengan mega biodiversity terbesar kedua di dunia setelah Brazil.

Indonesia merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia. Garis pantainya  terpanjang kedua di dunia (99.149 km). Wilayah Indonesia didominasi laut yakni 5,8 juta km2  (75 persen dari total luas wilayah). Adapun luas daratnya adalah 1,9 juta km2 (25 persen dari total luas wilayah).

Indonesia memiliki 17.504 pulau yang  terdaftar di PBB. Dari jumlah tersebut, yang  sudah bernama dan berkoordinat 14.572 pulau.

Sebagai negara ber-Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia dihuni oleh 1.331 kelompok suku (data Badan Pusat Statistik, Sensus Penduduk 2010). Mereka berbicara dalam 652 bahasa daerah yang berbeda (data dari Badan Bahasa).

Posisi geoekonomi dan geopolitik Indonesia sangat strategis. Data UNCTAD (2012) menyebutkan, sebanyak 45 persen dari seluruh komoditas dan  produk dengan nilai 14 triliun dolar AS per tahun dikapalkan melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia).

Jumlah penduduk Indonesia saat ini 265 juta orang (terbesar keempat di dunia), dengan jumlah kelas menengah yang terus bertambah. Kementerian Perencanaan Pembangunan/Bappenas menyebut, pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.

Baca juga Alasan di Balik Sebuah Pemberian Maaf

Namun, belakangan ini surga yang Tuhan titipkan itu ada yang berusaha merobeknya.  Caranya antara lain dengan membanjiri dunia maya dengan informasi hoaks (bohong) dan ujaran kebencian. Bagi orang-orang yang kritis dan hati-hati, mungkin tidak gampang termakan oleh postingan hoaks tersebut.

Namun bagi sebagian besar yang lainnya, mereka menganggap postingan itu sebagai hal yang faktual. Bahkan, mereka tak segan-segan untuk meneruskannya kepada orang lain, terutama di grup media sosialnya masing-masing.

Dalam beberapa waktu belakangan, hoaks kian merusak sendi-sendi harmoni sosial masyarakat Indonesia. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mencatat, sepanjang 2019 ini tercatat hampir lebih dari 100 hoaks tercipta setiap bulannya.

Ironisnya, beberapa ibu rumah tangga bahkan sampai ditangkap polisi karena menyebarkan hoaks di media sosial. Sementara, anak muda cenderung diam saat hoaks mendera, padahal anak mudalah yang paling mengerti dunia digital.

Atas dasar itulah Mafindo menginisiasi pem buatan serial video Keluarga Anti Hoaks berkonsep action superhero. Ada figur Papa, Mama Anti, Fina, dan Doni yang akan beraksi melawan kekuatan penyebar hoaks.

“Kami ingin mengembalikan esensi keluarga sebagai satu kesatuan yang me lawan hoaks-hoaks yang berseliweran,” kata Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho dalam konferensi pers program Stop Hoaks Indonesia, di Jakarta, belum lama ini.

“Kami ingin mengembalikan esensi keluarga sebagai satu kesatuan yang me lawan hoaks-hoaks yang berseliweran.”

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menyebut, kemajuan ilmu dan teknologi hendaknya dijadikan sebagai sarana untuk memperkokoh perdamaian dan kesatuan bangsa. “Mari kita ambil pelajaran atas peristiwa ‘Arab Spring’ dan banyak peristiwa lain. Jangan gegara tidak bijak menggunakan medsos lalu terjadi perang saudara,” lanjutnya.

Menurutnya, Aksi menebar fitnah, hate speech atau ujaran kebencian, dan berita bohong atau hoaks sama artinya dengan merusak harmoni sosial. Pada waktunya, hal ini akan berlanjut pada perpecahan umat dan memicu konflik yang tak berkesudahan. Ia menyebut, hal ini merupakan suatu hal yang sangat bertentangan dengan ajaran agama.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas mengharapkan media sosial bisa dijadikan  agen perubahan. “Sebaiknya media sosial digunakan untuk tumbuh dan berkembangnya anak-anak bangsa menjadi bangsa yang produktif dan kreatif serta tangguh dan tegar dalam menghadapi segala bentuk tantangan,” ujar dia.

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia per April 2019 mencapai lebih dari 171,17 juta jiwa (64,8 persen dari total penduduk Indonesia sebanyak 264 juta jiwa). Berdasarkan hasil riset  Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019, pengguna media sosial  di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56 persen dari total populasi. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48 persen dari populasi.

Konten positif

Apa yang bisa kita lakukan dengan media sosial kita untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta? Banyak sekali. Pertama, setiap pagi, memposting hal-hal positif melalui aplikasi medsos kita, seperti FB, WA Group, Instagram dan lainnya.

Misalnya berupa doa, ucapan selamat pagi, kutipan buku, kutipan ucapan tokoh yang menginspirasi, kutipan ayat dari Kitab Suci, kutipan hadis nabi, pengalaman berkesan atau menginspirasi. Awali pagi hari kita dan orang-orang yang terhubung dengan kita dengan hal-hal positif, membangkitkan optimisme, membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa, maupun sesama manusia.

Pagi hari kita terlalu berharga untuk memposting keluhan, pesimisme, keburukan orang lain, apalagi hoaks dan ujaran kebencian. Kedua, setiap kali membaca buku –baik fiksi maupun nonfiksi– koran, majalah, buletin dan lain-lain, tandai hal-hal yang penting, menarik, menginspirasi. Kemudian kutip dan posting di medsos kita, misalnya sekali dalam sehari. Bisa pagi hari, ataupun pada waktu-waktu yang lain.

Baca juga Menghentikan Spiral Terorisme

Ketiga, kalau ada ucapan tokoh (pemimpin negara, pemimpin agama, tokoh-tokoh milenial) yang menarik dan menginspirasi, kutiplah dan posting di medsos kita. Keempat, kalau kita punya lontaran ide-ide positif, postinglah di medsos kita. Misalnya jangan pernah takut gagal dalam berbisnis, semua pebisnis sukses pasti pernah mengalami kegagalan.

Kelima, setiap kali mengalami hal-hal yang menginspirasi dalam hidup, bagikanlah melalui medsos kita. Misalnya bertemu seorang kakek tua berusia 70 tahun yang berjualan tisu, karena tidak mau hidup bergantung kepada anak-anaknya; pemulung yang menabung untuk pergi haji; tukang nasi uduk yang mengasuh anak-anak yatim; anak tukang bubur yang berhasil meraih beasiswa S2 dan S3 di perguruan tinggi negeri; dan seorang preman atau anak jalanan  membantu seorang nenek menyeberang jalan.

Keenam, setiap kali mengalami hal-hal negatif, maka ambil hikmahnya, dan hikmah itulah yang diposting dalam sosmed kita. Misalnya, motor kita disenggol anak kecil (siswa SMP) yang pergi ke sekolah mengendarai sepeda motor. Hikmahnya adalah orang tua harus memperhatikan kapan usia anak boleh naik motor. Bisa juga dikaitkan dengan zonasi dalam pendidikan.

Ketujuh, kalau mendapatkan kiriman hal-hal yang negatif (hoaks dan ujaran kebencian) melalui medsos kita, setop di kita. Jangan lanjutkan kepada orang lain.

Begitu pula, kalau mendapatkan postingan yang meragukan kebenarannya, coba cek dulu. Untuk cek kebenaran, masyarakat bisa memverifikasi melalui laman Jaringan Pemberitaan Pemerintah (JPP) Kemenkominfo. Jadi, jangan langsung percaya apalagi membagikannya.

Filosofi yang penting kita pegang adalah, kita menyetop postingan negatif yang mampir di medsos kita dan menjauhkan diri dari memosting hal-hal yang negatif (hoaks dan ujaran kebencian), bukan karena kita takut sanksi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hal itu kita lakukan semata-mata untuk keselamatan diri kita maupun bangsa Indonesia  secara keseluruhan.

Seperti halnya kita mengenakan helm saat naik sepeda motor. Hal itu kita lakukan bukan karena takut ditilang oleh polisi. Kita memakai helm, untuk melindungi diri kita agar terhindar dari bahaya.

Begitu pula, kita menghindarkan diri kita dari naik motor maupun mobil secara ugal-ugalan bukan karena takut polisi. Akan tetapi, agar diri kita selamat dan orang lain juga selamat. Jangan sampai kita mencelakan diri kita sendiri maupun orang lain.

Baca juga Melindungi Anak dari Kekerasan Terorisme

Penulis yakin, tak ada agama yang mengajarkan kebencian, hoaks apalagi sampai menjurus fitnah. Dalam agama Islam yang penulis yakini, ajarannya sangat jelas: berbohong, ujaran kebencian dan fitnah itu dilarang.

Menarik sekali ungkapan Ustaz Erick Yusuf, dai muda yang mengaku galau terhadap banjirnya hoaks dan selalu berharap seluruh komponen bangsa Indonesia bersatu.  “Kita bisa menggunakan medsos untuk dakwah, untuk keperluan menebarkan segala sesuatu yang baik-baik, sharing ilmu yang bermanfaat dan lain-lain. Dengan cara itu,  insya Allah medsos kita, HP  kita jadi kunci kendaraan yang akan mengantarkan kita ke surga. Tapi sebaliknya hati-hati, kalau medsos tersebut kita gunakan untuk ghibah, status-status yang jelek, bahkan namimah, fitnah dan lain-lain, kita akan memplesetkan diri kita sendiri ke neraka dengan medsos  tersebut,” ujarnya saat diwawancarai Republika.co.id, pekan lalu.

Karenanya, kata Erick Yusuf, tepat sekali pesan Nabi Muhammad SAW, “Kalau kamu tidak bisa mengatakan sesuatu yang baik, maka diamlah.”  “Kalau kamu tidak bisa memposting hal-hal yang baik, ya sudah enggak usah diposting. Jaga jempol kamu. Kalau zaman dulu, lisan bisa memplesetkan kita. Sekarang, jempol yang bisa memplesetkan kita. Ingat, hati-hati, setiap yang kita posting akan dihitung oleh Allah. Kalau baik, akan kembali kepada kita. Kalau buruk, juga akan kembali kepada kita,” tuturnya.

Inilah pesan Ustaz Erick Yusuf, “Yuk, mari kita bijak bermedsos. Postinglah hal-hal yang baik. Insya Allah jika ini menginspirasi orang untuk melakukan kebaikan, kita juga dapat pahalanya. Turut menjaga bangsa dan negara kita. Pokoknya sekecil apa pun langkah yang kita lakukan, misal memposting hal-hal yang baik, memposting hadis-hadis, ayat-ayat yang menginspirasi dan memotivasi, itu sedikit banyak telah mengubah wajah negara kita, jadi adem, lebih saling bisa toleransi dan sebagainya.”

Kalau semua orang Indonesia setiap hari memposting hal-hal positif dan menghindarkan dirinya dari memposting hal-hal negatif, bisa dibayangkan, dalam sehari, jutaan, belasan juta bahkan puluhan juta konten positif menyebar melalui medsos. Dampaknya akan luar biasa dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa kita; mendorong semangat untuk terus berkarya dan meraih prestasi-prestasi terbaik; masyarakat mendapatkan berbagai informasi dan inspirasi positif dalam berbagai bidang; dan tidak kalah pentingnya adalah masyarakat akan bahagia karena hati dan pikirannya dipenuhi oleh hal-hal positif.

Ayo, sahabat, kita bangun bangsa dan negara kita menjadi bangsa dan negara yang bersatu, maju, besar, kuat , berdaulat dan berwibawa di mata dunia. Negeri yang selamanya berjuluk “Sepotong surga yang Tuhan turunkan ke dunia.”

Dan kita semuanya punya andil dengan cara yang sederhana namun sangat strategis, yakni menjadikan upaya memposting hanya hal-hal positif sebagai gaya hidup (life style) kita. Ayo kita lakukan mulai sekarang, sebab nasib Indonesia hari ini dan ke depan ada di ujung jari kita!

Tulisan ini dimuat di Kolom Republika.co.id tanggal 10 September 2019

Baca juga Budaya Dialog dan Perdamaian

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...