HomeOpiniTekad Mewujudkan Santri Sebagai...

Tekad Mewujudkan Santri Sebagai Pelopor Perdamaian Dunia

Oleh Teuku Zulkhairi
Direktur Ma’had Aly Babussalam Al-Hanafiyyah Aceh Utara

Ada keinginan dan tekad yang kuat dari Kementerian Agama untuk membawa santri terlibat totalitas dalam mewujudukan perdamaian global. Hal tersebut antara lain terwujud yaitu dengan pelaksanaan Muktamar Pemikiran Santri Nasional 2019 dengan tema “Santri Mendunia: Tradisi, Eksistensi dan Perdamaian Global” yang berlangsung dari tanggal 28 sampai dengan 30 September 2019 di Ponpes Ash-Shiddiqiyah Jakarta Barat. Dari tema ini dibagi ke dalam dua panel.

Panel pertama dengan judul “Eksistensi Pesantren Dan Perdamaian Dunia” yang menghadirkan Prof Nadirsyah Hosen dari Nahdhatul Ulama (NU) dan Dr Muhbib Abdul Wahab, MA dari Muhammadiyah. Dan panel kedua berjudul “Santri, Tradisi dan Perdamaian Global” yang menghadirkan Dr Oman Fathurrahman, Dr KH Ahmad Zayadi sebagai panelis, serta sejumlah narasumber lainnya.

Kalau ditelusuri secara mendalam, santri dengan pesantren yang mengayominya sejatinya memang memiliki cukup banyak modalitas dalam mewujudkan perdamaian dunia. Tidak salah apabila keseluruhan gaya hidup santri sesungguhnya dapat diaktualisasikan menjadi model ideal kehidupan bangsa Indonesia. Sebagai fakta misalnya, dalam ranah pendidikan, para pakar pendidikan dewasa ini cukup banyak yang merujuk kepada pesantren ketika membicarakan praktek pendidikan karakter. Karena terbukti pesantren mampu menanamkan secara baik pendidikan karakter kepada peserta santri.

Baca juga Peran Santri dalam Membina Perdamaian

Pesantren misalnya dapat begitu kuat menumbuhkan budaya ukhuwah Islamiyah kepada para santri, budaya hidup sederhana, kejujuran dan toleransi, budaya menghargai (ta’zhim) guru, gotong royong, sopan santun dan budaya hidup bermasyarakat. Pesantren betul-betul menjadi sub sistem dalam kehidupan masyarakat di nusantara sebagai wujud hablumminannas. Selain itu, ketika hari ini dunia remaja kita dihadapkan pada tantangan obat-obat terlarang yang dapat merusak kehidupan pribadi mereka dan masa depan bangsa ini, maka dunia pesantren terbukti cukup steril dari peredaran narkoba.

Jika demikian, maka dalam konteks internal bangsa Indonesia, sudah seharusnya pesantren sebagai institusi pendidikan dan gaya hidup santrinya ini menjadi rule model bagi kehidupan bangsa Indonesia, utamanya dalam konteks penataan pendidikan. Artinya, bangsa ini perlu mendapatkan rumusan hidup yang merujuk kepada gaya hidup santri dan pesantren yang mengayominya. Setelah dapat menjadikan gaya hidup santri sebagai model ideal kehidupan bangsa Indonesia, maka setelah itu kita akan dapat terjun lebih melibatkan diri dalam pentas perdamaian dunia.

Karena itu, jika para pemateri dalam muktamar ini banyak mengupas tentang upaya mewujudkan perdamaian dunia dengan menjadikan santri dan pesantren sebagai pionernya, maka hal tersebut adalah sebuah keharusan dan memang sudah saatnya. Untuk tujuan tersebut, maka kelahiran UU Pesantren semakin menemukan momentumnya. Artinya, upaya untuk menginternasionalkan pesan-pesan perdamaian kaum santri ke depan akan semakin mendapatkan tempatnya.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI, Dr KH Ahmad Zayadi dalam paparan materinya menyampaikan, lahirnya UU Pesantren ini tujuan utamanya adalah mewujudkan kembali keaslian pesantren. Pesantren di nusantara menurutnya secara historis telah menjalankan tiga fungsinya sekaligus, yaitu mengembangkan fungsi pendidikan, fungsi dakwah dan fungsi pemberdayaan masyarakat. Jadi RUU Pesantren yang baru dilahirkan beberapa waktu lalu ini ingin mengembalikan fungsi pesantren sebagai sejatinya pesantren.

Baca juga Optimalkan Potensi Diri, Tumbuhkan Ketangguhan

Masih menurut menurut KH Ahmad Zayadi, upaya-upaya menyebarkan nilai-nilai perdamaian kepada masyarakat global saat ini, terus menerus dilakukan, baik oleh pesantren sebagai institusi yang otonom dan juga oleh Kemenag sebagai lembaga negara. Upaya ini dilakukan antara lain misalnya dengan mendatangkan calon pelajar dari berbagai negara untuk “nyantri” di pesantren-pesantren di Indonesia.

Saat ini, kata Kiai Ahmad Zayadi, terdapat sekitar 1600 santri internasional dari Timur Tengah, seperti Sudan, Yaman, Afghanistan dan Pakistan yang belajar di Indonesia. Bahkan, menurut KH Ahmad Zayadi, saat itu juga sedang dalam proses pengurusan Kitas (izin tinggal) bagi sejumlah calon santri dari Arab Saudi.

Sesungguhnya, upaya ini dapat menjadi wujud konkret untuk mewujudkan peran Indonesia sebagai pelopor dalam mewujudkan perdamaian dunia. Apalagi, menurut Teuku Faizasyah dalam kesempatan yang sama, Indonesia telah dipandang cukup mewakili citra Islam yang moderat yang senantiasa mengedepankan dialog.

Sementara itu, jaringan santri sendiri, kata Teuku Faizasyah, terbukti sangat luas sehingga dapat menjadi modalitas penting mewujudkan santri sebagai pelopor perdamaian dunia. Dan jaringan santri dewasa ini tidak hanya di level Indonesia, akan tetapi juga level mancanegara.

“Dalam menyelesaikan konflik di Afghanistan, kita melihat ada nilai-nilai saling merangkul pada Nahdhatul Ulama. Saat ini ada beberapa cabang NU di Afghanistan, “ kata Teuku Faizasyah.

Baca juga Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Konsepsi yang tidak kalah menarik disampaikan Dr Muhbib Abdul Wahab, MA dari Muhammadiyah. Kata beliau, di semua pesantren setidaknya memiliki lima spirit sebagai modal mewujudkan perdamaian dunia.

Pertama, Tafaqquh fiddin, kajian kitab dan buku di pesantren. Kedua, Washatiyatul Islam. Islam yang tidak hanya dapat menengahi antara budaya yang agak keras pada agama yahudi dan budaya yang agak lembek pada agama Kristen, tapi juga dapat menjinakkan kerasnya orang-orang Arab pra Islam.

Islam yang dipelajari di pesantren adalah Islam yang tidak ekstrim kanan dan juga tidak ekstrim kiri. Modalitas ketiga kata beliau adalah, turast atau kitab-kitab klasik. Keempat, kultur dan budaya pesantren adalah Islam yang lues dan luas, tidak kaku. Di pesantren senantiasa dibiasakan untuk berpendapat meskipun berbeda. Dan kelima, yaitu pelibatan figur ulama untuk kampanye perdamaian.

Paparan Dr Muhbib Abdul Wahab ini cukup memberikan penjelasan luas tentang modalitas penting pesantren untuk terlibat dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Dengan sejumlah modalitas tersebut, pesantren telah berhasil membentuk gaya dan pola hidup para santrinya penuh dengan nilai-nilai keluhuran. Santri dengan pesantren yang mengayominya telah menjalankan model kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai luhur, saat di mana sebagai bangsa kita kehilangan keteladanan dalam bagaaimana kehidupan sehari-hari.

Baca juga Indonesia di Ujung Jari Kita

Kehidupan santri yang dididik dengan aturan yang ketat dan menjadikan kitab kuning sebagai referensi pembelajaran mereka, telah menciptakan model kehidupan yang cukup ideal bagi bangsa. Seperti kesopanan, hidup hemat (tidak konsumtif), kesederhanaan, budaya ukhuwah Islamiyah dan silaturrahmi, semangat kebersamaan dan gotong royong, kejujuran dan seterusnya.

Selain itu, santri juga senantiasa dapat terjaga atau dijaga dari pengaruh negatif globalisasi, seperti narkoba dan juga pengunaan smartphone untuk tujuan yang melalaikan seperti game-game online yang menurut para psikolog dapat mengganggu kesehatan mental remaja. Dan tentu saja, para santri juga senantiasa menjaga hubungan dengan Allah SWT (hablumminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas).

Karena itu, saat hari ini kita melihat bangsa kita menghadapi segudang permasalahannya, maka tidak berlebihan apabila kita berharap agar gaya hidup para santri di pesantren dapat diinternalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat dimana kita menghadapi rentetan problematika berbangsa. Dengan ini kita berharap agar bangsa kita semakin mampu berperan dalam skala global untuk mewujudkan tatanan dunia yang damai dan beradab.

Hal ini dapat diawali dengan merumuskan konsep pendidikan bagi anak bangsa yang mengadopasi nilai-nilai luhur yang diperagakan oleh para santri di pesantren. Maka di sinilah letak pentingnya kelahiran UU Pesantren yang kita harapkan dapat semakin mendekatkan kita pada tujuan tersebut. Insya Allah.

Tulisan ini dimuat di Kolom Republika.co.id tanggal 2 Oktober 2019

Baca juga Kisah Korban Inspirasi Ketangguhan Kalangan Muda

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...